Konser tidak selalu hanya tentang menyaksikan musisi favorit di atas panggung. Bagi banyak penggemar, berada di tengah kerumunan dengan minat yang sama dapat menghadirkan rasa diterima yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Survei AEG Global Partnership pada 2025 terhadap 3.000 orang dewasa di Inggris menunjukkan 70 persen responden merasa seperti berada di rumah ketika menghadiri konser bersama penggemar lain. Lebih dari 53 persen responden juga merasa lebih dipahami oleh sesama penggemar dibandingkan orang-orang di lingkungan keseharian mereka.
| Temuan Survei AEG Global Partnership | Hasil |
|---|---|
| Merasa seperti di rumah saat menghadiri konser bersama penggemar lain | 70 persen |
| Merasa lebih dipahami oleh sesama penggemar | Lebih dari 53 persen |
Data tersebut menempatkan kebersamaan sebagai bagian penting dari pengalaman menikmati musik. Gen Z disebut sebagai kelompok usia yang paling berpeluang menjadi penggemar fanatik, sehingga komunitas berbasis idola dapat berkembang menjadi jejaring sosial yang aktif.
Fandom musik seperti Swifties, Little Monsters, Blinks, dan ARMY memperlihatkan bagaimana ketertarikan pada karya seorang musisi dapat mempertemukan orang-orang dengan pengalaman serupa. Di dalam komunitas itu, penggemar dapat berbagi lagu, cerita, maupun perasaan tanpa terlalu khawatir akan penilaian dari lingkungan lain.
Musik dan Rasa Memiliki
Hong Kong Music Therapy Association menyatakan musik dapat meningkatkan emosi positif karena memengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan motivasi. Musik juga diketahui dapat membantu menurunkan hormon stres kortisol, memperlambat detak jantung, serta menurunkan tekanan darah.
Manfaat tersebut dapat terasa lebih kuat ketika seseorang menikmati musik bersama orang yang memiliki ketertarikan serupa. Koneksi sosial yang terbentuk kemudian memberi ruang bagi penggemar untuk membangun identitas, pertemanan, dan rasa memiliki.
Rasa diterima menjadi penting bagi anak muda yang sedang mencari lingkaran pergaulan yang sesuai dengan dirinya. Dalam konteks ini, komunitas penggemar dapat menjadi tempat dukungan emosional awal ketika seseorang merasa terasing atau kesulitan menemukan orang yang memahami minatnya.
Pengalaman yang Mendorong Dukungan Sebaya
Jessica Sikora dari New Jersey, Amerika Serikat, pernah merasakan peran komunitas penggemar Jonas Brothers saat menghadapi depresi pada masa remaja. CNN Indonesia yang mengutip South China Morning Post melaporkan Jessica mengalami depresi pada usia 13 tahun, serta pernah menyakiti diri dan mencoba bunuh diri sebelum berusia 17 tahun.
Menurut Jessica, musik menjadi tempat pelarian ketika ia menghadapi tekanan keluarga dan kesulitan bersosialisasi. Percakapannya dengan penggemar lain memberinya dukungan emosional pada masa yang sulit.
“Itu adalah komunitas yang menyelamatkan hidup saya. Berbicara dengan sesama penggemar membuat saya tetap bertahan,” kata Jessica. Pengalaman tersebut mendorongnya mendirikan Superbands, platform daring untuk menghubungkan penggemar musik melalui dukungan sebaya.
Superbands hadir di Instagram, TikTok, dan X sebagai ruang bagi penggemar untuk membagikan cerita mengenai peran musik dalam masa sulit. Jessica juga menjalankan kampanye kesehatan mental bersama musisi dan label rekaman melalui platform tersebut.
Salah satu penggemar bernama Alyssa mengatakan kampanye Loud and Clear mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. Kampanye itu juga membuatnya merasa tidak perlu menyembunyikan kecintaannya kepada sebuah band.
Tetap Memerlukan Bantuan Profesional
Peran komunitas penggemar tidak menggantikan layanan profesional untuk menangani persoalan klinis atau keadaan darurat. Fandom dapat melengkapi penanganan profesional dengan memberi harapan dan dukungan sosial, tetapi bukan menjadi layanan krisis.
Depresi, keinginan menyakiti diri, dan pikiran bunuh diri membutuhkan bantuan serius serta segera. Di Indonesia, layanan pencegahan bunuh diri Kementerian Kesehatan dan RS Marzoeki Mahdi dapat diakses melalui healing119.id, telepon 119 ekstensi 8, atau WhatsApp yang tersedia di situs tersebut.
Layanan itu menghubungkan pengguna dengan konselor Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi, jejaring layanan, serta psikolog klinis Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. Ruang aman di dalam komunitas tetap dapat menjadi dukungan awal bagi kesehatan mental Gen Z, terutama saat bantuan yang tepat perlu segera dicari.
