Di tengah pasar saham yang masih bergejolak, emiten Pertamina Group tetap terlihat tahan banting karena ditopang bisnis yang defensif. Sejumlah saham di bawah naungan perusahaan energi pelat merah itu masih mampu menjaga daya tariknya meski sentimen investor sedang tertekan.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi persepsi risiko global dan domestik. Menurut dia, fluktuasi harga saham tidak otomatis mencerminkan melemahnya fundamental internal perusahaan.
Kinerja operasional tetap menjadi penyangga
Baron menegaskan, kekuatan utama emiten Pertamina Group ada pada kinerja operasional yang masih solid. Selain itu, peran strategis mereka dalam menjaga ketahanan energi nasional membuat keberadaan bisnis ini tetap relevan di tengah gejolak pasar.
Di saat pasar modal bergerak tidak stabil, perhatian investor tidak hanya tertuju pada pergerakan saham. Kinerja operasional perusahaan dan kontribusinya terhadap kebutuhan energi nasional ikut menjadi sorotan penting.
Sejumlah emiten masih menunjukkan resiliensi
Beberapa nama anak usaha Pertamina yang tercatat di bursa masih dinilai mampu bertahan ketika Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berada dalam tekanan. Nama yang disebut antara lain PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Tugu Insurance Tbk (TUGU).
Karakter sektor energi yang defensif ikut membantu menjaga daya tahan emiten-emiten tersebut. Bisnis yang relatif stabil membuat sektor ini lebih siap menghadapi sentimen pasar yang melemah.
Fokus ke investor dan pertumbuhan jangka panjang
Di tengah volatilitas yang masih tinggi, Pertamina juga terus memperkuat komunikasi kepada pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan agar pasar memahami prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan secara lebih utuh.
Baron mengatakan perusahaan memperkuat komunikasi strategis kepada investor. Pertamina ingin pasar melihat kekuatan fundamental dan strategi pertumbuhan yang dijalankan Grup Pertamina.
Interaksi dengan analis pasar modal juga ditingkatkan untuk memperluas basis investor. Upaya ini sekaligus membantu penyampaian arah bisnis perusahaan agar lebih jelas di tengah sentimen yang berubah-ubah.
Bisnis inti jalan, transisi energi ikut dipercepat
Pertamina Group tetap menjalankan strategi dual growth dengan mempertahankan fokus pada bisnis inti. Pada saat yang sama, perusahaan mempercepat transisi ke energi rendah karbon.
Arah tersebut sejalan dengan target net zero emission 2060. Dengan kombinasi bisnis inti yang kuat dan agenda energi bersih, Pertamina Group berupaya menjaga resiliensi saat pasar saham masih bergerak fluktuatif.
