Presiden Trump menepis perkiraan bahwa harga bensin baru akan kembali ke level $3 per galon pada 2027. Saat ditanya soal proyeksi itu, Trump menyebut Energy Secretary Chris Wright “totally wrong”, sehingga muncul perbedaan terbuka antara pernyataan Gedung Putih dan penilaian dari pejabat energinya sendiri.
Pernyataan itu muncul di tengah pasar energi yang masih bergejolak, ketika rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat berada di $4.042 per galon. Angka tersebut memang sudah turun dari puncak terbaru, tetapi belum cukup meredakan tekanan yang dirasakan konsumen dan pelaku pasar.
Sinyal berbeda dari Gedung Putih
Chris Wright sebelumnya mengatakan di CNN bahwa harga bensin kemungkinan sudah mencapai titik tertinggi. Namun, ia juga menegaskan bahwa harga di bawah $3 per galon belum tentu datang dalam waktu dekat.
Wright memperkirakan penurunan itu bisa terjadi “later this year or perhaps next year.” Ia menambahkan bahwa salah satu faktor yang dapat membantu menekan harga adalah berakhirnya perang di Iran, karena konflik tersebut ikut mendorong biaya energi.
Pandangan itu tidak sejalan dengan komentar Trump, yang menolak keras kemungkinan bahwa harga bensin masih akan tertahan jauh lebih lama. Ketidaksepakatan ini memperlihatkan bahwa belum ada satu pandangan yang benar-benar solid di lingkaran pemerintahan soal arah harga bahan bakar.
Pasar masih sensitif terhadap gangguan pasokan
Pergerakan harga bensin dalam waktu singkat menunjukkan betapa cepat pasar merespons risiko geopolitik. Dalam sekitar satu bulan, rata-rata nasional naik dari sekitar $2.95 per galon menjadi lebih dari $4 per galon.
Kenaikan itu juga membuat harga saat ini sekitar $0.89 lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Bagi konsumen, perubahan seperti ini cepat terasa karena kenaikan harga minyak biasanya segera memengaruhi harga di pompa bensin.
Tekanan ini tidak muncul dari kondisi pasar biasa. International Energy Agency atau IEA menyebut perang yang sedang berlangsung telah memicu “most severe oil supply shock in history,” yang menandakan gangguan pasokan minyak berada pada level yang sangat serius.
Selat Hormuz tetap jadi titik krusial
IEA menilai arus minyak melalui Selat Hormuz adalah faktor paling penting untuk meredakan tekanan harga. Lembaga itu menyatakan, “resuming flows through the Strait of Hormuz remains the single most important variable in easing the pressure on energy supplies, prices and the global economy.”
Data yang disampaikan IEA juga menunjukkan cadangan minyak global turun 85 juta barel pada Maret. Selain itu, stok di luar Middle East Gulf menyusut 205 juta barel karena aliran melalui Selat Hormuz terganggu.
Situasi di jalur itu membuat pasar energi tetap waspada. Selama pengiriman minyak belum kembali normal, ruang untuk penurunan harga bensin juga masih terbatas.
Ketegangan menambah ketidakpastian
Alih-alih mereda, ketegangan justru bertambah setelah Amerika Serikat disebut menyita sebuah kapal kargo Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup, sehingga risiko terhadap pasokan energi ikut meningkat.
Kondisi ini juga membuat pembicaraan damai semakin sulit dipastikan. Iran disebut mengancam akan membalas penyitaan kapal, sementara eskalasi yang berkembang membuat harapan penurunan tekanan energi bergantung pada situasi yang belum stabil.
Wright tetap berpegang pada keyakinan bahwa biaya energi akan turun setelah perang berakhir. Namun, rangkaian peristiwa terbaru menunjukkan bahwa waktu terjadinya penurunan itu masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan lancar tidaknya arus minyak melalui Selat Hormuz.
