Epic Dorong Game Lebih Terbuka, Sinyal Kerja Sama dengan Valve Semakin Kuat

Author: Redaksi Android62

Tim Sweeney kembali menegaskan bahwa masa depan game, menurut Epic, tidak lagi bertumpu pada ekosistem yang tertutup. Ia menilai industri justru bergerak ke arah keterhubungan lintas platform, ekonomi, dan teknologi yang lebih mudah dipakai bersama.

Di Unreal Fest Chicago, Epic memaparkan Unreal Engine 6 dengan posisi yang berbeda dari sekadar peningkatan visual. Versi berikutnya itu diproyeksikan menjadi penghubung agar konten, kode, dan ekonomi bisa portabel serta saling terhubung lintas game, ekosistem, dan engine, dengan dukungan integrasi AI.

Masalah terbesar justru ada di sisi sosial

Menurut Sweeney, hambatan utama game modern bukan hanya perpindahan dari satu judul ke judul lain. Yang lebih berat adalah pecahnya identitas sosial pemain di berbagai platform seperti Xbox, PlayStation, Switch, Steam, dan ekosistem milik penerbit.

Ia menggambarkan situasi ketika pemain ingin pindah game tetapi harus mencari teman dari awal lagi. Jika gamenya berbayar, pemain juga wajib membeli ulang, sementara jika gratis, proses menemukan dan menghubungi teman tetap tersendat oleh sistem yang berbeda.

Sweeney membandingkan kondisi itu dengan era sebelum standar email lintas perusahaan terbentuk. Menurutnya, industri game membutuhkan format identitas yang jelas dan bisa berjalan lintas sistem, seperti Tim@Epic yang berbeda dari Tim@Xbox, Tim@Sony, atau Tim@Steam.

Ia menilai kebutuhan itu bukan mustahil secara teknis. Standar dasar untuk voice chat dan text chat, menurut dia, sudah sangat mirip di banyak layanan, sehingga tantangan utamanya adalah membangun kesepakatan yang aman dan mudah dimoderasi.

Valve tetap dipandang bisa ikut jika mau terbuka

Ketika ditanya soal peluang kerja sama dengan pemain besar industri lain, Sweeney mengatakan minat terhadap visi “Team Open” kini jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Ia tidak menyebut nama pihak tertentu, tetapi melihat tekanan industri membuat lebih banyak perusahaan melirik manfaat keterhubungan ketimbang mempertahankan sistem masing-masing.

Soal Valve, pintu kerja sama disebutnya tetap terbuka lebar. Epic, kata Sweeney, ingin berinteroperasi dengan semua perusahaan yang bersedia, dan Valve dinilai bisa ikut jika mau melihat peluang yang lebih besar.

Ia menyoroti bahwa Steam memang punya bisnis yang kuat dan disukai banyak pemain. Namun, ia juga menyebut platform itu belum menjangkau seluruh pasar PC karena tidak memiliki banyak game besar seperti Fortnite, judul-judul Riot, dan Genshin Impact.

Sweeney juga mengkritik kecenderungan tiap perusahaan menjadi “mini gatekeeper” sendiri. Menurutnya, pendekatan itu sudah melelahkan pemain, dan kerja sama antarpelaku besar menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Di sisi lain, ia mengakui platform miliknya sendiri belum ideal. Epic Games Store disebutnya masih lambat, dan Epic sedang menyiapkan pembaruan besar agar kliennya terasa lebih cepat dan efisien.

AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas

Selain soal keterhubungan, Sweeney juga menanggapi resistensi publik terhadap AI dalam pengembangan game. Ia melihat penolakan itu lebih sebagai persoalan adopsi alat, bukan sekadar masalah citra.

Ia menolak anggapan bahwa AI akan segera menghadirkan solusi prompt-to-game yang matang. Manfaat yang paling nyata saat ini, menurutnya, ada pada coding assistant yang membantu programmer menemukan bug lebih cepat dan memangkas waktu perbaikan.

Untuk sisi seni, Sweeney menilai AI berguna untuk mengurangi pekerjaan repetitif. Ia mencontohkan proses pembuatan aset 3D yang panjang dan mahal, lalu menyebut banyak waktu habis untuk drudge work, bukan untuk inti kreativitas.

Ia tetap menegaskan bahwa hasil seni yang kuat lahir dari seniman yang kuat, bukan dari prompt semata. Namun, ia memandang AI bisa menjadi sumber inspirasi dan percepatan, setara dengan referensi lain yang biasa dipakai seniman.

Sweeney juga menyinggung kritik terhadap AI yang lahir dari praktik buruk sejumlah perusahaan pada masa awal. Ia menyebut industri kini mulai bergerak ke basis data berlisensi dan proses yang lebih jelas soal asal-usul data latihan.

Interoperabilitas makin relevan di pasar yang sudah matang

Menurut Sweeney, kondisi ekonomi game sekarang berbeda dari masa lalu karena pasar sudah sangat besar. Ia menyebut hampir semua orang di dunia sudah bermain game, sehingga pertumbuhan tidak lagi bisa bertumpu pada mencari pemain baru.

Karena itu, studio dituntut membuat game yang lebih baik dengan cara yang lebih efisien. Ia menilai AI, Unreal Engine, dan infrastruktur yang lebih terbuka bisa membantu developer kecil tetap bersaing menghadapi proyek AAA yang biayanya terus membesar.

Sweeney memberi contoh interoperabilitas yang sudah berjalan di ekosistem Epic, seperti item mobil di Fortnite dan Rocket League. Menurutnya, nilai terbesar ada pada item kosmetik, akun, dan ekonomi digital yang bisa dipakai lintas game tanpa merusak desain permainan yang memang tidak cocok untuk dicampur.

Pada akhirnya, ia melihat industri sedang bergerak ke arah yang lebih realistis. Dengan tidak adanya monopoli absolut di gaming, kerja sama lintas platform dan alat yang lebih produktif dinilai semakin masuk akal bagi pengembang maupun pemain.

Berita Terbaru