Bank Mandiri mengambil langkah besar dengan menyiapkan buyback saham senilai maksimal Rp1,17 triliun. Aksi korporasi ini menjadi sorotan karena muncul bersamaan dengan pembagian dividen tunai jumbo kepada pemegang saham.
Keputusan tersebut lahir dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan langsung dibaca pasar sebagai sinyal bahwa emiten bank pelat merah itu masih percaya diri pada prospek usahanya. Di saat yang sama, Bank Mandiri juga berusaha menjaga agar pemberian nilai kepada investor tidak mengganggu ruang pertumbuhan bisnis.
Buyback disiapkan hingga 12 bulan
Rencana pembelian kembali saham itu berlaku paling lama 12 bulan sejak mendapat persetujuan RUPST. Dengan ketentuan tersebut, pelaksanaannya dapat berlangsung hingga 29 April 2027 sesuai penjelasan dalam rapat.
Saham hasil buyback tidak akan langsung dilepas kembali ke pasar. Saham itu akan dicatat sebagai saham treasuri terlebih dahulu sebelum dialihkan melalui program kepemilikan saham untuk karyawan, direksi, dan komisaris non-independen.
Skema tersebut mengikuti ketentuan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Artinya, buyback bukan sekadar aksi korporasi untuk merespons pasar, tetapi juga bisa mendukung program internal yang terkait kepemilikan saham di lingkungan perusahaan.
Manajemen menekankan komitmen pada pertumbuhan
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menilai keputusan RUPST itu menunjukkan keyakinan pemegang saham terhadap fundamental perseroan. Ia juga menyebut langkah tersebut sejalan dengan arah pertumbuhan Bank Mandiri ke depan.
“Hal ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam menghadirkan nilai optimal bagi negara dan seluruh pemegang saham, tanpa mengurangi kapasitas Bank Mandiri untuk terus tumbuh sebagai institusi keuangan nasional berdaya saing global,” ujar Riduan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa manajemen ingin menjaga dua hal sekaligus, yaitu penghargaan kepada investor dan kemampuan ekspansi usaha. Dalam praktik pasar modal, buyback memang kerap dipandang sebagai tanda bahwa manajemen yakin terhadap prospek perusahaan.
Dividen jumbo ikut mencuri perhatian
Selain buyback, perhatian investor juga tertuju pada dividen tunai sebesar Rp44,47 triliun. Nilai itu setara 79 persen dari laba bersih tahun buku 2025, sehingga menegaskan besarnya porsi laba yang dibagikan kepada pemegang saham.
Berdasarkan harga penutupan saham Rp4.430 per saham pada hari RUPST, dividend yield Bank Mandiri tercatat 10,77%. Angka ini disebut sebagai salah satu yang tertinggi di sektor perbankan domestik.
Tingginya dividend yield membuat BMRI tetap menarik bagi investor yang mencari kombinasi pendapatan tunai dan peluang pertumbuhan. Kondisi ini juga memperkuat posisi Bank Mandiri sebagai salah satu saham bank besar yang konsisten memberi imbal hasil tinggi di pasar.
Daya tarik BMRI tetap terjaga
Kombinasi buyback Rp1,17 triliun dan dividen Rp44,47 triliun menempatkan Bank Mandiri dalam sorotan sebagai bank besar yang agresif membagi manfaat kepada pemegang saham. Di saat yang sama, arah penggunaan saham treasuri memberi fungsi lanjutan yang masih terkait dengan kepentingan internal perusahaan.
Bagi pasar, langkah seperti ini biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada distribusi laba, tetapi juga menjaga fondasi bisnis. Bank Mandiri dengan demikian tetap berada dalam posisi menarik, karena masih memberi ruang bagi investor untuk menikmati dividen besar tanpa mengorbankan kemampuan perseroan untuk terus bertumbuh sebagai institusi keuangan nasional yang berdaya saing global.
Source: finansial.bisnis.com






