Ribuan Pekerja Jatim Terancam, Dua Pabrik Komponen Jepang Dikabarkan Akan Geser Produksi ke Vietnam

Author: Redaksi Android62

Ancaman terbesar dari rencana relokasi sebagian pekerjaan dua pabrik komponen otomotif Jepang di Jawa Timur adalah potensi kehilangan pekerjaan bagi sekitar 7.000 pekerja. Jika skenario itu berjalan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh buruh, tetapi juga dapat mengguncang rantai pasok industri otomotif nasional.

Informasi awal mengenai kemungkinan pemindahan sebagian pekerjaan itu muncul dari dialog antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyampaikan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan prinsipal perusahaan di Jepang.

Potensi PHK yang Mengintai Dua Pabrik

Dua perusahaan yang dimaksud disebut sebagai PT J dan PT S, yang berada dalam satu grup asal Jepang meski beroperasi dengan nama berbeda di Indonesia. Keduanya sama-sama menjadi pemasok komponen otomotif untuk sejumlah merek kendaraan besar yang diproduksi di Indonesia.

Di PT J, jumlah karyawan saat ini sekitar 7.000 orang, dan sekitar 4.000 orang disebut berpotensi terdampak. Sementara itu, PT S memiliki sekitar 4.000 pekerja, dengan sekitar 3.000 orang dalam skenario yang disampaikan kepada serikat pekerja berpotensi terkena dampak.

Jika kedua angka itu digabungkan, total pekerja yang bisa kehilangan pekerjaan mencapai sekitar 7.000 orang. Besarnya jumlah tersebut membuat isu relokasi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut stabilitas ketenagakerjaan di Jawa Timur.

Said menegaskan bahwa pihaknya masih mendorong dialog antara serikat pekerja dan manajemen. Langkah itu ditempuh untuk memastikan apakah relokasi benar-benar akan terjadi, sekaligus mencari cara agar dampaknya bisa ditekan bila rencana tersebut dilanjutkan.

Posisi Penting dalam Rantai Pasok Otomotif

Kedua pabrik itu disebut berada pada level pemasok penting dalam rantai pasok industri otomotif nasional, dengan posisi yang diperkirakan ada di tier satu atau tier dua. Komponen yang mereka hasilkan dipasok untuk produksi mobil Toyota, Suzuki, dan Daihatsu, serta terkait aktivitas ekspor.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, menyebut dua perusahaan itu merupakan produsen wiring harness dari grup Yazaki. Wiring harness adalah salah satu komponen penting dalam kendaraan.

Perusahaan Jumlah pekerja Potensi terdampak
PT J Sekitar 7.000 orang Sekitar 4.000 orang
PT S Sekitar 4.000 orang Sekitar 3.000 orang

Rachmat menilai kemungkinan gangguan terhadap kelangsungan rantai pasok memang ada, meski mungkin tidak terlalu besar. Namun, menurut dia, hal yang lebih penting dicermati adalah alasan investor memilih memindahkan sebagian industrinya ke Vietnam.

Vietnam Dinilai Lebih Menarik bagi Investor

Rachmat menduga salah satu faktor yang memengaruhi keputusan itu adalah kebutuhan rantai pasok kendaraan listrik di Vietnam yang sudah lebih dulu berkembang. Kondisi tersebut dinilai memberi daya tarik tersendiri bagi investor otomotif.

Ia juga menilai investasi otomotif di Indonesia saat ini bisa jadi tidak semenarik Vietnam. Pandangan itu memperluas persoalan, karena relokasi pabrik bukan hanya menyangkut hubungan industrial, tetapi juga persaingan antarnegara dalam menarik investasi manufaktur.

Di tengah situasi tersebut, serikat pekerja dan pihak perusahaan masih menunggu kejelasan mengenai rencana pemindahan pekerjaan, skala relokasi, serta waktu pelaksanaannya bila benar terjadi. Pemerintah juga didorong untuk menjaga iklim investasi agar pemindahan pekerjaan tidak berlanjut.

Bagi industri otomotif nasional, perkembangan ini menjadi sorotan karena menyentuh dua hal sekaligus, yakni ancaman langsung terhadap ribuan pekerja dan tantangan yang lebih luas terhadap daya saing Indonesia di hadapan Vietnam.

Source: otomotif.kompas.com
Berita Terbaru