Diet Mediterania disebut berkaitan dengan risiko strok yang lebih rendah, bukan hanya dengan kesehatan jantung atau pengendalian berat badan. Sejumlah penelitian yang dijelaskan oleh Febe Christianto, Dokter Spesialis Gizi RSUP Dr. Kariadi, menunjukkan risiko strok sekitar 18% lebih rendah pada orang yang menjalankan pola makan ini.
Temuan itu menjadi penting karena perlindungannya tidak hanya terkait dengan satu jenis strok. Efek yang disebutkan mencakup strok iskemik akibat penyumbatan maupun strok hemoragik yang dipicu perdarahan.
Apa yang Membuat Pola Makan Ini Menonjol
Diet Mediterania berakar dari kebiasaan makan masyarakat di kawasan Laut Mediterania, seperti Yunani dan Italia. Pola ini menekankan makanan nabati, bahan segar, dan pengurangan pangan olahan sebagai dasar kebiasaan makan jangka panjang.
Febe menjelaskan bahwa fokus utamanya ada pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan polong-polongan. Sumber lemak utama berasal dari minyak zaitun, sedangkan ikan dan makanan laut dianjurkan dikonsumsi secara rutin.
| Kelompok Pangan | Anjuran | Keterangan |
|---|---|---|
| Pangan nabati | Ditekankan | Buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, polong-polongan |
| Lemak utama | Diutamakan | Minyak zaitun |
| Ikan dan makanan laut | Disarankan rutin | Sumber lemak sehat dan omega-3 |
| Produk susu | Boleh, secukupnya | Yogurt dan keju dalam porsi tidak berlebihan |
| Daging merah, makanan olahan, gula rafinasi | Dibatasi | Untuk mengurangi asupan lemak jenuh |
Produk susu seperti yogurt dan keju masih boleh masuk dalam menu, tetapi porsinya perlu dijaga. Sebaliknya, daging merah, makanan olahan, gula rafinasi, dan pangan tinggi lemak jenuh dianjurkan untuk dibatasi.
Manfaatnya Tidak Berdiri Sendiri
Menurut lifestyle.bisnis.com, kekuatan diet Mediterania tidak hanya ada pada susunan menunya, tetapi juga pada cara membentuk kebiasaan makan yang bisa dijalankan dalam jangka panjang. Prinsip utamanya adalah memilih makanan alami, segar, dan minim proses.
Asupan sayur, buah, biji-bijian utuh, minyak zaitun, dan ikan berlemak memberi kontribusi besar pada perlindungan tubuh. Kandungan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan membantu menjaga fungsi pembuluh darah, sementara lemak tak jenuh berperan dalam mengendalikan kadar kolesterol dan peradangan.
Dari sisi itulah diet Mediterania kerap dipandang lebih luas daripada sekadar pola makan sehat harian. Dampaknya menyentuh faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah dan risiko strok.
Tidak Semua Orang Bisa Menjalankannya Begitu Saja
Meski prinsipnya dapat diterapkan banyak orang, Febe mengingatkan bahwa pola makan ini tetap perlu disesuaikan pada kondisi tertentu. Orang dengan penyakit ginjal, alergi kacang-kacangan atau makanan laut, serta kebutuhan gizi khusus sebaiknya tidak menjalankannya secara sembarangan.
Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik disarankan sebelum memulai. Penyesuaian penting dilakukan agar manfaat diet Mediterania tetap sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.
Source: lifestyle.bisnis.com






