Kolesterol Tinggi Tak Hanya Soal Makan, Ini 11 Mitos yang Masih Sering Keliru

Kolesterol tinggi tidak selalu muncul karena pola makan yang buruk, dan tidak hanya dialami orang yang tampak kelebihan berat badan. Orang kurus pun bisa memilikinya, terutama bila kurang bergerak, makan tidak sehat, atau memiliki faktor bawaan seperti hiperkolesterolemia familial.

Karena itu, anggapan bahwa kolesterol bisa diabaikan selama tubuh terlihat sehat jelas tidak tepat. Pemeriksaan rutin tetap penting, sebab risiko gangguan pembuluh darah justru bisa berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali.

Jenis kolesterol tidak bisa dipukul rata

Tubuh sebenarnya tetap membutuhkan kolesterol untuk membentuk sel sehat, hormon, dan vitamin D. Masalah baru muncul ketika kadarnya terlalu tinggi, terutama LDL, karena jenis ini dapat menumpuk sebagai plak di arteri dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

LDL atau low-density lipoprotein kerap disebut kolesterol jahat karena membawa kolesterol ke pembuluh darah. Sebaliknya, HDL atau high-density lipoprotein disebut kolesterol baik karena membantu membawa kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati untuk dikeluarkan dari tubuh.

Selain dua jenis itu, trigliserida juga menjadi perhatian karena termasuk lemak lain dalam darah yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Artinya, pengendalian kolesterol tidak cukup hanya melihat satu angka saja.

JenisPeranCatatan
LDLMembawa kolesterol ke pembuluh darahDisebut kolesterol jahat karena bisa menyumbat arteri
HDLMembawa kolesterol kembali ke hatiDisebut kolesterol baik karena membantu membersihkan LDL
TrigliseridaJenis lemak lain dalam darahBerkaitan dengan risiko penyakit jantung

11 mitos kolesterol yang perlu diluruskan

Mitos pertama adalah anggapan bahwa semua kolesterol buruk. Faktanya, tubuh tetap memerlukan kolesterol dalam jumlah tertentu, dan yang menjadi masalah adalah ketika LDL terlalu tinggi.

Mitos berikutnya menyebut makanan tinggi kolesterol sebagai penyebab utama. American Heart Association justru menekankan bahwa lemak jenuh lebih besar pengaruhnya, dengan daging merah, mentega, dan produk susu berlemak penuh sebagai sumber yang umum.

Telur juga sering ikut disalahkan, padahal satu butir telur besar mengandung 186 miligram kolesterol dan hanya 1,6 gram lemak jenuh. Itu setara dengan sekitar 8 persen dari batas harian, sehingga masih bisa dinikmati dalam jumlah sedang.

Anggapan bahwa diet tanpa lemak adalah pilihan terbaik juga tidak sepenuhnya tepat. Tubuh tetap memerlukan lemak, tetapi yang disarankan adalah lemak tak jenuh seperti yang terdapat pada kenari, biji bunga matahari, biji rami, ikan berlemak, minyak zaitun, dan alpukat.

Obat kolesterol juga bukan berarti memberi kebebasan makan apa saja. Pengendalian kolesterol tetap membutuhkan pola makan sehat jantung yang mencakup buah, sayuran, biji-bijian utuh, serta sumber lemak tak jenuh seperti ikan berlemak, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun.

Mitos lain yang sering beredar adalah anggapan bahwa pemeriksaan kolesterol baru perlu dilakukan setelah usia 35 tahun. Padahal, kolesterol perlu diperiksa setiap 5 tahun sejak masa kanak-kanak hingga usia paruh baya, lalu lebih sering pada kelompok usia tertentu.

Pria usia 45 hingga 65 tahun dan wanita usia 55 hingga 65 tahun disarankan memeriksakan diri setiap 1-2 tahun sekali. Setelah usia 65 tahun, pemeriksaan dianjurkan setiap tahun, terutama bila sebelumnya sudah memiliki kolesterol tinggi.

Anak-anak juga tidak kebal. Data yang disebutkan WebMD menunjukkan 7 persen anak usia 6 hingga 19 tahun memiliki kolesterol tinggi, dan anak dengan faktor risiko seperti pola makan tidak sehat atau riwayat keluarga perlu diperiksa sejak usia 2 tahun.

Kolesterol tinggi juga tidak lebih banyak dialami pria saja. Wanita memang bisa mendapat perlindungan sebelum menopause berkat estrogen, tetapi setelah menopause kadar kolesterol dapat berubah dan penyakit jantung tetap menjadi penyebab utama kematian pada wanita.

HDL yang tinggi juga tidak otomatis menetralkan LDL tinggi. HDL memang baik, tetapi tidak bisa menutupi kolesterol total yang tinggi, sehingga pengukuran lengkap tetap penting.

Obat tetap harus diminum sesuai jadwal

Satu mitos lain yang perlu diwaspadai adalah anggapan bahwa statin boleh dilewatkan sesekali. Faktanya, statin dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 25 persen, tetapi tidak diminum dengan benar oleh sekitar 50 persen orang.

Karena manfaat obat tidak selalu terasa langsung, banyak orang merasa aman untuk melewatkan dosis. Namun jika ada efek samping atau keluhan, yang disarankan adalah berbicara dengan dokter, bukan menghentikan obat sendiri.

Berhenti merokok, rutin berolahraga sekitar 30 menit hampir setiap hari, dan menurunkan berat badan bila berlebih dapat membantu memperbaiki kadar HDL serta kesehatan jantung. Langkah-langkah itu tetap penting di samping pemeriksaan rutin dan kepatuhan minum obat.

Kolesterol tinggi bisa menyerang siapa saja, dan banyak mitos justru membuat orang terlambat memahami risikonya. Pemeriksaan rutin, pola makan sehat, olahraga, berhenti merokok, dan kepatuhan minum obat tetap menjadi langkah paling masuk akal untuk menjaga jantung tetap sehat.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terkait