Gelombang Panas Eropa Makin Mematikan, Pejabat Paris Soroti Emisi AS dan Budaya AC

Author: Redaksi Android62

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Prancis sejak akhir Juni. Sebagian besar korban dilaporkan berasal dari kelompok lanjut usia, sementara suhu udara di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celsius.

Otoritas kesehatan publik Prancis menyebut jumlah korban masih bisa bertambah selama suhu ekstrem belum mereda. Para ilmuwan juga menilai peristiwa panas kali ini termasuk yang terburuk dalam sejarah Eropa.

Tekanan pada Pemerintah dan Adaptasi Warga

Situasi tersebut kembali menyorot kesiapan negara-negara Eropa menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi. Di Prancis, kebutuhan pendingin udara meningkat, tetapi penggunaannya masih memunculkan perdebatan karena dianggap dapat menambah beban lingkungan.

Negara itu selama ini dikenal lambat mengadopsi AC. Sekitar 25 persen rumah tangga di Prancis memiliki pendingin udara, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, budaya, dan aturan bangunan.

Pulvar Salahkan Emisi dari Amerika Serikat

Polemik ikut memanas setelah Audrey Pulvar, Wakil Wali Kota Paris untuk hubungan internasional, melontarkan kritik tajam melalui media sosial. Ia menilai emisi gas rumah kaca dari Amerika Serikat ikut memperburuk pemanasan global yang membuat gelombang panas di Eropa semakin mematikan.

Pulvar juga menyinggung kebiasaan kota-kota di Amerika yang hampir sepenuhnya bergantung pada AC. Kritik itu muncul setelah sebagian turis Amerika mengejek minimnya fasilitas pendingin udara di Prancis saat suhu udara menyentuh 104 derajat Fahrenheit.

Dalam pernyataannya, Pulvar meminta warga Amerika berhenti menggurui dan mulai bertindak menghadapi krisis iklim. Ia menekankan bahwa negara penghasil emisi besar memiliki tanggung jawab atas dampak yang kini dirasakan Prancis.

Ancaman Kesehatan Semakin Serius

Badan kesehatan publik Prancis menyebut mayoritas korban yang meninggal merupakan lansia. Otoritas setempat memperingatkan bahwa jumlah korban berpotensi terus bertambah jika suhu ekstrem masih berlanjut.

Laporan World Weather Attribution bahkan menyebut fenomena panas ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim. Skala ancamannya juga disebut melampaui gelombang panas mematikan pada 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang di Prancis.

Kondisi itu memperkuat desakan agar pemerintah dan masyarakat menyesuaikan diri dengan risiko iklim yang semakin nyata. Di tengah kebutuhan perlindungan dari suhu ekstrem, perdebatan soal emisi, konsumsi energi, dan penggunaan AC masih akan terus menjadi isu besar di Eropa.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru