Saat Risiko Global Bertahan, DBS Pilih Saham Asia dan Emas untuk Ditambah

Author: Redaksi Android62

PT Bank DBS Indonesia menyarankan investor meningkatkan alokasi pada saham Asia di luar Jepang dan emas pada kuartal III-2026. Rekomendasi itu muncul ketika ketidakpastian geopolitik, arah suku bunga, dan gejolak pasar keuangan masih menekan keputusan investasi global.

DBS menilai kedua aset tersebut dapat membantu membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi dalam kondisi pasar yang berpotensi tetap bergejolak pada semester II-2026. Peluang investasi dinilai masih terbuka, tetapi pemilihan aset dan penyebaran risiko menjadi semakin penting.

Emas untuk Diversifikasi

Emas menjadi salah satu aset yang direkomendasikan untuk ditambah karena dipandang memiliki fungsi diversifikasi dan perlindungan nilai. Prospek jangka panjang logam mulia ini, menurut DBS, didukung oleh risiko geopolitik, tekanan inflasi, serta tren dedolarisasi global.

Rekomendasi saham Asia di luar Jepang juga mencerminkan pandangan DBS atas lanskap ekonomi dunia yang semakin multipolar. Dalam situasi tersebut, ketergantungan pada satu pasar atau satu kelompok aset dinilai dapat meningkatkan risiko portofolio.

Selain emas dan saham Asia di luar Jepang, DBS memasukkan aset swasta serta dana lindung nilai ke dalam kelompok aset yang layak ditingkatkan. Obligasi korporasi di negara maju juga memperoleh rekomendasi penambahan eksposur.

Kategori Aset Arah Alokasi DBS Rincian
Saham dan aset alternatif Tingkatkan Saham Asia di luar Jepang, emas, aset swasta, dana lindung nilai
Obligasi Tingkatkan Obligasi korporasi negara maju
Aset pasar utama Netral Saham global, saham Amerika Serikat, saham Jepang, obligasi pemerintah negara maju
Aset yang dikurangi Kurangi Saham Eropa, obligasi pasar berkembang, kas

Aset yang Dipertahankan dan Dikurangi

Untuk kelompok aset utama, DBS mempertahankan posisi netral pada saham global, saham Amerika Serikat, saham Jepang, serta obligasi pemerintah negara maju. Sikap netral itu menandakan bank belum mendorong perubahan alokasi yang lebih agresif pada kelompok aset tersebut.

Di sisi lain, DBS menyarankan pengurangan eksposur terhadap saham Eropa, obligasi pasar berkembang, dan kas. Arah alokasi ini menjadi bagian dari pandangan Chief Investment Office DBS untuk kuartal III-2026.

Finansial.bisnis.com melaporkan pandangan investasi itu disampaikan dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk A New Lens on a Multipolar World. Forum tersebut membahas prospek ekonomi global serta pengaruh perubahan geopolitik terhadap strategi investasi.

Acara tersebut menghadirkan Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia Dino Patti Djalal dan Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya. Sejumlah pakar, mitra manajer investasi, serta jajaran ahli Bank DBS Indonesia juga terlibat dalam diskusi.

Pertumbuhan Bisnis Pengelolaan Kekayaan

Di tengah penyampaian strategi alokasi investasi, DBS Indonesia mencatat pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan hingga semester I-2026. Aset kelolaan DBS Treasures Private Client meningkat 13% secara tahunan.

Indikator DBS Treasures Private Client Pertumbuhan Tahunan
Total aset kelolaan 13%
Rata-rata aset kelolaan per nasabah 15%
Total pendapatan 34%
Pendapatan biaya investasi 65%
Laba bersih setelah pajak 24%

Rata-rata aset kelolaan per nasabah bertumbuh 15%, sementara total pendapatan naik 34% secara tahunan. Kenaikan pendapatan tersebut didorong pertumbuhan pendapatan biaya investasi sebesar 65%.

Laba bersih setelah pajak segmen tersebut juga meningkat 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. DBS Indonesia turut mengembangkan layanan DBS Treasures Private Client dengan penekanan pada pendampingan investasi personal, pengelolaan kekayaan, dan perencanaan suksesi keluarga.

Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyatakan pengelolaan kekayaan kini membutuhkan solusi yang semakin personal dan mencakup banyak aspek. Bank juga membentuk Wealth Management Institute untuk meningkatkan kompetensi relationship manager dalam menghadapi volatilitas pasar, solusi bisnis, pensiun, dan perencanaan suksesi.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru