Hampir Semua Titik Lumpuh Lumpur Sudah Dibersihkan, Satu Lokasi Terakhir Tentukan Pemulihan Sumatera

Pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat semakin mendekati tahap akhir setelah hampir seluruh titik pembersihan lumpur selesai ditangani. Dari total 691 sasaran pembersihan, 690 titik sudah bersih atau setara 99,86 persen, dan hanya satu lokasi di Sumatera Utara yang masih menjadi pekerjaan tersisa.

Capaian itu membuat fase pemulihan berikutnya sangat ditentukan oleh penyelesaian titik terakhir tersebut. Pembersihan lumpur menjadi langkah penting karena berhubungan langsung dengan terbukanya akses permukiman, pulihnya aktivitas warga, serta bergeraknya kembali kegiatan ekonomi di daerah terdampak.

Di tiga provinsi itu, Aceh dan Sumatera Barat sudah menuntaskan seluruh titik pembersihan lumpur. Sementara itu, Sumatera Utara masih menyisakan satu lokasi yang belum selesai ditangani oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, atau Satgas PRR, Pascabencana Sumatera.

Juru Bicara Satgas PRR Amran menyampaikan bahwa seluruh titik di Sumatera Barat telah bersih sepenuhnya. Ia juga menjelaskan bahwa di Sumatera Utara tinggal satu lokasi yang masih dalam proses penanganan.

Di Aceh, pembersihan dilakukan di beberapa daerah terdampak, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, dan Bireuen. Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan sasaran terbanyak, yaitu 259 lokasi, dan seluruhnya sudah selesai dibersihkan.

Penyelesaian di wilayah-wilayah tersebut penting karena lumpur yang menutup permukiman dan fasilitas terdampak menghambat mobilitas masyarakat. Setelah material lumpur berangsur hilang, akses warga mulai terbuka kembali dan pergerakan di lingkungan terdampak ikut membaik.

Untuk mempercepat proses di lapangan, Satgas PRR mengerahkan berbagai unsur bantuan. Salah satunya adalah Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang diterjunkan dalam tiga gelombang untuk membantu pembersihan lumpur di Aceh Tamiang.

Selain itu, Satgas PRR juga menjalankan skema cash for work dengan melibatkan warga setempat dalam proses pembersihan. Skema ini mempercepat pengangkutan material lumpur sekaligus memberi penghasilan bagi masyarakat terdampak selama masa pemulihan.

Keterlibatan unsur lintas pihak dan warga setempat membantu mempercepat rehabilitasi di daerah terdampak. Dengan hanya tersisa satu titik pembersihan, upaya pemulihan Sumatera kini tinggal menunggu penyelesaian terakhir sebelum aktivitas sosial dan ekonomi bergerak lebih normal.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait