Dua Pria Ditahan di Kasus Turis AS Usai Diduga Dibius di Homestay India

Author: Redaksi Android62

Dua pria telah ditangkap polisi terkait dugaan pelecehan seksual terhadap seorang turis wanita asal Amerika Serikat di sebuah homestay di distrik Kodagu, Karnataka selatan, India. Kasus ini juga memunculkan tuduhan bahwa korban sempat dibius sebelum kehilangan kesadaran di dalam properti tersebut.

Polisi menyebut laporan awal masuk setelah korban berhasil meninggalkan homestay dan menghubungi Kedutaan Besar AS di Delhi. Dari jalur komunikasi itu, pihak kedutaan meneruskan informasi kepada otoritas setempat hingga penyelidikan resmi dimulai.

Kronologi dugaan kejadian

Peristiwa itu disebut terjadi di desa Kutta, sebuah kawasan perbukitan di barat daya Karnataka. Korban dilaporkan sudah menginap di homestay tersebut selama hampir tiga hari sebelum akhirnya bisa pergi dari lokasi.

Menurut keterangan yang diterima polisi, korban sempat memberitahu penghuni homestay bahwa dirinya akan melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di negara bagian itu. Setelah meninggalkan properti, ia mencari bantuan melalui perwakilan diplomatik karena diduga tidak dapat memperoleh pertolongan langsung di tempat kejadian.

Dalam laporan yang disampaikan kepada aparat, korban menuduh pemilik homestay telah memberinya minuman yang dicampur obat. Setelah itu, korban diduga kehilangan kesadaran dan kemudian dilecehkan secara seksual oleh seorang pekerja di properti tersebut.

Dua tersangka diamankan

Polisi mengonfirmasi bahwa dua orang yang ditahan dalam perkara ini adalah pemilik properti dan seorang anggota staf. Pengaduan resmi telah didaftarkan dengan pasal-pasal hukum yang relevan, sementara proses penyelidikan masih berlanjut.

Aparat juga menyebut kedua pria itu akan tetap berada dalam tahanan hingga 3 Mei. Dalam penyidikan, polisi telah menjalankan pemeriksaan forensik, pemeriksaan medis, dan langkah-langkah lain yang dianggap perlu untuk memperkuat penanganan kasus.

Korban juga menyampaikan bahwa pemilik homestay tidak membantunya menghubungi aparat. Ia bahkan diduga dicegah untuk mencari pertolongan, sementara akses komunikasi di properti tersebut disebut ikut terganggu.

Sorotan pada akses bantuan bagi korban

Kasus ini memperlihatkan peran jalur diplomatik ketika korban kesulitan meminta bantuan secara langsung. Dalam situasi seperti ini, komunikasi dengan perwakilan negara asal sering menjadi pintu awal agar otoritas setempat dapat bergerak secara resmi.

Perkara di Kodagu juga kembali menyoroti tantangan yang dihadapi korban kekerasan seksual ketika berada jauh dari jaringan dukungan. Keterbatasan komunikasi, posisi yang rentan, dan ketimpangan kuasa antara tamu serta pengelola properti dapat membuat laporan korban semakin sulit diproses sejak awal.

Angka kekerasan seksual di India

Laporan yang dikaitkan dengan kasus ini juga menyinggung data resmi tentang kekerasan seksual di India. Polisi mencatat 31.516 kasus pemerkosaan pada 2022, naik 20 persen dari 2021, atau rata-rata hampir 90 kasus setiap hari.

Data yang sama menunjukkan bahwa satu perempuan diperkosa setiap 18 menit, meski jumlah sebenarnya diyakini lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan. Stigma terhadap kekerasan seksual masih menjadi salah satu hambatan terbesar bagi korban untuk melapor dan mencari perlindungan.

Dalam banyak kasus, korban menghadapi tekanan sosial, rasa takut, dan kesulitan mengakses bantuan yang membuat proses pelaporan menjadi rumit. Penanganan kasus di Kodagu kini menjadi penting untuk memastikan kronologi, tanggung jawab, dan bukti-bukti yang tersedia dapat diuji secara hukum.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru