BCA memperkuat upaya pencegahan stunting dari sisi paling awal dengan menyalurkan perangkat deteksi dini preeklamsia ke Puskesmas Cisompet, Garut, Jawa Barat. Bantuan ini diarahkan untuk membantu tenaga kesehatan mengenali risiko kehamilan lebih cepat, sebelum kondisi ibu maupun janin berkembang menjadi lebih serius.
Langkah tersebut menjadi penting karena preeklamsia dapat berujung pada kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Dua kondisi itu turut berkaitan dengan risiko stunting, sehingga pemeriksaan sejak masa kehamilan dipandang sebagai bagian dari pencegahan yang tidak bisa ditunda.
Perangkat yang diserahkan melalui program Bakti BCA terdiri dari USG, monitor pasien, tablet Android, dan aplikasi Cexup. Dengan dukungan alat tersebut, pemantauan kondisi ibu hamil diharapkan berjalan lebih akurat dan efisien saat tenaga kesehatan menemukan tanda-tanda risiko lebih awal.
Di Garut, bantuan tidak berhenti pada penyerahan alat kesehatan. BCA juga menggelar sosialisasi dan pemeriksaan deteksi dini preeklamsia bagi 31 ibu hamil dari Klinik Bakti Medika Mangga Dua, sehingga peserta mendapat kesempatan menjalani pemeriksaan langsung sekaligus memahami risiko yang perlu diwaspadai selama kehamilan.
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menyatakan bahwa bantuan ini ditujukan untuk membantu identifikasi risiko kehamilan sejak awal. Ia menegaskan bahwa dukungan serupa sudah menjadi bagian dari langkah BCA dalam pencegahan stunting dalam beberapa tahun terakhir.
Widodo juga menyampaikan harapan agar upaya tersebut bisa memberi dampak lebih luas pada keselamatan ibu. Ia mengatakan, “Semoga dengan apa yang kita lakukan bisa menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia.”
Pencegahan stunting dimulai dari hulu
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa keterlibatan BCA dalam isu stunting dijalankan melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Program ini melanjutkan inisiatif seperti “Ayo Cegah Stunting” dan kemitraan strategis dalam program PASTI.
Hera menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Tahap itu mencakup remaja dan kesiapan keluarga, kesehatan ibu selama kehamilan, hingga tumbuh kembang anak setelah lahir.
Menurut Hera, dukungan BCA di Garut diharapkan bisa memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan agar respons terhadap risiko kehamilan berjalan lebih cepat dan tepat. Pendekatan ini sejalan dengan pemahaman bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi oleh asupan gizi setelah anak lahir.
Kondisi ibu saat hamil juga menjadi faktor penting yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak pada tahap berikutnya. Karena itu, deteksi dini preeklamsia dipandang sebagai salah satu titik penting yang dapat membantu mencegah masalah sejak awal.
Hubungan preeklamsia dan risiko stunting
Preeklamsia dikenal sebagai gangguan kehamilan yang dapat memicu berbagai komplikasi. Salah satu dampaknya adalah kelahiran dengan berat badan rendah, yang dalam jangka panjang bisa berujung pada kegagalan pertumbuhan atau stunting pada anak.
Dengan pemantauan yang lebih cepat, intervensi medis bisa dilakukan lebih tepat sasaran sebelum kondisi ibu dan janin memburuk. Karena alasan itu, perangkat deteksi dini dinilai penting untuk membantu layanan kesehatan menjangkau risiko sejak fase awal kehamilan.
BCA menyebut kolaborasi filantropi pada periode 2023 hingga 2025 telah memberikan intervensi gizi kepada 6.070 anak di bawah usia dua tahun. Total komitmen donasi untuk percepatan penurunan stunting juga disebut mencapai 1 juta dollar AS hingga akhir 2026.
Kehadiran bantuan di Garut memperlihatkan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemenuhan gizi anak setelah lahir. Penguatan layanan kesehatan ibu hamil tetap menjadi bagian penting agar risiko pada fase paling awal kehamilan bisa ditekan lebih efektif.







