Gelombang kekerasan di Gaza kembali menelan korban dari kalangan sipil ketika sebuah truk pengangkut air ditembak militer Israel di kawasan Shujaiya, timur Kota Gaza. Dua saudara, Mohammed dan Eid Abu Warda, tewas dalam insiden itu, sementara satu anggota keluarga lain dilaporkan terluka dalam kondisi sedang.
Peristiwa tersebut terjadi saat kendaraan itu melintas di Jalan Mansoura untuk memenuhi kebutuhan air warga di tengah krisis kemanusiaan yang masih memburuk. Saksinya menyebut tembakan diarahkan langsung ke mobil pengangkut air, sebelum kedua korban dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Sasaran baru: kendaraan sipil yang membawa kebutuhan dasar
Serangan terhadap truk air menjadi perhatian karena air termasuk kebutuhan paling mendasar bagi warga Gaza. Di wilayah yang infrastruktur air dan sanitasinya rusak, armada tangki air selama ini menjadi penopang penting agar warga tetap bisa bertahan hidup.
Kondisi itu membuat kendaraan pengangkut air tidak sekadar menjadi sarana logistik, melainkan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan harian di tengah keterbatasan yang terus berlangsung. Saat kendaraan semacam itu justru menjadi sasaran, beban warga sipil kian berat.
Dikutip dari Anadolu, insiden di Shujaiya memperlihatkan bahwa ancaman terhadap layanan sipil masih besar di wilayah konflik. Pekerja logistik lokal pun disebut terus menghadapi risiko saat tetap bergerak untuk mendistribusikan kebutuhan pokok di bawah pembatasan dan tekanan militer.
Gencatan senjata disebut berlaku, tetapi kekerasan terus terjadi
Peristiwa penembakan ini menambah panjang daftar pelanggaran yang dilaporkan di Gaza sejak gencatan senjata disebut mulai berlaku. Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut Israel telah melakukan 2.400 pelanggaran gencatan senjata, dengan bentuk yang mencakup pembunuhan, penangkapan, pemblokiran, dan kebijakan yang memicu kelaparan.
Lembaga itu juga melaporkan akibat pelanggaran tersebut, 765 warga Palestina tewas dan 2.140 lainnya luka-luka. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan bahwa ratusan warga juga kehilangan nyawa akibat berbagai insiden serangan bersenjata sejak gencatan dimulai.
Data itu menegaskan bahwa situasi di lapangan masih jauh dari aman. Meski ada istilah gencatan senjata, warga sipil tetap menghadapi ancaman yang tidak kunjung hilang dalam aktivitas sehari-hari.
Serangan tak hanya terjadi di Shujaiya
Selain insiden di timur Kota Gaza, serangan lain juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah berbeda. Artileri militer disebut menghantam Rafah bagian barat laut dengan intensitas tinggi, sementara serangan serupa turut menyasar Khan Younis di selatan dan Jabalia di utara Gaza.
Rangkaian serangan itu membuat suasana di lapangan tetap tegang. Banyak warga berupaya kembali menjalani hidup, tetapi rasa aman belum benar-benar pulih karena ancaman militer masih muncul di beberapa titik.
Tekanan kemanusiaan yang belum mereda
Kerusakan pada sektor air dan sanitasi membuat warga Gaza sangat bergantung pada truk tangki. Karena itu, setiap gangguan terhadap kendaraan pengangkut air langsung berdampak pada akses warga terhadap kebutuhan dasar yang paling penting.
Pemerintah Gaza menyebut agresi dalam dua tahun terakhir telah melumpuhkan sebagian besar kehidupan di wilayah kantong itu. Mereka mengatakan sekitar 90 persen infrastruktur bangunan, termasuk fasilitas publik dan perumahan warga, kini hancur total.
Dalam laporan yang sama, gencatan senjata yang disebut berlaku sejak 10 Oktober 2025 seharusnya membuka ruang lebih besar bagi bantuan kemanusiaan. Namun, kejadian di Shujaiya dan laporan serangan di sejumlah wilayah lain menunjukkan bahwa ancaman terhadap warga sipil masih terus berlangsung, sementara kebutuhan akan pengawasan atas pergerakan militer tetap mendesak.
Source: www.suara.com






