Honda Vario Evo 160 terbaru menonjol bukan karena ubahan besar pada mesin, melainkan karena respons gas yang terasa lebih sigap di putaran bawah. Tenaga puncaknya memang tetap 15,3 PS, tetapi torsi naik menjadi 14 Nm dari sebelumnya 13,8 Nm.
Kenaikan 0,2 Nm itu terlihat kecil di atas kertas, namun efeknya disebut terasa saat motor dipakai harian. Dalam kondisi lalu lintas stop-and-go, karakter akselerasinya menjadi lebih padat, sementara respons sampai ke kecepatan puncak juga diklaim membaik.
Kalibrasi Ulang Mesin ESP+
Mesin yang dipakai masih mengandalkan arsitektur 4-tak, SOHC, 4-katup, berpendingin cairan, dengan teknologi ESP+. Diameter piston dan langkah piston tidak berubah dari versi standar, sehingga karakter dasar mesin 160 cc ini tetap dikenal kuat di putaran tengah hingga atas.
Penyegaran utamanya ada pada kalibrasi ulang timing pengapian di ECM. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan performa bawah tanpa mengubah basis mesin secara ekstrem.
Konsumsi bahan bakar yang diklaim pabrikan berada di angka 46 km/liter. Bagi skutik harian, angka tersebut menjadi salah satu nilai jual penting di tengah kebutuhan komuter yang menuntut efisiensi sekaligus kelincahan.
Bodi Lebih Ramping dan Buritan Lebih Tegas
Perubahan visual diarahkan ke kesan yang lebih sporty, agresif, dan aerodinamis. Penyusutan modul bodi dan penyesuaian proporsi panel membuat tampilannya terasa lebih kecil dan tajam tanpa mengubah dimensi dasar secara keseluruhan.
Area depan menjadi bagian yang paling mudah dikenali karena cover plat nomor kini dibuat lebih proporsional. Motif sarang tawon di sisi belakang juga ditambahkan untuk memperkuat kesan modern.
Posisi batok pelindung setang belakang digeser sedikit lebih mundur agar alurnya menyatu dengan bodi deck atas. Di bagian belakang, struktur utama masih serupa, tetapi ornamen bodi kasar baru dan desain behel yang lebih tajam membuat buritan terlihat lebih tegas.
Ruang Kaki Bertambah Lega
Pembaruan yang paling terasa bagi pengendara ada di area kaki. Revisi lekukan bodi bagian dalam membuat ruang lutut jauh lebih lega, terutama bagi pengguna dengan tinggi badan 170 cm ke atas.
Pada versi sebelumnya, lutut lebih mudah mentok ke bodi depan. Di versi Evo ini, bahkan saat setang dibelokkan penuh, masih ada jarak aman antara lutut dan setang.
Ergonominya tetap mempertahankan tinggi jok 778 mm dan ground clearance sekitar 138 mm. Setang dibuat cukup lebar dan sedikit menekuk ke arah pengendara agar posisi berkendara terasa sigap, sporty, dan tetap memiliki visibilitas luas lewat spion standar.
Deck bawah masih memakai struktur tulangan underbone yang tidak terlalu lebar. Ruang ini masih cukup untuk pijakan kaki, termasuk bagi pengguna dengan ukuran sepatu 44, meski belum ideal untuk membawa barang besar seperti galon air mineral secara melintang.
Permukaan deck juga sudah diberi pola grip bertekstur kesat agar sol sepatu tidak mudah selip saat hujan. Meski begitu, karakter jok masih terasa kaku dan agak keras, dengan kontur yang membuat pengendara sedikit merunduk ke depan serta pembatas yang tegas antara area depan dan belakang.
Handling Ringan, Bobot Naik Tipis
Dalam pengujian di trek safety riding Astra Honda Motor di Cikarang, stabilitas berkendara disebut tetap terjaga. Seluruh varian, yaitu CBS, CBS Metro, dan ABS, mendapat kenaikan bobot 1 kg, tetapi totalnya masih berada di bawah 120 kg.
Bobot yang masih ringan itu membuat impresi berkendara tetap lincah dan mirip membawa Vario 125. Karakter tersebut juga ditopang rangka eSAF yang tidak mengalami perubahan struktur.
Suspensi depan masih teleskopik konvensional, sementara belakang tetap memakai model tunggal di sisi kiri dengan tabung yang cukup padat. Untuk varian tertinggi, kombinasi ban Federal 100/80 ring 14 di depan dan 120/70 ring 14 di belakang memberi karakter yang pas untuk komuter harian.
Redamannya cenderung empuk saat melewati gundukan jalan dan tidak memunculkan gejala membal yang berlebihan. Saat diajak berbelok, motor masih terasa stabil, meski pada kondisi berboncengan dan kecepatan tinggi buritan bisa menunjukkan sedikit gejala goyang.
Rem ABS dan Tiga Varian yang Dipasarkan
Di sisi pengereman, varian ABS memakai cakram depan 240 mm dengan kaliper Nisin 1-piston berwarna emas atau bronze. Roda belakang juga sudah memakai cakram, sedangkan tipe CBS terendah masih menggunakan rem tromol di belakang.
Sistem ABS yang dipakai adalah single-channel, sehingga pencegah roda mengunci hanya aktif di roda depan. Saat tuas rem depan ditarik kuat pada kecepatan 60 km/jam, gejala penguncian dapat dieliminasi dengan baik dan respons modulator terasa halus.
Sebaliknya, rem belakang tetap bergantung pada sistem konvensional tanpa ABS. Jika ditarik mendadak dan keras, roda belakang masih berpotensi mengunci dan memunculkan suara decitan di aspal.
| Varian | Rem Belakang | Fitur ABS | Keterangan Harga |
|---|---|---|---|
| CBS | Tromol | Tidak ada | Penyesuaian harga tipis |
| CBS Metro | Cakram | Tidak ada | Penyesuaian harga tipis |
| ABS | Cakram | Single-channel | Kisaran Rp31 jutaan |
Honda Vario Evo 160 dipasarkan dalam varian CBS, CBS Metro, dan ABS. Penyesuaian harga tiap varian disebut masih tipis, yakni di bawah Rp500.000 dibanding model sebelumnya.
