Kerja lebih keras belum tentu membuat penghasilan terasa lebih longgar. Dosen Universitas Sumatera Utara, Dr. Monika Andrasari, menilai pekerja perlu mengubah kombinasi keahlian agar memiliki nilai tawar yang lebih kuat.
Menurut Monika, kemampuan yang terlalu umum membuat pekerja lebih mudah tergantikan. Keahlian inti perlu dipadukan dengan kemampuan pelengkap yang lebih spesifik dan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Kombinasi kemampuan dapat meningkatkan nilai pekerja
Pendekatan tersebut tidak berarti pekerja harus meninggalkan bidang utamanya. Yang ditekankan adalah membangun kompetensi tambahan yang memperkuat keahlian dasar.
Mahasiswa ekonomi, misalnya, dapat menggabungkan ekonometrika dengan data analytics. Sementara kemampuan menyusun laporan keuangan di bidang akuntansi dapat diperkuat melalui penguasaan Excel tingkat lanjut.
| Bidang | Kemampuan inti | Keahlian pelengkap |
|---|---|---|
| Ekonomi | Ekonometrika | Data analytics |
| Akuntansi | Laporan keuangan | Excel tingkat lanjut |
| Komunikasi | Kemampuan berbicara | Content strategy dan data insight |
| Ilmu hukum | Regulasi | Kontrak digital dan teknologi |
Di bidang komunikasi, kemampuan berbicara saja dinilai belum cukup untuk menjawab perubahan kebutuhan industri. Pemahaman mengenai content strategy dan data insight dapat menambah daya guna kompetensi tersebut.
Hal serupa berlaku bagi lulusan ilmu hukum yang menguasai regulasi. Pemahaman tentang kontrak digital dan teknologi dapat menjadi pelengkap yang membedakan mereka dari pelamar lain.
Persaingan tenaga kerja menekan daya tawar
Monika menjelaskan, persoalan penghasilan tidak hanya ditentukan oleh besarnya usaha individu. Kondisi pasar tenaga kerja juga memengaruhi posisi pekerja saat bernegosiasi mengenai upah.
Ketika jumlah lulusan atau pencari kerja melampaui lowongan yang tersedia, perusahaan memiliki pilihan tenaga kerja yang lebih banyak. Dalam situasi itu, daya tawar pekerja cenderung melemah.
“Kalau di pasar tenaga kerja terlalu banyak nih lulusan atau (lapangan kerja) yang tersedia lebih sedikit daripada lulusan yang ada. Yang terjadi apa? Bargaining power (daya tawar) dari pihak supply jadi kecil,” kata Monika.
Kondisi ini dapat membuat pekerja menerima gaji yang terbatas atau bekerja di posisi dengan tingkat kebutuhan kompetensi di bawah pendidikan yang dimiliki. Persaingan yang padat juga mempersempit ruang untuk menuntut kenaikan penghasilan.
Nominal naik belum tentu memperkuat daya beli
Tekanan lain datang dari kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari yang dapat bergerak lebih cepat dibanding pendapatan. Akibatnya, pekerja dapat merasa gajinya stagnan meski nominal penghasilan mengalami perubahan.
Monika menyebut kenaikan gaji umumnya berlangsung setahun sekali, sedangkan harga barang di pasar bisa berubah lebih sering. Perbedaan ritme tersebut membuat kemampuan membeli kebutuhan sandang, pangan, dan papan dapat menyusut.
Inflasi berada di kisaran 3,34 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia per Juni 2026. Angka yang stabil belum otomatis menghilangkan tekanan apabila pertumbuhan upah tertinggal dari pengeluaran rutin.
Penjelasan Monika disampaikan melalui video akun Instagram resmi USU, @official.usu, pada 7 Juli 2026. Ia menekankan bahwa strategi pengembangan kemampuan perlu berubah ketika gaji terasa tidak bergerak.
“Jadi kalau gaji terasa stagnan, bukan kerja kerasnya yang dikurangi tapi kombinasi skill atau strateginya yang harus diubah,” ujar Monika. Strategi tersebut menempatkan keunikan kombinasi keahlian sebagai salah satu modal menghadapi stagnasi upah.
