247 Nyawa Hilang dalam Gempa 1926, Sumatra Barat Diingatkan Tak Lengah Lagi

Gempa Padang Panjang pada 28 Juni 1926 menewaskan sedikitnya 247 orang dan merobohkan atau merusak berat 2.383 rumah. Skala kehancuran itu kembali menjadi peringatan bahwa ancaman gempa di Sumatra Barat tidak dapat diperlakukan sebagai peristiwa masa lalu.

Sebanyak 220 korban jiwa tercatat di Padang Panjang dan X Koto, wilayah yang menerima dampak paling berat. Di X Koto saja, 1.709 rumah roboh atau mengalami kerusakan berat akibat guncangan tersebut.

Kerusakan Menjalar ke Banyak Daerah

Dampak gempa tidak hanya dirasakan di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan meluas ke Fort de Kock atau Bukittinggi, Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, hingga Lubuk Sikaping.

Kerugian peristiwa 1926 itu diperkirakan mencapai sekitar 10 juta gulden. Ratusan gempa susulan yang berlangsung selama beberapa hari kemudian membuat bencana tersebut dikenang masyarakat Minangkabau sebagai Gampo Tujuh Hari.

Getaran susulan bahkan masih tercatat sampai Agustus 1926. Memori panjang mengenai guncangan itu kini dibahas kembali melalui buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya wartawan Media Indonesia, Yose Hendra.

Riwayat Gempa Besar yang Tidak Putus

Dalam forum bedah buku di Universitas Andalas, catatan sejarah menunjukkan sedikitnya sembilan gempa besar melanda Sumatra Barat sepanjang 1797 hingga 2022. Ancaman tersebut berasal dari zona subduksi Mentawai dan jalur Sesar Sumatra yang tetap aktif.

TahunPeristiwaKeterangan
1797Gempa dan tsunami MentawaiGempa besar di zona subduksi
1833Gempa MegathrustTerjadi di kawasan Mentawai
1926Gempa Padang Panjang-Lembah AnaiDikenal sebagai Gampo Tujuh Hari
2007Gempa Solok-Tanah DatarGempa besar di wilayah daratan
2009Gempa PadangMemicu kerusakan rumah dalam jumlah besar
2022Gempa Pasaman BaratGempa besar terbaru dalam catatan

Yose Hendra menjelaskan gempa besar pada jalur Sesar Sumatra pernah berulang pada 1822, 1926, dan 2007. Kawasan ini juga mengenal fenomena doublet earthquake, ketika dua gempa utama terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar berbeda.

Sekretaris Utama BNPB Rustian menilai pembelajaran dari sejarah bencana perlu diterjemahkan menjadi kesiapan yang nyata. Ia menekankan Sumatra Barat berada pada wilayah beraktivitas kegempaan tinggi, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah masih menghadapi kerentanan besar.

Mitigasi Perlu Masuk Perencanaan Pembangunan

Menurut Rustian, pengurangan risiko bencana perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang. Langkah itu penting karena gempa besar telah berulang di wilayah tersebut selama lebih dari dua abad.

Ia juga menyoroti kearifan lokal rumah panggung Minangkabau yang dinilai memiliki prinsip adaptif terhadap guncangan. Tiang bangunan yang tidak ditanam langsung ke tanah memungkinkan rumah mengikuti arah gerakan, serupa prinsip base isolator pada konstruksi modern.

Pembelajaran lain datang dari gempa Padang 2009 yang menyebabkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat. Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi menyebut rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana itu menghasilkan pelajaran tentang teknologi konstruksi, standar bangunan tahan gempa, perizinan, serta peningkatan kapasitas tukang.

Forum di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, mempertemukan akademisi, praktisi, aktivis, dan unsur lintas organisasi. Ketua Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana Universitas Andalas, Prof. Yenny Narny, menekankan masyarakat tangguh perlu dibangun melalui pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait