Direksi BCA Serempak Tambah Saham Saat Harga Lemah, Valuasi Dinilai Masih Murah

Author: Redaksi Android62

Pembelian saham BBCA oleh jajaran direksi terjadi saat harga saham perusahaan masih berada di bawah tekanan. Aksi ini menjadi sorotan karena dilakukan ketika pasar cenderung berhati-hati, sementara para petinggi bank justru menambah kepemilikan dengan dana pribadi.

Langkah tersebut membuat banyak pelaku pasar menilai ada keyakinan internal bahwa valuasi PT Bank Central Asia Tbk belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan bisnisnya. Di tengah pelemahan harga, pembelian dari dalam perusahaan sering dibaca sebagai tanda bahwa prospek jangka panjang masih dianggap solid.

Pembelian terbesar datang dari beberapa nama sekaligus

Data yang dilansir Money menunjukkan pembelian saham paling besar dilakukan Hendra Lembong dengan nilai Rp 7,93 miliar sepanjang kuartal I-2026. Setelah itu, Wakil Presiden Direktur John Kosasih menambah kepemilikan senilai Rp 4,37 miliar pada Maret 2026.

Aksi serupa juga dilakukan Vera Eve Lim yang membeli saham senilai Rp 3,84 miliar. Santoso turut menambah sekitar Rp 3,46 miliar, memperlihatkan bahwa pembelian tidak datang dari satu orang saja, melainkan dilakukan secara kompak oleh jajaran direksi.

Nama lain yang ikut memperbesar kepemilikan adalah Frenkie Candra Kusuma. Ia tercatat telah mengoleksi saham senilai Rp 2,87 miliar sejak Maret 2025, sedangkan Lianawaty Suwono menambah 300.000 lembar saham dengan nilai sekitar Rp 2,1 miliar pada akhir Januari 2026.

Valuasi BBCA dinilai masih menarik

Di tengah tekanan harga, sebagian pengamat menilai saham BBCA justru sedang berada pada level yang relatif murah. Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebut rasio harga terhadap laba atau PER BBCA berada di sekitar 15 kali, yang menurutnya masih wajar untuk bank besar dengan reputasi efisien dan konsisten mencetak laba.

Rendy juga membandingkan valuasi BBCA dengan Bank Jago (ARTO) yang disebut memiliki PER sekitar 64 kali. Ia menilai kekuatan dana murah atau CASA dan jaringan yang luas tetap menjadi fondasi utama BCA, serta menyebut kondisi pasar saat ini seperti memberikan “diskon besar” pada saham tersebut.

Menurut pandangan itu, bila selisih valuasi mulai disadari pasar, ruang pemulihan harga masih terbuka. Karena itu, pembelian direksi dianggap memperkuat pandangan bahwa tekanan yang terjadi belum tentu mengubah arah jangka panjang perusahaan.

Tekanan asing belum mengubah pandangan jangka panjang

Dari sisi aliran dana, praktisi pasar modal Hans Kwee menilai tekanan jual dari investor asing lebih terkait dengan penyesuaian portofolio global di Indonesia. Ia tidak melihat adanya pelemahan berarti dari sisi fundamental BBCA.

“Ini perusahaan bagus, tapi memang asing sedang jualan karena mengurangi porsi saham Indonesia. Namun dalam jangka panjang kinerjanya tetap kuat dan dana asing akan kembali,” kata Hans. Ia juga menyarankan investor yang ingin memanfaatkan pelemahan harga untuk masuk secara bertahap.

Pandangan itu membuat strategi akumulasi dinilai lebih sesuai bagi investor yang membidik pertumbuhan jangka panjang. Dalam situasi seperti ini, pelemahan harga tidak selalu dibaca sebagai sinyal buruk, melainkan bisa menjadi kesempatan mengumpulkan saham secara bertahap.

Sinyal teknikal belum berbalik arah

Meski ada pembelian dari direksi, gambaran teknikal BBCA masih menunjukkan tekanan. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai tren saham tersebut masih berada dalam fase menurun dan indikator MACD serta stochastic belum memberi sinyal pembalikan yang jelas.

Ia menyebut pergerakan BBCA masih berada di zona downtrend. Namun, Herditya tetap melihat peluang akumulasi pada area tertentu dengan strategi buy on weakness di support 6.175 dan resistance 6.625, dengan target harga di kisaran 6.850 hingga 7.100.

Fundamental kuat tetap menjadi penopang utama

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyoroti kualitas fundamental BCA yang masih terjaga. Ia menekankan rasio kredit bermasalah atau NPL yang rendah, tingkat permodalan atau CAR yang tinggi, serta laba yang stabil sebagai faktor pendukung utama saham ini.

“Dengan permodalan yang kuat (CAR tinggi) dan profitabilitas stabil, BBCA dapat meningkatkan Dividen Payout Ratio (DPR),” kata Nafan. Ia juga mencatat rasio harga terhadap nilai buku atau PBV BBCA berada di 2,9 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis 4–5 kali.

Sebelumnya, saham BBCA sempat bergerak di dekat level tertinggi mendekati Rp 11.000 per lembar sebelum terkoreksi ke posisi saat ini. Di tengah harga yang masih fluktuatif, pembelian direksi, valuasi yang dianggap lebih murah, dan fundamental yang tetap kuat membuat BBCA tetap diperhatikan investor yang mencari stabilitas dan peluang pemulihan.

Berita Terbaru