DRM baru PlayStation memicu kekhawatiran karena game digital yang sudah dibeli disebut bisa kehilangan akses jika konsol terlalu lama tidak tersambung ke internet. Temuan awal itu membuat sebagian pemain mempertanyakan apakah sistem ini benar-benar ditujukan untuk mencegah pembajakan, atau justru menambah risiko bagi pemilik game yang ingin bermain secara offline.
Yang membuat isu ini cepat menyebar adalah laporan dari pengujian komunitas dan pembahasan di forum. Nama Spawn Wave muncul dalam pengujian awal, sementara diskusi juga ramai di ResetEra dan grup DoesItPlay, meski sampai sekarang informasi yang beredar masih bersandar pada temuan awal dan belum dibarengi penjelasan resmi yang lengkap.
Lisensi yang Diduga Berjalan Bertahap
Dari laporan yang dirujuk MBG, game digital PS5 tampaknya membawa lisensi offline selama 30 hari saat baru dibeli. Jika konsol tidak melakukan koneksi internet melewati batas itu, game disebut dapat berhenti berjalan sampai perangkat kembali memeriksa status kepemilikan.
Namun, gambaran itu tidak sesederhana akses yang langsung hilang permanen. NIB melalui unggahan di X menyebut lisensi awal tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara dan berkaitan dengan jendela refund 14 hari.
Artinya, masa offline awal tidak otomatis membuat pembeli kehilangan game untuk selamanya. Setelah periode refund selesai, satu kali pemeriksaan online disebut bisa mengubah lisensi menjadi jangka panjang, bahkan tanpa batas waktu.
Mengapa Sistem Ini Dipandang Masuk Akal oleh Industri
Dari sisi penerbit dan platform, mekanisme seperti ini punya tujuan yang cukup jelas. Sistem tersebut diduga dibuat untuk menutup celah yang memungkinkan lisensi permanen diekstrak dari konsol yang sudah dimodifikasi, lalu pembeli tetap mengajukan refund.
Dengan pola lisensi awal yang hanya berlaku dalam waktu singkat, peluang penyalahgunaan menjadi lebih kecil. Karena itu, kebijakan ini dinilai sejalan dengan tujuan alat anti-pembajakan di PC seperti Denuvo, meski penerapannya di ekosistem konsol terlihat lebih senyap.
Bagi perusahaan platform, verifikasi berkala juga memberi kontrol yang lebih besar atas distribusi game digital. Kepemilikan digital jadi tidak sepenuhnya berdiri sendiri tanpa hubungan dengan server penerbit atau pemegang platform.
Kekhawatiran Pemilik Game Digital
Di sisi lain, perubahan ini menyentuh persoalan yang sangat sensitif bagi pemain, yaitu batas antara membeli game dan sekadar mendapat izin akses. Saat game single-player pun bergantung pada validasi berkala, rasa memiliki atas konten digital terasa semakin tipis.
Kekhawatiran tidak hanya muncul dari sisi kenyamanan bermain harian. Ada juga pertanyaan jangka panjang tentang preservasi game digital jika server verifikasi suatu saat tidak lagi tersedia.
Bagi pengguna yang sering bermain tanpa koneksi internet, aturan seperti ini bisa terasa membatasi. Situasi tersebut juga dapat mengejutkan pembeli yang tidak menyadari bahwa game yang sudah dibeli masih memerlukan pemeriksaan online tambahan setelah masa refund berakhir.
Detail Teknis yang Masih Diperdebatkan
Sejumlah penilaian dari komunitas menunjukkan bahwa sistem ini kemungkinan bekerja dengan lapisan yang lebih kompleks daripada dugaan awal. Laporan dari Andshrew di ResetEra dan DoesItPlay menyebut DRM baru PlayStation mungkin tidak berarti game harus selalu online.
Poin pentingnya justru ada pada kendali yang lebih kuat atas lisensi digital yang sudah berada di tangan pengguna. Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar bisa atau tidaknya game dimainkan offline, melainkan seberapa besar kontrol platform terhadap akses tersebut.
Karena itu, pembahasan yang beredar saat ini masih perlu ditempatkan sebagai indikasi awal, bukan kepastian final. Selama belum ada penjelasan resmi yang lengkap, sistem DRM baru PlayStation masih dibaca sebagai upaya menyeimbangkan dua kepentingan yang kerap bertabrakan, yakni menutup celah pembajakan dan tetap menjaga pengalaman pemain yang membeli game secara sah agar tidak terasa terlalu dibatasi.
