Harga TBS Masih Tertekan Saat CPO Menguat, Amran Minta GAPKI dan Wilmar Diperiksa

Harga Tandan Buah Segar sawit kembali menjadi sorotan setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, GAPKI, dan perwakilan Wilmar Group dalam rapat di Kementerian Pertanian. Amran mempertanyakan mengapa harga TBS justru jatuh ketika harga CPO dunia menguat dan dolar AS ikut menanjak.

Rapat itu tidak hanya dihadiri pelaku usaha, tetapi juga asosiasi petani, refinery, dan Satgas Pangan. Forum tersebut membahas pengendalian harga TBS dan minyak sawit mentah atau CPO yang dinilai belum bergerak sesuai kondisi pasar global.

Harga petani jadi titik utama

Amran menilai penurunan harga di tingkat petani tidak masuk akal jika melihat situasi pasar internasional. Ia menegaskan bahwa kebijakan harga ini menyangkut kehidupan jutaan orang, dan menyebut ada 15 juta orang yang terdampak.

Di forum yang disiarkan langsung itu, Amran juga meminta keterbukaan dari semua pihak yang hadir. Ia menolak alasan ketidakpastian pasar dijadikan pembenar untuk menekan harga TBS dan CPO di dalam negeri.

Menurut Amran, harga TBS dan CPO di dalam negeri sebenarnya mulai membaik bertahap sejak PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI resmi beroperasi sebagai regulator pada 1 Juni. Namun, ia menilai harga di tingkat petani belum pulih sepenuhnya.

GAPKI sebut pasar sempat panik

Ketua Umum GAPKI, Edy Martono, menjelaskan bahwa pasar bereaksi panik setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT DSI sebagai eksportir tunggal sawit pada 20 Mei. Ia mengatakan pelaku usaha belum mengetahui skema dan kewenangan perusahaan baru itu.

Edy menambahkan, kondisi tersebut membuat pelaku usaha kesulitan menjawab pertanyaan dari pembeli di Uni Eropa dan negara importir lain. GAPKI juga disebut sudah berupaya meminta kejelasan ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Namun, saat isu itu berkembang, kedua instansi tersebut juga belum mengetahui detail kebijakan yang dimaksud. Penjelasan itu tidak membuat Amran puas karena ia tetap menilai harga tidak layak ditekan dalam situasi yang merugikan petani.

Amran sorot Wilmar dan dugaan permainan harga

Setelah menekan GAPKI, Amran beralih ke Direktur Wilmar Group, Tenang Sembiring. Di hadapan forum, Tenang menjelaskan bahwa pengumuman PT DSI membuat pembentukan harga gagal dalam proses lelang CPO di KPB Nusantara, anak usaha PTPN.

Ia menyebut harga tidak terbentuk di KPB karena situasi tersebut. Informasi lain yang muncul dalam rapat menyebut kegagalan harga juga dipicu tawaran dari perusahaan refinery yang terlalu rendah.

Penjelasan itu membuat Amran semakin geram. Ia langsung meminta pemeriksaan terhadap daftar perusahaan penawar rendah tersebut dan menilai ada permainan harga yang merugikan petani.

Tenang kemudian mengklarifikasi bahwa proses lelang CPO di KPB kembali berjalan normal pada 2 Juni. Meski begitu, perwakilan petani yang hadir menyampaikan bahwa harga TBS di lapangan masih belum stabil.

Dorongan untuk kembalikan harga normal

Amran meminta agar harga TBS dan CPO kembali ke tingkat normal seperti sebelum pengumuman PT DSI. Ia menegaskan bahwa harga komoditas dalam negeri tidak semestinya melemah ketika harga CPO internasional masih tinggi dan dolar AS menguat.

Dalam rapat itu, Amran juga meminta pemeriksaan terhadap surat-surat yang telah ia kirimkan sebelumnya. Ia menyebut ada hampir 300 perusahaan yang perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada pihak yang bermain harga.

Amran turut menyinggung tengkulak dan meminta aparat terkait hadir untuk menelusuri persoalan sampai ke akar. Ia menilai langkah tegas diperlukan agar jutaan petani sawit yang mengelola lebih dari 16 juta hektar lahan tidak terus dirugikan.

Rapat koordinasi tersebut akhirnya mengarah pada kesepakatan untuk memulihkan harga TBS dan CPO seperti sebelum pengumuman PT DSI. Namun di lapangan, perhatian utama masih tertuju pada apakah harga di tingkat petani akan ikut pulih atau tetap tertahan.

Berita Terkait