La Nina dan El Nino, Dua Pemicu Cuaca Ekstrem yang Bisa Mengubah Indonesia

Author: Redaksi Android62

Di Indonesia, dua fenomena laut di Samudera Pasifik kerap menentukan arah cuaca secara berlawanan. El Nino cenderung membuat wilayah ini lebih kering, sedangkan La Nina justru mendorong hujan lebih tinggi dari biasanya.

Perbedaan itu penting karena dampaknya terasa langsung pada kehidupan sehari-hari. Saat El Nino menguat, kemarau panjang dan kekeringan ekstrem lebih mudah terjadi, sementara La Nina dapat memicu banjir besar, luapan sungai, dan tanah longsor.

Dampak yang paling terasa di Indonesia

El Nino biasanya menurunkan curah hujan di Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan di sejumlah wilayah dan membuat ketersediaan air lebih terbatas.

Di sisi lain, La Nina membawa kondisi sebaliknya. Curah hujan dapat meningkat sangat tinggi sehingga hujan yang terus-menerus memicu banjir besar dan gangguan di banyak daerah.

Meski demikian, dua fenomena ini tidak hanya membawa dampak negatif. El Nino disebut dapat menurunkan risiko banjir di beberapa daerah, sedangkan La Nina dapat membuat sumber air lebih berlimpah dan produktivitas ekosistem laut meningkat.

Apa yang membedakan El Nino dan La Nina

Perbedaan paling mendasar ada pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. El Nino muncul saat suhu laut di bagian timur Pasifik meningkat, sedangkan La Nina terjadi ketika suhu laut di wilayah yang sama menurun.

Nama El Nino awalnya dipakai untuk menyebut arus laut hangat tahunan yang mengalir ke selatan di pesisir Peru dan Ekuador menjelang Natal. La Nina berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak perempuan” dan menjadi kebalikan dari El Nino.

Pada El Nino, air permukaan laut yang lebih hangat bergeser dari bagian barat Pasifik ke arah timur. Saat La Nina terjadi, suhu panas cenderung bergeser ke Samudera Pasifik bagian barat.

Bagaimana keduanya terbentuk

El Nino dan La Nina muncul dari interaksi antara atmosfer dan samudra di kawasan Pasifik. Kenaikan atau penurunan suhu permukaan laut memicu perubahan pola angin dan gangguan pada sistem atmosfer global.

El Nino juga dapat dipengaruhi oleh perubahan arus samudera di Pasifik. Ketika arus berubah dan tekanan atmosfer menurun, kondisi itu ikut mendorong terbentuknya fenomena tersebut.

La Nina bergerak dari arah yang berlawanan. Suhu permukaan laut yang lebih dingin mengubah pola angin dan kondisi atmosfer global, sementara perubahan arus samudra juga ikut memengaruhi tekanan atmosfer.

Ciri angin, hujan, dan suhu udara

Pada El Nino, angin pasat dari arah timur melemah karena bergerak ke arah sebaliknya, dari Papua ke Peru. Dalam kondisi ini, curah hujan di bagian timur Indonesia, termasuk Papua, menurun, sementara wilayah Peru di Amerika Selatan mengalami kenaikan hujan.

Suhu udara saat El Nino juga cenderung meningkat dibanding kondisi normal. Sebaliknya, pada La Nina, angin pasat menuju arah barat menguat, curah hujan di Papua meningkat, dan suhu udara menurun atau mendingin.

Potensi terjadinya El Nino disebut lebih besar dibanding La Nina. Karena itu, fenomena ini kerap menjadi perhatian lebih awal ketika pola cuaca di Indonesia mulai berubah.

Kenapa penting dipahami

Bagi Indonesia, memahami El Nino dan La Nina berarti memahami dua kutub cuaca yang bisa mengubah kondisi wilayah dalam arah berlawanan. Satu sisi membawa ancaman kekeringan, sisi lain berpotensi menghadirkan hujan berlebih.

Dalam praktiknya, perbedaan itu menentukan seberapa besar risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari ketersediaan air hingga potensi bencana hidrometeorologi. Karena itu, perkembangan kedua fenomena ini selalu menjadi acuan penting dalam membaca arah cuaca nasional.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru