Di balik tampilannya yang megah, Milano Centrale menyimpan ruang yang pernah dipakai untuk operasi rahasia masa perang. Jalur Binario 21 menjadi salah satu bagian paling penting dari sejarah kelam stasiun ini karena pernah dipakai antara 1943–1945 untuk membawa ribuan tahanan Yahudi dengan gerbong ternak menuju kamp pemusnahan.
Jejak itu kini tidak lagi tersembunyi seperti dulu. Area tersebut telah berubah menjadi Memoriale della Shoah, museum peringatan yang dibuka sejak Januari 2013 untuk menjaga ingatan tentang tragedi yang pernah terjadi di lokasi itu.
Milano Centrale sendiri berdiri sebagai salah satu wajah utama Milan di Piazza Duca d’Aosta, sisi utara pusat kota. Stasiun ini menjadi simpul penting yang setiap minggu dilintasi sekitar 320.000 penumpang, sekaligus menghubungkan perjalanan ke berbagai kota di Italia dan Eropa.
Ruang mewah yang jarang terlihat
Selain bagian yang ramai oleh arus penumpang, stasiun ini juga menyimpan area eksklusif yang tidak banyak diketahui pengunjung. Salah satunya adalah Padiglione Reale atau Paviliun Kerajaan, yang dibangun pada 1931 sebagai ruang tunggu pribadi untuk Raja Vittorio Emanuele III dan keluarganya.
Paviliun itu dirancang Ulisse Stacchini dan terbagi menjadi dua lantai. Di bawah terdapat Ruang Senjata, sedangkan Ruang Kerajaan berada di atas dan terhubung langsung ke peron 21.
Interiornya dibuat sangat mewah dengan marmer mahal, furnitur elegan, patung raja, serta lukisan karya seniman ternama pada masa itu. Di kamar mandi Ruang Kerajaan, satu dari dua cermin besar bahkan berfungsi sebagai pintu rahasia menuju jalur evakuasi darurat dengan tangga logam tersembunyi di baliknya.
Ada pula ruang tunggu khusus dengan lantai bersejarah yang dahulu disiapkan untuk menyambut Adolf Hitler. Ruang ini menjadi salah satu detail yang menunjukkan bagaimana stasiun tersebut pernah bersinggungan dengan kepentingan politik masa lalu.
Arsitektur yang menyerupai monumen
Kemegahan Milano Centrale juga terlihat dari bentuk bangunannya yang sulit disamakan dengan stasiun lain. Arsitekturnya memadukan Art Nouveau, Art Deco, serta elemen kuno Assyria-Lombard dalam satu tampilan yang terasa monumental.
Ukuran fisiknya ikut memperkuat kesan itu. Bangunan ini memiliki lebar 200 meter dan kubah setinggi 72 meter, yang sempat menjadi rekor saat pertama kali dibangun.
Di bagian dalam, suasananya dibuat seperti galeri seni. Lantai mosaik biru, patung makhluk mitologi seperti kuda bersayap dan singa, serta detail dekoratif lain memberi karakter mewah di hampir setiap sudut.
Pembangunan yang panjang dan penuh perubahan
Gagasan untuk membangun stasiun baru ini sudah muncul sejak 1906, ketika Raja Victor Emmanuel III meletakkan batu pertama. Tujuannya adalah menggantikan stasiun lama yang dinilai tidak lagi memadai bagi kota yang terus berkembang.
Enam tahun kemudian, Ulisse Stacchini memenangkan kompetisi desain dengan konsep “Life in Motion.” Namun, pembangunan kemudian tersendat selama belasan tahun karena krisis ekonomi setelah Perang Dunia I.
Proyek ini baru kembali dipercepat pada 1925 di bawah pemerintahan Benito Mussolini. Pada fase itu, salah satu perubahan paling mencolok adalah pemasangan kanopi baja raksasa seluas lebih dari 66.000 meter persegi yang menaungi jalur kereta.
Stasiun ini akhirnya dibuka untuk umum pada 1 Juli 1931. Pada 2006, Milano Centrale juga menjalani renovasi besar senilai 100 juta Euro untuk memperbarui fasilitas tanpa menghapus nilai artistiknya.
Masih menjadi penghubung utama Milan
Hingga sekarang, Milano Centrale tetap menjadi salah satu stasiun tersibuk di Eropa. Setiap hari, sekitar 320.000 penumpang dan 500 perjalanan kereta melintas melalui 24 jalur yang tersedia.
Konektivitasnya mencakup layanan kereta cepat Frecciarossa ke berbagai kota di Italia. Dari sini, akses internasional juga terbuka ke Paris, Zurich, dan Munich.
Hubungan ke bandara pun dibuat langsung melalui Malpensa Express yang terhubung ke Bandara Milan-Malpensa. Untuk menjaga kelancaran aktivitas, area stasiun dilengkapi sistem keamanan ketat serta ruang tunggu yang lebih bersih dan teratur.
Di area rel bagian utara, masih ada sisa jalur melingkar bersejarah yang dulu dipakai agar kereta bisa berputar arah. Jejak kecil itu mengingatkan bahwa Milano Centrale bukan hanya bangunan transportasi, tetapi juga hasil perencanaan besar yang meninggalkan lapisan sejarah, politik, dan kemanusiaan dalam satu tempat.
Source: www.idntimes.com






