Di Tengah Perang Timur Tengah, Korut Makin Ngebut Perkuat Senjata Nuklir

Author: Redaksi Android62

Korea Utara kembali menaikkan tensi lewat rangkaian uji coba rudal yang berlangsung di saat perhatian Amerika Serikat tersedot ke konflik Timur Tengah. Dalam pembacaan sejumlah analis, langkah ini bukan sekadar demonstrasi militer, tetapi juga sinyal bahwa Pyongyang ingin menunjukkan program nuklirnya tetap berjalan dan sulit dibalikkan.

Pesan yang ingin ditegaskan Pyongyang

Deretan peluncuran itu membuat Korea Utara kembali menjadi sorotan karena waktunya beririsan dengan situasi global yang sedang tegang. Data AFP mencatat Pyongyang telah meluncurkan rudal lima kali sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, dengan empat di antaranya terjadi hingga April.

Frekuensi tersebut dinilai menunjukkan tempo kebijakan yang lebih agresif dibanding periode sebelumnya. Di saat yang sama, Korea Utara juga terus memperkuat retorika terhadap Korea Selatan dan mempererat hubungan dengan Rusia, dua faktor yang ikut membentuk kalkulasi strategis Pyongyang.

Status nuklir yang disebut sudah permanen

Dorongan politik di balik langkah itu sudah ditegaskan Kim Jong Un dalam Kongres Partai Buruh pada Februari. Dalam forum lima tahunan tersebut, Kim menyebut posisi Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir telah “dikonsolidasikan” menjadi “tak terbalikkan dan permanen”.

Pernyataan itu menjadi landasan penting bagi gelombang uji coba yang menyusul. Dari sudut pandang Pyongyang, penguatan kemampuan rudal dan nuklir tampak ingin diposisikan sebagai kenyataan strategis, bukan proyek yang bisa dihentikan lewat tekanan luar.

Peluncuran yang dilakukan juga tidak terbatas pada satu jenis senjata. Korea Utara menguji rudal balistik yang dikenai sanksi, rudal jelajah anti-kapal, serta amunisi klaster, yang menurut para analis menunjukkan upaya mengembangkan kemampuan teknis sekaligus memperluas opsi senjata dwiguna.

Membaca peluang di tengah lemahnya norma internasional

Lim Eul-chul, pakar Korea Utara dari Kyungnam University, menilai situasi keamanan dunia kini menyerupai “zona tanpa hukum” karena norma internasional tidak lagi bekerja efektif. Dalam pandangan itu, Pyongyang melihat ruang yang terbuka untuk mempercepat pembangunan persenjataan nuklirnya.

Lim juga menilai Korea Utara sedang berusaha mendorong pencegahan ofensif sambil mengembangkan kekuatan nuklir dan konvensional secara paralel. Ia menyoroti adanya indikasi bahwa Pyongyang ingin menunjukkan kemampuan memasang hulu ledak nuklir miniatur serta melakukan “serangan jenuh” dengan jumlah proyektil besar agar sistem intersepsi lawan kewalahan.

Pembacaan ini membuat setiap peluncuran rudal punya makna lebih luas dari sekadar uji teknis. Bagi Korea Utara, unjuk kekuatan tersebut sekaligus bisa dibaca sebagai pesan bahwa tekanan eksternal tidak cukup untuk mengubah arah kebijakan pertahanannya.

Washington, Iran, dan pembeda yang ingin ditonjolkan

Korea Utara juga menanggapi serangan AS terhadap Iran dengan kecaman keras. Pyongyang menyebut tindakan itu sebagai “gaya gangster”, meski tidak ada kepastian bahwa Korea Utara memberi bantuan senjata kepada Teheran.

Menariknya, Pyongyang tidak menyerang Donald Trump secara langsung, meski muncul spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan di tengah agenda diplomatik yang sedang dibahas. Hong Min, peneliti senior di Korea Institute for National Unification, menilai Korea Utara ingin menyampaikan pesan bahwa posisi deterenya berbeda dari Iran.

Dalam kerangka itu, peluncuran rudal bukan hanya sinyal militer, tetapi juga cara untuk membangun pembeda politik. Korea Utara ingin menunjukkan bahwa pendekatan tekanan terhadap Pyongyang tidak akan menghasilkan perubahan arah seperti yang diharapkan lawan-lawannya.

Rusia menjadi penopang yang makin penting

Kedekatan Korea Utara dengan Rusia ikut memperkuat kepercayaan diri Pyongyang. Lim menjelaskan bahwa hubungan tersebut memberi bantuan ekonomi dan teknis yang penting, sebagai imbalan atas dukungan Korea Utara yang disebut mengirim ribuan tentara untuk membantu invasi Rusia ke Ukraina.

Hubungan kedua negara juga terlihat dalam serangkaian pertemuan tingkat tinggi. Moskow dan Pyongyang merayakan tersambungnya jembatan jalan pertama, dimulainya pembangunan rumah sakit “persahabatan”, dan peresmian kompleks peringatan militer Korea Utara.

Sejumlah pejabat Rusia juga tercatat berkunjung ke Korut, termasuk dari kementerian pertahanan, dalam negeri, sumber daya alam, kesehatan, hingga pimpinan parlemen dan kantor berita TASS. Fyodor Tertitskiy, sarjana kelahiran Rusia di Korea University Seoul, mengatakan Korea Utara termasuk sedikit negara yang tidak takut beroperasi di wilayah Ukraina yang diduduki.

Momentum yang belum ingin dilepas Pyongyang

Perang di Timur Tengah memberi keuntungan tak langsung karena perhatian Amerika Serikat terpecah ke banyak arah. Dalam kondisi seperti ini, Korea Utara tampak berusaha mempertahankan momentum agar program nuklirnya terus dipandang sebagai fakta strategis yang tak bisa dihapus dari peta keamanan kawasan.

Dimensi kerja sama dengan Rusia juga merembet ke ranah budaya dan ekonomi, mulai dari pameran seni Korea Utara di Rusia hingga keberadaan restoran Korea Utara di Moskow. Selama kebutuhan Moskow atas amunisi tetap tinggi, Pyongyang tampaknya akan terus memakai situasi global yang terbuka ini untuk menegaskan bahwa kekuatan nuklir dan militernya tetap bergerak maju tanpa mundur.

Berita Terbaru