Ekspor Murah China Menyerbu Eropa, Industri Mobil hingga Panel Surya Tertekan

Lebih dari 1 juta mobil buatan China masuk ke Uni Eropa sepanjang tahun lalu. Angka itu memperlihatkan tekanan baru yang dihadapi industri otomotif Eropa ketika produk manufaktur berharga murah semakin deras memasuki pasar.

Persaingan tidak lagi terbatas pada pakaian dan alas kaki seperti gelombang impor sebelumnya. Kendaraan listrik, baterai lithium-ion, panel surya, dan semikonduktor kini menjadi produk utama dalam apa yang kerap disebut sebagai China Shock kedua.

Eropa Menghadapi Tekanan Industri Strategis

Tekanan paling besar dirasakan Eropa karena manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama perekonomiannya. Produk China kini langsung berhadapan dengan sektor-sektor strategis yang selama ini dikuasai produsen regional.

Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyerukan langkah bersama untuk melindungi industri Eropa dari produk China yang disubsidi. Mediaindonesia.com melaporkan, kekhawatiran itu meningkat seiring masuknya barang manufaktur murah ke pasar Eropa.

AspekChina Shock PertamaChina Shock Kedua
Produk utamaPakaian dan alas kakiEV, baterai, panel surya, semikonduktor
Dampak utamaTekanan pekerjaan pabrik ASTekanan industri strategis lintas kawasan
Wilayah terdampakTerutama Amerika SerikatEropa, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan AS

Pangsa China dalam perdagangan barang global juga meningkat tajam, dari 4% pada 2000 menjadi 16% saat ini. Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan mata uang China berada di bawah nilai wajarnya hingga 21%, sehingga harga ekspornya menjadi lebih kompetitif.

Jerman Berada dalam Posisi Rentan

Jerman menjadi salah satu negara yang paling rentan karena kekuatan ekonominya bertumpu pada manufaktur. Industri otomotif Eropa menghadapi tantangan berat saat produsen China memperluas penjualan kendaraan ke pasar luar negeri.

Volkswagen dilaporkan berencana menutup empat pabrik di Jerman serta memangkas 100.000 pekerja dalam restrukturisasi. Langkah tersebut muncul di tengah persaingan yang semakin ketat dari perusahaan otomotif China.

Produsen mobil China disebut mampu membuat hampir dua kali lipat jumlah kendaraan yang dapat diserap pasar domestik. Brad Setser dari Council on Foreign Relations menilai kondisi persaingan dan kelebihan pasokan membuat penjualan di pasar dalam negeri China sulit memberi keuntungan.

“Tidak ada uang yang bisa dihasilkan dengan menjual di pasar Tiongkok yang sangat kompetitif dan kelebihan pasokan,” kata Setser. Situasi itu mendorong produsen memperbesar orientasi ekspor demi menjaga volume produksi.

Kapasitas Pabrik Tumbuh Lebih Cepat

Lonjakan ekspor China berkaitan dengan pergeseran investasi setelah gelembung pasar properti runtuh beberapa tahun lalu. Firma investasi KKR memperkirakan krisis tersebut menghapus kekayaan rumah tangga senilai US$10 triliun.

Sejak 2020, Beijing mengarahkan investasi ke penambahan kapasitas manufaktur untuk menutup pelemahan di sektor real estat. Kendaraan listrik, baterai, dan tenaga surya menjadi sasaran utama dalam perubahan arah investasi tersebut.

Namun, kapasitas produksi tumbuh lebih cepat daripada permintaan konsumen domestik. Data Bea Cukai Beijing menunjukkan ekspor pada paruh pertama tahun ini naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Julian Evans-Pritchard, kepala ekonomi China di Capital Economics Singapura, mengatakan pertumbuhan permintaan domestik belum sanggup menyerap tambahan produksi. “Terjadi peningkatan besar dalam kapasitas manufaktur selama lima hingga enam tahun terakhir. Namun pertumbuhan permintaan domestik tidak cukup untuk menyerapnya,” ujarnya.

Tarif Menjadi Respons Sejumlah Negara

Amerika Serikat berupaya membatasi dampak gelombang baru ini melalui kebijakan tarif yang ketat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China mengalihkan fokus dari kebijakan industri menuju dukungan konsumsi rumah tangga.

AS diperkirakan meluncurkan tarif tambahan bulan ini untuk menghadapi kelebihan kapasitas struktural tersebut. Respons bersama dari mitra dagang China tetap tidak mudah karena Inggris dan Kanada mulai mencari kesepakatan terpisah guna mempertahankan akses ke pasar China.

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tercatat 4,3%. Harga rumah yang terus turun enam tahun setelah gelembung pecah membuat konsumen enggan berbelanja, sehingga ekspor kembali menjadi mesin pertumbuhan utama Beijing.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait