Google Siapkan Cara Menekan Tagihan Token AI, Perusahaan Diminta Mulai dari Pilot Kecil

Author: Redaksi Android62

Google menegaskan perusahaan perlu memahami biaya token AI sejak awal agar adopsi teknologi tidak berubah menjadi lonjakan tagihan yang mengejutkan. Pendekatan itu dinilai penting sebelum penerapan AI diperluas ke seluruh organisasi.

Karim Siregar, Country Director Google Cloud Indonesia, mengatakan perusahaan harus lebih dulu menghitung biaya token serta nilai tambah yang dibawa untuk bisnis. Menurutnya, dua hal itu menjadi dasar sebelum perusahaan melangkah ke tahap implementasi yang lebih besar.

“Jadi kita harus tahu berapa cost-nya, kemudian apakah konsumsi token tersebut nilai tambahnya bagi bisnis itu apa,” kata Karim dalam media briefing di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Mulai dari tahap kecil sebelum skala besar

Karim menjelaskan, perusahaan sebaiknya menguasai perhitungan biaya dan manfaat saat masih berada di fase pilot yang kecil. Dengan begitu, perusahaan tidak kaget ketika implementasi AI naik ke level yang lebih luas dan memunculkan lonjakan biaya yang tinggi.

Google juga menawarkan solusi yang membantu perusahaan memperkirakan biaya token yang dibutuhkan untuk menjalankan kemampuan AI tertentu. Fasilitas ini ditujukan agar anggaran perusahaan dapat dihitung lebih presisi sejak awal.

Visibilitas biaya dan pilihan model yang lebih efisien

Untuk mencegah biaya token melonjak tanpa disadari, Gemini Enterprise memiliki layanan FinOps yang memberi visibilitas lebih tinggi terhadap kinerja dan biaya. Fitur ini membantu perusahaan melihat penggunaan AI secara lebih terukur.

Moe Abdula, Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, menjelaskan bahwa Google juga akan menawarkan model terbaik sesuai kebutuhan perusahaan. Saat ini, Google menyediakan lebih dari ratusan model AI untuk berbagai jenis tugas.

“Selain itu kami memiliki lapisan intelligence, yang kami sebut lapisan Vertex, yang dapat memahami berdasarkan tugas yang diminta, untuk menyarankan lebih baik menggunakan model ini karena lebih murah dibandingkan model lainnya,” kata Moe dalam kesempatan yang sama.

Dengan pendekatan itu, Google ingin membantu perusahaan memilih model yang tidak hanya sesuai kebutuhan, tetapi juga lebih efisien dari sisi biaya token. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga penggunaan AI tetap terkendali saat perusahaan mulai memperluas penerapannya.

Tim FDE diperluas di Indonesia

Selain dukungan perangkat lunak dan pemilihan model, Google juga memperluas tim Forward-Deployed Engineer (FDE) di Indonesia. Tim ini berisi engineer spesialis AI yang ditempatkan langsung di lingkungan kerja perusahaan.

Menurut Google, keberadaan tim tersebut bertujuan mengurangi risiko implementasi AI, mempercepat penerapan, dan memaksimalkan nilai investasi pelanggan Google Cloud. Dukungan itu diarahkan agar perusahaan dapat memanfaatkan inovasi AI secara optimal untuk transformasi bisnis lewat agentic AI.

Source: inet.detik.com
Berita Terbaru