Harga minyak mentah Brent langsung merespons kabar dari kawasan Timur Tengah dengan penurunan lebih dari 11 persen dan bergerak ke sekitar 88 dolar AS per barel di London. Pergerakan tajam ini terjadi setelah Iran membuka kembali akses Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial penuh menyusul tercapainya gencatan senjata di Lebanon.
Langkah Iran tersebut dipandang pasar sebagai sinyal meredanya ketegangan yang sempat menekan sentimen global. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling penting bagi arus perdagangan energi dunia, sehingga setiap perubahan status akses di kawasan itu cepat memengaruhi harga minyak.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan seluruh kapal komersial dapat kembali melintas selama sisa masa gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga menyebut pelayaran akan diarahkan melalui rute yang sudah dikoordinasikan oleh otoritas maritim Iran.
Bagi pelaku pasar, kepastian akses di jalur tersebut menjadi poin krusial. Kapal niaga yang bergantung pada Selat Hormuz untuk distribusi internasional membutuhkan jaminan bahwa rute pelayaran tetap aman dan dapat digunakan tanpa hambatan berarti.
Iran menegaskan keamanan jalur pelayaran akan dijaga selama jeda pertempuran berlangsung. Pernyataan ini memperkuat pembacaan bahwa pembukaan kembali selat bukan sekadar langkah teknis, melainkan juga bagian dari upaya menurunkan tensi di tengah situasi regional yang sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Sinyal tersebut ikut dibaca sebagai bentuk deeskalasi yang bisa membantu meredakan kekhawatiran pasar. Sebelum kabar ini muncul, ketegangan di kawasan telah mendorong investor menghitung ulang risiko gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut pengumuman pembukaan Selat Hormuz dengan nada positif melalui unggahan di media sosial. Sebelumnya, ia juga mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Hizbullah pada Kamis malam.
Trump menuliskan pesan singkat, “SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH,” sebagai tanggapan atas kabar tersebut. Respons itu memperlihatkan dukungan politik terhadap kembalinya aktivitas penuh di jalur strategis itu di tengah upaya meredakan konflik yang masih berlangsung.
Selat Hormuz bukan jalur pelayaran biasa karena posisinya sangat strategis dalam perdagangan energi internasional. Saat aksesnya dibatasi, pasar biasanya bergerak cepat karena risiko pengiriman dan pasokan langsung ikut dihitung ulang oleh pelaku usaha.
Karena itu, normalisasi akses Selat Hormuz memberi ruang lebih besar bagi stabilitas harga minyak. Informasi dari Bloombergtechnoz menyebut pembukaan akses penuh tersebut diharapkan dapat menekan eskalasi yang sebelumnya telah merambat ke sektor ekonomi global.
Di Lebanon sendiri, situasi dilaporkan masih kondusif hingga Jumat sore waktu setempat. Kondisi yang relatif tenang ini menjadi faktor penting bagi kelanjutan gencatan senjata dan bagi terbukanya peluang diplomasi di tengah dinamika kawasan yang masih rapuh.
