Desa Les Buktikan Wisata Bisa Tumbuh Bersama Alam, dari Garam hingga Terumbu Karang

Author: Redaksi Android62

Desa Les di pesisir Kabupaten Buleleng, Bali Utara, memperlihatkan bahwa wisata dan pelestarian alam dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Melalui pengembangan berbasis komunitas, desa ini kini menjadi contoh bagaimana ekonomi warga, tradisi lokal, dan lingkungan pesisir bisa bergerak bersama.

Kemajuan itu tidak berdiri sendiri. Sejak pendampingan program Desa Sejahtera Astra atau DSA dimulai pada 2024, penguatan di Desa Les menyentuh empat pilar sekaligus, yaitu kewirausahaan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan.

Garam tradisional menjadi penopang utama ekonomi warga

Di tengah pengembangan desa wisata, komoditas garam tradisional tetap menjadi sumber ekonomi yang paling terasa. Garam itu dibuat dengan metode alami warisan turun-temurun, dan dalam sekali panen produksinya mencapai dua hingga tiga ton.

Untuk memperluas pasar, para petani garam menjalin kerja sama dengan BUMDes Giri Segara dan Pemerintah Provinsi Bali. Dari kolaborasi tersebut, serapan pasar garam lokal kini rutin mencapai satu ton per bulan dengan nilai perputaran ekonomi sekitar Rp25 juta.

Dampaknya ikut dirasakan warga. Pendampingan terintegrasi telah menjangkau lebih dari 800 warga lokal, menciptakan puluhan lapangan kerja baru, dan mendorong pendapatan masyarakat naik hingga 25 persen.

Laut dan pantai dijaga agar wisata tetap berkelanjutan

Di sisi lingkungan, masyarakat Desa Les aktif melakukan transplantasi dan konservasi terumbu karang. Upaya ini penting untuk menjaga daya tarik wisata pantai sekaligus mempertahankan kualitas laut yang menopang kehidupan warga.

Pengelolaan sampah juga dibenahi lewat program Les Grow yang berbasis rumah tangga. Sampah organik berupa dedaunan dipilah dari rumah, lalu dikirim ke TPST desa untuk diolah menjadi pupuk kompos.

Pupuk kompos itu tidak hanya dipakai untuk kebun terpadu milik desa, tetapi juga dijual kembali ke pasar. Pola ini membuat pengelolaan sampah ikut membuka sumber pendapatan alternatif.

Anak-anak dipersiapkan menjadi pemandu wisata lokal

Di bidang pendidikan, Desa Les menjalankan program Kelas Alam untuk melatih anak-anak usia sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Program ini membekali mereka dengan kemampuan berbahasa Inggris dan dasar-dasar kepariwisataan.

Pelatihan tersebut diarahkan agar generasi muda desa mampu menjadi pemandu wisata lokal yang dapat melayani wisatawan mancanegara. Dengan cara ini, manfaat pariwisata tidak berhenti pada kunjungan wisatawan, tetapi juga masuk ke ruang keterlibatan anak muda desa.

Kesehatan warga menjadi bagian dari pembangunan desa

Pada pilar kesehatan, kader desa mendampingi warga melalui Posyandu yang aktif serta edukasi kehamilan. Desa juga menjalankan pemberian makanan tambahan secara berkala untuk menekan kasus gizi buruk dan stunting pada anak.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata di Les tidak hanya mengejar kunjungan dan transaksi ekonomi. Kualitas hidup warga tetap ditempatkan sebagai bagian dari keberlanjutan pembangunan desa.

Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, mengatakan, “Astra berharap kolaborasi yang dijalankan melalui Desa Sejahtera Astra tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya desa agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.”

Dengan kombinasi penguatan ekonomi lokal, konservasi alam, dan pelestarian tradisi, Desa Les kemudian dinobatkan sebagai Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata. Pengembangan berbasis potensi lokal di desa ini juga dipandang sebagai contoh nyata penerjemahan target Sustainable Development Goals di tingkat komunitas.

Source: mediaindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru