El-Obeid Kian Terkepung, Ancaman RSF Makin Nyata di Pintu Sudan Tengah

Author: Redaksi Android62

El-Obeid kini bergerak cepat menuju kondisi pengepungan total, sementara warga sipil di dalam dan sekitar kota menghadapi ancaman kekurangan air, makanan, dan akses keluar yang makin sempit. Di tengah tekanan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan adanya pergerakan pasukan Pasukan Dukungan Cepat atau RSF yang substansial di sekitar kota menjelang kemungkinan serangan darat.

Peringatan tersebut memicu kekhawatiran baru karena El-Obeid dipandang sebagai titik strategis yang dapat menentukan arah perang di Sudan. Jika kota itu jatuh, penguasaan RSF atas Sudan bagian barat akan semakin kuat dan jalan menuju ibu kota akan terbuka lebih lebar.

Kota persimpangan yang nilainya jauh melampaui medan tempur

El-Obeid dihuni sekitar 500.000 orang dan menampung hampir 100.000 pengungsi dari wilayah lain yang dilanda kekerasan. Kota ini berdiri di persimpangan penting yang menghubungkan wilayah yang dikuasai tentara di Sudan tengah dan timur, termasuk Khartoum, dengan Darfur yang dikuasai RSF di barat.

Nilai strategis itu membuat El-Obeid diperebutkan bukan hanya karena alasan militer, tetapi juga ekonomi. Di kota ini terdapat divisi infanteri, pangkalan udara, jalur pipa minyak utama, dan pasar getah pohon besar.

Kholood Khair menilai penguasaan kota itu berkaitan dengan kekuasaan, tanah, dan uang. Dalam konteks perang yang sudah berlangsung tiga tahun, penilaian itu menjelaskan mengapa El-Obeid menjadi salah satu titik paling diperebutkan di Sudan.

Serangan drone, padam listrik, dan air yang makin langka

Dalam beberapa pekan terakhir, RSF meningkatkan tekanan melalui serangan yang paling intens terhadap kota itu. Setelah tentara memecah pengepungan panjang pada Februari tahun lalu, militer kesulitan mencegah RSF membangun kembali blokade lewat serangan drone berulang yang menargetkan kota, infrastruktur, dan jalan utama keluar kota.

Serangan terbaru menghantam pembangkit listrik utama dan depot bahan bakar. Akibatnya, sejumlah lingkungan gelap gulita, pompa air berhenti bekerja, dan keran di rumah warga mengering.

Warga kini bergantung pada truk tangki, sumur, dan beberapa titik distribusi air. Namun pasokan itu tidak cukup untuk mengejar kebutuhan yang terus naik di tengah situasi keamanan yang makin buruk.

Di sebuah kamp pengungsian dekat kota, Agsam Hamad harus berjalan jauh di bawah panas menyengat untuk mengambil air keruh dari sumur yang jauh. Perempuan 35 tahun yang menjadi ibu tujuh anak itu mengatakan air tersebut tidak layak diminum dan kebutuhan paling mendesak warga adalah makanan serta air.

Warga hidup di antara antrean air dan kamp yang sesak

Di kamp Al-Rahmaniyah, hampir 200 keluarga berdesakan di tempat tinggal rapuh dari jerami, kain sobek, dan lembaran plastik. Anak-anak terlihat bertahan di bayangan sempit di antara gubuk-gubuk, sementara sebagian terlalu lelah untuk bermain.

Seorang jurnalis AFP melihat perempuan kelelahan berjalan di bawah terik matahari sambil membawa jeriken air di kepala setelah berjam-jam menunggu di sumur yang jauh. Gambaran itu menunjukkan betapa krisis air telah menjadi bagian dari rutinitas harian warga.

Waseela Mohamed, seorang nenek 70 tahun yang memiliki tujuh cucu, mengatakan keluarganya tidak punya apa-apa, termasuk air, makanan, dan kasur. Bantuan yang sempat tiba beberapa minggu lalu juga terus menipis karena layanan di seluruh kota berulang kali terkena dampak serangan.

Seorang relawan mengatakan kelompok-kelompok kemanusiaan sudah berupaya membantu, tetapi kebutuhan warga jauh lebih besar. Di dalam kota, Adam Hussein yang memakai nama samaran karena takut balasan, mengatakan drone nyaris terus-menerus terdengar di udara.

Kekhawatiran akan nasib sipil seperti di El-Fasher

PBB memperingatkan bahwa jika El-Obeid dikuasai RSF, risiko kekejaman terhadap warga sipil sangat tinggi. Peringatan itu muncul setelah serangan di El-Fasher, kota di Darfur yang jatuh ke tangan RSF pada Oktober lalu, disebut memiliki “tanda-tanda genosida”.

Dalam tiga hari pertama setelah El-Fasher jatuh, lebih dari 6.000 orang disebut tewas. Negara-negara Barat juga telah menyampaikan peringatan bahwa kekejaman serupa bisa terjadi di El-Obeid jika kota itu direbut.

Nohad Eltayeb dari Armed Conflict Location and Event Data Project atau ACLED mengatakan pergerakan pasukan terlihat sekitar 60 kilometer di utara, selatan, dan barat El-Obeid selama sebulan terakhir. Jalur timur menuju Kosti, sekitar 300 kilometer dari Khartoum, masih dikuasai tentara tetapi disebut sangat berbahaya.

Pemerintah mengatakan tentara berupaya memperlambat laju RSF dan menghancurkan peralatan yang bergerak menuju kota pada pekan lalu. Di sisi lain, sumber yang dekat dengan RSF menuduh tentara menggunakan warga sipil sebagai “tameng manusia” dan menilai mereka seharusnya dievakuasi.

Ekonomi tercekik, akses makin tertutup

Pembatasan ketat dan pertempuran membuat akses ke El-Obeid nyaris terputus sehingga peliputan independen menjadi sulit. Kondisi ini juga membuat warga tidak mudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari satu hari ke hari berikutnya.

Adam Hussein mengatakan warga sipil dan infrastruktur terus menjadi target, dan sebuah drone bahkan jatuh tak jauh dari lokasinya berbicara tanpa menimbulkan korban. Ia menambahkan bahwa situasi berubah terlalu cepat untuk memberi kepastian kepada warga.

Kondisi ekonomi memburuk cepat karena harga air berlipat ganda, harga makanan naik hingga 300 persen, dan ongkos transportasi ikut melonjak. Menurut Kholood Khair, banyak warga kini praktis merasa “terkepung” karena mereka tidak mampu pergi atau tidak tahu harus mengungsi ke mana.

Mohamed Refaat dari Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan kota itu mendekati pengepungan total. Ia memperingatkan bahwa warga sipil segera mungkin tidak bisa keluar atau kembali, sementara akses lembaga PBB sudah dihentikan ketika keamanan memburuk dan kebutuhan warga melampaui stok bantuan yang sudah disiapkan.

Refaat mengatakan tanpa bantuan segera, kondisi dalam hitungan minggu bisa menyerupai El-Fasher, tempat warga bertahan hidup dengan pakan ternak selama 18 bulan pengepungan. Di El-Obeid, tekanan RSF, blokade, dan krisis dasar kini saling bertumpuk dan mendorong kota itu ke fase yang jauh lebih berbahaya.

Berita Terbaru