Garis pada tato mumi Chancay di Peru ternyata dapat mencapai ketebalan hanya 0,1 hingga 0,2 milimeter. Ukuran itu disebut lebih halus dibandingkan hasil yang lazim dibuat menggunakan jarum tato modern.
Temuan ini memperlihatkan kemampuan teknis tinggi para pembuat tato dari masyarakat Chancay. Ketelitian tersebut menuntut alat yang sangat tajam serta proses pengerjaan yang dilakukan dengan sabar.
Garis Tipis yang Menantang Teknologi Modern
Sejumlah pola rumit ditemukan terutama pada bagian lengan bawah mumi. Susunan garis yang rapat menunjukkan orang yang ditato kemungkinan harus duduk diam cukup lama selama proses pembuatan.
Michael Pittman, paleobiolog dan arkeolog dari Chinese University of Hong Kong, termasuk dalam tim penelitian tersebut. Ia menilai kecanggihan tato itu melampaui dugaan awal para peneliti.
“Bagi kami, itu sesuatu yang benar-benar di luar dugaan,” kata Pittman seperti dikutip Kompas.com. “Kami tidak menyangka tingkat kecanggihan yang ada di balik tato-tato ini.”
Pittman menduga seniman Chancay menggunakan jarum yang dibuat dari kaktus atau tulang hewan. Bahan tersebut kemungkinan diasah sangat tajam agar mampu menghasilkan garis yang sangat tipis pada kulit.
Laser Menyingkap Motif yang Memudar
Detail pada Mumi Chancay dapat diamati kembali melalui teknik penyinaran laser. Metode itu membuat permukaan kulit memancarkan cahaya sehingga pola tato yang telah memudar menjadi lebih jelas.
Teknik serupa sebelumnya dipakai untuk meneliti fosil dinosaurus dan artefak Romawi. Penelitian ini menerapkannya untuk mengamati tato pada sisa tubuh manusia.
Hasil pemindaian memperlihatkan ragam motif, mulai dari segitiga dan belah ketupat yang saling mengunci hingga bentuk bunga. Salah satu gambar paling menonjol berada di dada mumi dan menggambarkan seekor monyet.
Keberadaan sosok monyet menunjukkan bahwa tato Chancay tidak hanya memuat bentuk abstrak. Pittman menilai sejumlah motif mungkin memiliki arti personal bagi pemiliknya, seperti praktik tato pada masa kini.
| Temuan | Periode Kehidupan | Keterangan |
|---|---|---|
| Ötzi si Manusia Es | Sekitar 3350–3100 SM | Memiliki tato tertua yang diketahui |
| Dua mumi Mesir Predinastik | Periode serupa | Bukti awal lain praktik tato |
Warisan Visual Peradaban Chancay
Penelitian terhadap lebih dari 100 mumi ini dipublikasikan dalam jurnal PNAS pada 13 Januari 2025. Peradaban Chancay sendiri berkembang di Peru sekitar 900 Masehi sebelum akhirnya menyatu dengan Kekaisaran Inca.
Temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai Sejarah Tato sebagai praktik yang telah dikenal jauh sebelum Chancay. Bukti tertua yang diketahui berasal dari Ötzi si Manusia Es dan dua mumi Mesir Predinastik.
Nina Jablonski, profesor emeritus antropologi di Penn State University, menilai tato kemungkinan pernah hadir di sebagian besar wilayah sepanjang sejarah manusia. Menurutnya, praktik ini mungkin bermula ketika arang tanpa sengaja masuk ke bawah kulit dan meninggalkan tanda permanen.
Jejak tato pada mumi memperlihatkan bahwa detail yang nyaris hilang masih dapat diungkap dengan metode penelitian baru. Pittman juga meyakini temuan sejenis dapat muncul dari sisa manusia yang lebih tua apabila terawetkan dengan baik, misalnya dalam bongkahan es.







