Gus Ipul Tegas Larang Perundungan di Sekolah Rakyat, Siswa Minoritas Dihormati

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat harus menjadi lingkungan yang bebas dari perundungan, kekerasan, dan intoleransi. Penegasan itu mencakup larangan menghina suku maupun agama, kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual.

Pesan tersebut disampaikan kepada siswa baru Sekolah Rakyat DKI Jakarta saat Gus Ipul menemui mereka pada Sabtu (18/7) malam. Ia meminta seluruh murid membangun kehidupan asrama yang aman dan saling menghormati meski berasal dari latar belakang berbeda.

“Tidak boleh juga melakukan tindakan intoleransi yang tidak mau menghormati siapapun,” tegas Gus Ipul. Ia juga menekankan bahwa setiap siswa berharga dan tidak boleh diperlakukan secara berbeda.

Pengalaman Siswa Minoritas di Asrama

Pesan tentang toleransi menguat dari cerita Jessi, salah seorang siswa yang sempat khawatir menjadi minoritas karena berbeda keyakinan dengan teman-temannya. Kekhawatiran itu tidak terjadi karena teman-temannya menerima dan merangkulnya sejak hari pertama tinggal di asrama.

Jessi bahkan terbiasa bangun ketika teman-temannya dibangunkan untuk salat tahajud, lalu menjalankan ibadahnya sendiri. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya sikap saling menghormati dalam kehidupan bersama di lingkungan pendidikan berasrama.

Jessi sebelumnya sempat putus asa karena tidak dapat melanjutkan pendidikan. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek online, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Kehadiran Sekolah Rakyat membuat Jessi kembali memiliki kesempatan menatap masa depan. Ceritanya menjadi salah satu gambaran bahwa akses pendidikan perlu disertai suasana yang melindungi seluruh siswa.

Adaptasi pada Masa Awal Tinggal

Pertemuan dengan Gus Ipul berlangsung pada akhir pekan pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Masa ini menjadi tahap awal bagi siswa untuk menyesuaikan diri dengan ritme belajar dan tinggal di asrama.

Gus Ipul mengakui hari-hari pertama dapat terasa berat bagi sebagian anak. Rasa rindu kepada orang tua dan jadwal kegiatan yang padat menjadi tantangan yang kerap muncul pada awal masa tinggal.

Menurutnya, para siswa akan semakin terbiasa setelah menjalani proses belajar selama satu hingga dua bulan. “Memang hari pertama, kedua, ketiga, kadang-kadang masih ingat orang tua, masih belum bisa mengikuti jadwal yang padat, tapi percayalah nanti satu bulan, dua bulan yang akan datang, anak-anakku akan bisa mengikuti proses pembelajaran di sekolah rakyat,” ujar Gus Ipul.

Calysta, 12 tahun, menyampaikan pengalaman serupa saat berdialog dengan Gus Ipul. Ia mengaku sempat menangis dan merindukan orang tua sebelum akhirnya mampu beradaptasi.

“Pertama nangis, kedua kangen orang tua, ketiga sudah terbiasa,” ujar Calysta yang disambut tepuk tangan teman-temannya. Cerita itu menggambarkan proses penyesuaian yang dijalani siswa baru pada masa awal pendidikan berasrama.

Pendampingan dan Fasilitas Pendidikan

Gus Ipul menyatakan pendampingan bagi siswa akan dilakukan oleh guru, wali asuh, dan wali asrama. Ia merujuk pengalaman angkatan pertama yang menunjukkan siswa dengan kepercayaan diri rendah dapat berkembang setelah memperoleh pembinaan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menanyakan tanggapan murid mengenai sarana dan prasarana gedung permanen Sekolah Rakyat. Para siswa menjawab bahwa kondisi gedung yang telah mereka tempati dan gunakan sudah bagus, meski pembangunan belum seluruhnya rampung.

Gus Ipul berharap fasilitas yang tersedia dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan para siswa. Ia menilai setiap murid memiliki bakat, nilai, dan kelebihan yang perlu dikembangkan melalui proses belajar yang terarah.

Jumlah Siswa Baru

Sekolah Rakyat DKI Jakarta menampung siswa baru dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Data penjangkauan siswa baru yang disampaikan CNN Indonesia menunjukkan jumlah terbanyak berasal dari jenjang SMP dan SMA.

Jenjang PendidikanJumlah Siswa Baru
SMA90 siswa
SMP90 siswa
SD27 siswa

Setelah berdialog, Gus Ipul mengajak para siswa berdoa bersama dan meninjau asrama serta gedung permanen. Kehidupan bersama bagi siswa dari tiga jenjang itu diharapkan bertumpu pada penghormatan, pendampingan, dan pencegahan perundungan.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait