Gelombang panas dapat membebani jantung dalam waktu singkat, terutama ketika suhu tinggi berpadu dengan kelembapan yang membuat tubuh sulit mendinginkan diri. American Heart Association memperingatkan bahwa kondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Bagi penderita penyakit jantung, risiko itu perlu diwaspadai lebih serius. dr Manesh Patel dari Duke Health menjelaskan kepada www.beritasatu.com bahwa detak jantung meningkat dan pembuluh darah melebar saat tubuh berusaha melepas panas, sehingga beban tambahan tersebut bisa berbahaya bahkan bagi orang yang sehat.
Mengapa cuaca panas menekan sistem kardiovaskular
Saat tubuh kepanasan, darah harus dialirkan lebih banyak ke pembuluh di bawah kulit agar panas dapat dilepaskan. Dalam cuaca sangat panas dan lembap, keringat juga sulit menguap sehingga suhu tubuh terus naik dan jantung bekerja lebih keras.
Lauren Siewny, Direktur Medis Departemen Gawat Darurat Duke University Hospital, menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan kerja jantung dan kemampuan tubuh memasok darah. Tekanan tambahan tersebut dapat meningkatkan risiko serangan jantung, aritmia, hingga gagal jantung.
Panas disebut ancaman serius bagi kesehatan
Panas merupakan penyebab utama kematian akibat cuaca, dan para ahli memperkirakan kondisi ini menimbulkan ribuan kematian setiap tahun. Penelitian dari Yale School of Public Health menunjukkan jumlah kematian akibat panas naik lebih dari 50% dalam dua dekade terakhir.
Ancaman itu juga diperkirakan membesar seiring perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Gelombang panas menjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan mencapai intensitas yang lebih tinggi dari tahun ke tahun.
| Kondisi Cuaca | Dampak Utama | Risiko |
|---|---|---|
| Panas dan lembap | Keringat sulit menguap, jantung memompa lebih cepat | Tekanan lebih besar pada jantung |
| Panas dengan penyakit jantung | Pembuluh darah tidak selalu bekerja optimal | Serangan jantung, aritmia, gagal jantung |
| Panas berkepanjangan | Beban tubuh meningkat dari waktu ke waktu | Risiko gangguan kesehatan lebih tinggi |
Pada 2023, American Heart Association memperkirakan kematian akibat penyakit jantung yang berkaitan dengan panas bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa dekade mendatang. Saat ini, sekitar 2.000 kematian per tahun dan sekitar 100.000 kunjungan ke unit gawat darurat diperkirakan terkait gangguan akibat panas.
Obat jantung juga dapat menambah risiko
Sejumlah obat yang digunakan untuk menangani penyakit jantung bisa memperbesar risiko saat cuaca panas. Beta blocker memperlambat denyut jantung sehingga kemampuan tubuh mengalirkan darah untuk melepas panas ikut berkurang.
Diuretik juga perlu diwaspadai karena meningkatkan pengeluaran cairan tubuh dan membuat risiko dehidrasi lebih besar. Karena itu, penderita penyakit jantung yang mengonsumsi obat-obatan tersebut disarankan lebih berhati-hati saat gelombang panas melanda.
Langkah perlindungan saat suhu melonjak
Langkah pencegahan untuk penderita penyakit jantung maupun orang sehat pada dasarnya sama, yaitu membatasi paparan panas, menjaga cairan tubuh, dan mengenali tanda bahaya sejak awal. Jika harus beraktivitas di luar, pilih pagi atau malam hari ketika suhu udara cenderung lebih rendah.
Tetap berada di tempat yang sejuk dan batasi aktivitas luar ruangan, terutama pada siang hingga sore hari. Gunakan pendingin udara atau kipas angin di dalam ruangan ketika suhu masih berada di bawah 90 derajat fahrenheit.
Pantau prakiraan cuaca dan tetap di dalam rumah saat ada peringatan gelombang panas. Jika rumah tidak memiliki pendingin yang memadai, cari pusat pendinginan yang disediakan pemerintah daerah.
Pastikan tubuh tetap terhidrasi
Asupan cairan perlu dijaga karena tubuh kehilangan banyak air lewat keringat. Harvard Health menyarankan minum sekitar 8 ons atau sekitar 240 mililiter air setiap 20 menit saat berada di luar ruangan.
Jangan menunggu haus untuk mulai minum. Bagi penderita gagal jantung, jumlah cairan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter karena kelebihan cairan bisa menyebabkan pembengkakan.
Pasien yang mengonsumsi diuretik juga perlu membicarakan kebutuhan cairan selama cuaca panas. Selain itu, hindari alkohol dan batasi minuman berkafein, soda, serta jus buah karena dapat mempercepat dehidrasi atau memperlambat penyerapan air.
Lindungi kulit dan kenali gejala bahaya
Paparan sinar matahari langsung juga perlu dihindari karena kulit yang terbakar mengurangi kemampuan tubuh membuang panas dan meningkatkan risiko dehidrasi. Gunakan topi bertepi lebar, kacamata pelindung UV, pakaian longgar berwarna terang, serta tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30.
Tabir surya sebaiknya dioleskan sekitar 30 menit sebelum keluar rumah dan diulang setiap satu jam bila masih berada di bawah sinar matahari. Selain pencegahan, masyarakat juga perlu mengenali tanda gangguan akibat panas sedini mungkin.
Gejala yang harus diwaspadai meliputi sakit kepala, kulit dingin dan lembap atau tampak pucat, denyut nadi cepat tetapi lemah, pusing, tubuh lemas, kram otot, mual, hingga muntah. Jika gejala muncul, segera hentikan aktivitas fisik, pindah ke tempat yang lebih sejuk, dinginkan tubuh dengan air dingin, dan minum air untuk mengganti cairan yang hilang.
Bila kondisi tidak membaik atau gejala semakin berat, segera cari pertolongan medis. Gangguan akibat cuaca ekstrem dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, terutama pada penderita penyakit jantung.
Source: www.beritasatu.com






