Pengalaman menghadapi GERD kronis pada suaminya membuat Dera Nur Tresna, M.Kes, melihat bahwa masalah lambung tidak berhenti di keluhan fisik. Dari situ, ia kemudian mendorong pemulihan yang lebih menyeluruh lewat perubahan pola hidup, pengaturan nutrisi, dan pemahaman tubuh secara utuh.
Pendekatan itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak mudah. Setelah diagnosis GERD kronis ditegakkan, terapi medis dijalankan sekitar dua tahun, tetapi rasa takut kambuh, sulit tidur sendiri, dan kecemasan tetap ikut membebani kondisi suaminya.
Gejala yang tidak berhenti di ulu hati
Kondisi berat itu muncul ketika gejala menyerang pada malam hari dan membuat suami Dera terbangun dengan napas tersengal serta jantung berdebar. Situasi tersebut menimbulkan rasa seperti berada di ambang bahaya dan menjadi titik awal pencarian penanganan yang lebih tepat.
Bagi keluarga, GERD saat itu tidak hanya berarti nyeri atau rasa perih di lambung. Gangguan ini juga memunculkan ketakutan yang menetap, terutama ketika keluhan datang tiba-tiba saat waktu istirahat.
Dampak mental ikut menguat
Dera melihat sendiri bagaimana gangguan pencernaan dapat merusak kualitas hidup secara luas. Kecemasan, rasa waswas berlebihan, dan sulit tidur membuat keseharian suaminya ikut terganggu.
Pada fase tertentu, rasa takut terhadap kambuh justru menjadi beban baru. Masalah itu tidak berdiri sendiri, karena gejala fisik dan tekanan psikologis saling memengaruhi dalam proses pemulihan.
Mencari cara yang lebih utuh
Berbagai upaya sempat dijalankan untuk membantu kondisi tersebut. Perubahan pola makan dan beberapa pendekatan alternatif dicoba, tetapi hasilnya tidak selalu baik, bahkan sebagian justru membuat keadaan lebih tidak stabil.
Dari situ, Dera mulai mempelajari hubungan antara nutrisi, tubuh, dan respons biologis manusia. Ia lalu menilai bahwa penanganan kesehatan tidak cukup hanya mengejar gejala, melainkan perlu melihat tubuh sebagai satu kesatuan.
Ia dan suaminya kemudian menjalani perubahan gaya hidup dengan lebih disiplin. Pola makan diatur ulang, stres dikelola lebih baik, dan kebiasaan harian dibuat lebih seimbang agar pemulihan berjalan bertahap.
Nutrigenomik jadi salah satu pijakan
Dalam proses belajar itu, Dera mengenal nutrigenomik, yaitu bidang yang mengkaji interaksi antara nutrisi dan genetik. Makanan pun dipahami bukan hanya sebagai asupan, tetapi juga bagian dari proses yang dapat mendukung pemulihan tubuh.
Pendekatan tersebut dinilai relevan karena membantu melihat kebutuhan lambung dari sisi yang lebih luas. Hasilnya memang tidak instan, namun perubahan yang konsisten akhirnya menunjukkan perbaikan.
Suaminya kemudian bisa kembali beraktivitas normal dan berolahraga lagi. Bagi Dera, pengalaman itu juga membuka pertanyaan baru tentang pangan yang aman untuk lambung namun tetap nyaman dikonsumsi sehari-hari.
Lahirnya Nutriged dari pengalaman keluarga
Keresahan itu kemudian mendorong Dera meluncurkan Nutriged bersama Ramdani, seorang ahli nutraceutical. Produk ini dirancang sebagai solusi pangan fungsional berbahan alami untuk mendukung proses pemulihan lambung.
Komposisinya disebut disusun dengan kombinasi bahan yang terukur secara ilmiah. Umbi ararut digunakan untuk membantu melapisi dinding lambung, oat berperan membentuk rafting gel untuk mencegah refluks, dan susu kambing etawa dipilih karena kandungan nutrisinya.
Dera menegaskan bahwa tujuan produk tersebut bukan sekadar meredakan keluhan sesaat. Fokus utamanya adalah membantu lambung pulih secara alami melalui pendekatan yang lebih fungsional dan selaras dengan kebutuhan tubuh.
Kini, Nutriged diposisikan sebagai jawaban bagi masyarakat urban yang mencari solusi lambung yang praktis, rasional, dan mendukung kualitas hidup lebih baik. Dari pengalaman pribadi yang berat, lahir upaya kesehatan yang diarahkan untuk memberi manfaat lebih luas.
