Delegasi Trump Diminta Tinggalkan Suvenir China, Protokol Keamanan Diperketat di Air Force One

Di bawah pengawasan ketat saat delegasi Amerika Serikat bersiap meninggalkan Beijing, semua barang yang berkaitan dengan China diminta tidak ikut masuk ke Air Force One. Bukan hanya suvenir kecil yang disingkirkan, tetapi juga ponsel sekali pakai yang dipakai staf selama kunjungan.

Langkah itu membuat momen keberangkatan delegasi Donald Trump terlihat jauh lebih ketat daripada perjalanan diplomatik biasa. Di ujung tangga pesawat, barang-barang yang dianggap tidak boleh dibawa pulang dibuang sebelum pintu pesawat ditutup.

Menurut laporan jurnalis yang ikut dalam tim media kepresidenan, setiap penumpang diminta mengosongkan kantong dari atribut apa pun yang berhubungan dengan China. Emily Goodin, koresponden Gedung Putih untuk New York Post, menulis di platform X bahwa sama sekali tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke dalam pesawat.

Aturan itu berlaku untuk seluruh rombongan tanpa pengecualian. Barang yang dibuang mencakup pin, suvenir, tanda pengenal acara, hingga perangkat yang hanya dipakai sementara selama kunjungan.

Pin protokol yang ikut berakhir di tempat sampah

Sebelum perintah pembuangan dijalankan, dokumentasi resmi menunjukkan hampir semua anggota delegasi mengenakan pin khusus di kerah jas mereka. Pin itu menjadi bagian dari tata krama protokol selama agenda diplomatik berlangsung.

Beberapa tokoh yang terlihat mengenakannya antara lain Presiden Donald Trump, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung, serta dua pemimpin perusahaan teknologi, Tim Cook dari Apple dan Jensen Huang dari Nvidia. Namun setelah rangkaian acara selesai, pin yang semula menjadi simbol formal itu ikut dibuang bersama barang lain yang tidak boleh dibawa pulang.

Perubahan status benda-benda kecil itu menunjukkan betapa ketatnya pemisahan antara atribut protokol dan barang bawaan pesawat. Begitu agenda berakhir, benda yang sebelumnya melekat pada acara langsung diperlakukan sebagai barang yang harus ditinggalkan.

Ponsel sekali pakai ikut diperlakukan sebagai risiko

Selain cendera mata, ponsel sekali pakai yang dipakai staf selama berada di China juga ikut disingkirkan. Perangkat itu memang digunakan sebagai bagian dari prosedur standar ketika pejabat Amerika Serikat berkunjung ke negara yang dipandang sebagai rival.

Ponsel tersebut dibeli baru dan hanya dipakai untuk komunikasi mendesak selama kunjungan. Setelah tugas selesai, perangkat itu tidak dibawa kembali ke lingkungan steril Air Force One.

Pemeriksaan seperti ini dimaksudkan untuk menekan risiko peretasan digital sebelum rombongan kembali ke Washington. Dengan cara itu, perangkat yang sudah bersentuhan dengan wilayah lawan tidak ikut terbawa pulang dan menambah potensi ancaman.

Kekhawatiran keamanan yang lebih besar dari sekadar suvenir

Gedung Putih belum memberi komentar resmi terkait momen pembuangan barang tersebut. Meski begitu, para pakar keamanan menilai tindakan itu sejalan dengan perhatian terhadap keselamatan nasional dan kewaspadaan terhadap risiko intelijen.

Amerika Serikat dan sekutu Barat selama ini dikenal sangat berhati-hati terhadap China. Negara itu dipandang memiliki kemampuan intelijen, spionase, dan perang siber yang sangat maju.

Dalam konteks seperti itu, hadiah atau suvenir diplomatik tidak diperlakukan sebagai benda biasa. Kekhawatiran bahwa cendera mata resmi bisa disisipi alat penyadap kecil juga dianggap masuk akal dalam dunia keamanan.

Di ranah spionase global, penyisipan alat perekam atau pelacak ke dalam cinderamata memang termasuk cara klasik untuk memantau target. Karena itu, pemeriksaan ketat terhadap barang bawaan delegasi menjadi bagian dari langkah pencegahan yang lazim dilakukan.

Momen di bawah tangga Air Force One itu memperlihatkan bagaimana diplomasi dan keamanan berjalan berdampingan dalam satu perjalanan. Di balik pertemuan formal Trump dan Xi Jinping, kewaspadaan terhadap spionase tetap dijaga hingga detik terakhir sebelum pesawat lepas landas.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait