Ebola Menjalar ke Provinsi Keempat di Kongo, 1.307 Kasus dan 377 Kematian Tercatat

Author: Redaksi Android62

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus membesar setelah penularannya kini disebut sudah menyentuh provinsi keempat. Otoritas setempat mencatat 1.307 kasus terkonfirmasi dengan 377 kematian, sementara upaya penelusuran kontak masih berlangsung di wilayah timur laut yang padat penduduk dan sulit dijangkau.

Penyebaran terbaru itu memperluas tekanan terhadap sistem kesehatan yang sudah kewalahan. Seluruh kawasan timur laut Kongo, yang dihuni sekitar 15 juta orang, kini terdampak setelah kasus baru muncul di luar tiga provinsi utama yang selama ini menjadi pusat wabah.

Penyebaran ke Haut-Uele menambah kekhawatiran

AFP melaporkan seorang sumber di National Institute of Biomedical Research menyebut Ebola telah menyebar ke Haut-Uele. Provinsi tersebut berbatasan dengan Sudan Selatan dan Republik Afrika Tengah, sehingga memunculkan kekhawatiran baru atas pergerakan virus lintas wilayah.

Kasus di Haut-Uele terdeteksi setelah seorang pasien terinfeksi melakukan perjalanan dari Bunia, ibu kota Ituri, ke wilayah itu. Menurut sumber kesehatan lain yang dikutip AFP, pasien tersebut kemudian meninggal dunia.

Wilayah Status Keterangan
Ituri Pusat wabah Menjadi episentrum wabah Ebola terbaru
North Kivu Terdampak Termasuk tiga provinsi awal yang terkonfirmasi
South Kivu Terdampak Termasuk tiga provinsi awal yang terkonfirmasi
Haut-Uele Wilayah baru Kasus diduga masuk setelah perjalanan dari Bunia

Ituri tetap menjadi episentrum

Provinsi Ituri yang dilanda konflik masih menjadi pusat wabah Ebola terbaru, yang merupakan wabah ke-17 di negara itu. Wabah ini bermula pada Mei dan menambah beban wilayah yang sejak lama menghadapi kekerasan serta keterbatasan layanan kesehatan.

Di banyak kasus, Ebola menyebar lewat prosesi pemakaman ketika jenazah korban yang sangat menular disentuh. Di Kongo, pemakaman kerap berlangsung selama beberapa hari, dan keluarga maupun teman biasanya menyentuh tubuh almarhum.

Selama beberapa pekan, pekerja bantuan kesulitan mengatur pemakaman aman di wilayah terdampak. Mereka juga menghadapi ketidakpercayaan dari komunitas lokal, yang membuat pencegahan kontak dengan jenazah menjadi semakin rumit.

Tenaga kesehatan menghadapi kekurangan perlengkapan

Dari pusat perawatan di Rwampara, Ituri, jurnalis Al Jazeera Catherine Wambua-Soi melaporkan tenaga kesehatan sering kekurangan peralatan yang memadai. Ia mengatakan fasilitas itu sudah beberapa kali diserang, dan bulan lalu tenda-tenda di sana dibakar massa yang marah.

Ia juga menyebut sebagian warga Kongo masih tidak percaya kepada pihak-pihak yang berupaya membantu. Menurutnya, fasilitas kesehatan membutuhkan lebih banyak perlengkapan pelindung, obat-obatan, alat tes cepat, dan kantong jenazah.

Pembatasan publik diperketat

Pemerintah pada Sabtu mengeluarkan larangan pertemuan publik di empat provinsi, termasuk ibu kota Kinshasa, ketika upaya membendung wabah terus berjalan. Kebijakan itu muncul sebelum rencana protes di Kinshasa pada 8 Juli terkait reformasi konstitusi.

Sejumlah tokoh oposisi menilai larangan tersebut bermuatan politik. Di tengah perluasan wabah, pemerintah kini menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni menghentikan penularan Ebola dan meredam ketegangan politik yang mengiringi kebijakan darurat tersebut.

Berita Terbaru