Sebanyak 11 kabupaten di Jawa Timur sudah menetapkan status darurat kekeringan saat musim kemarau masih berjalan dan puncaknya belum tiba. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasokan air bersih di sejumlah wilayah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat kabupaten yang telah mengeluarkan status tersebut meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, Blitar, Pasuruan, Trenggalek, Gresik, Malang, dan Jember. Sebagian daerah di antaranya menetapkan status siaga darurat hingga September.
Wilayah terdampak terus meluas
BPBD Jatim juga memantau kabupaten lain yang belum menetapkan status serupa karena prakiraan BMKG masih menunjukkan Juli berada di tengah musim kemarau. Artinya, ancaman kekeringan dinilai belum mencapai titik terberatnya.
Ketua Tim Pusat Data dan Informasi BPBD Jatim, Muhammad Amrul, mengatakan penetapan status itu dilakukan masing-masing kabupaten dengan alasan yang berbeda. Namun, faktor yang paling dominan adalah luasnya area yang berpotensi mengalami kekeringan.
| Kabupaten | Status | Keterangan Waktu |
|---|---|---|
| Bondowoso | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Lamongan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Banyuwangi | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Lumajang | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Bangkalan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Blitar | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Pasuruan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Trenggalek | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Gresik | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Malang | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Jember | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
Dropping air bersih masih berlangsung
Hingga Selasa 7 Juli, bantuan air bersih sudah disalurkan ke 45 desa di 6 kabupaten. Total distribusinya mencapai 594 ribu liter air bersih.
Wilayah terdampak yang dipantau BPBD Jatim mencapai 815 desa di 222 kecamatan yang tersebar di 26 kabupaten. Sebagian besar wilayah itu merupakan daerah tadah hujan dengan infrastruktur air bersih permanen yang minim.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menyebut kewaspadaan terus ditingkatkan setelah BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung dari April hingga November 2026. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
Gatot juga menyoroti prediksi bahwa fenomena El Nino tahun ini lebih kuat atau ekstrem. Ia menyebut dampaknya berupa suhu yang lebih panas dan periode kemarau yang lebih panjang, sehingga risiko kekeringan signifikan ikut meningkat.
Dengan kondisi tersebut, kebutuhan air bersih di sejumlah desa diperkirakan masih akan terus naik selama musim kemarau belum berakhir. Pemerintah daerah dan BPBD Jatim pun masih menjaga distribusi bantuan agar wilayah yang paling terdampak tetap mendapat pasokan air.
