Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah Gedung Putih menyebut Donald Trump dan Xi Jinping memiliki pandangan yang sama: jalur sempit itu harus tetap terbuka. Bagi pasar energi global, pesan ini penting karena Hormuz menjadi salah satu titik paling rawan yang dapat mengganggu arus minyak dan gas dunia.
Pemerintah Amerika Serikat menekankan bahwa kedua pemimpin mendukung kelancaran pelayaran di kawasan tersebut agar pasokan energi tidak tersendat. Di jalur yang sangat strategis ini, gangguan kecil saja dapat memicu dampak besar bagi distribusi energi internasional.
Hormuz tetap jadi titik vital energi dunia
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai lintasan utama bagi pasokan energi dari kawasan Teluk. Karena perannya yang besar, kawasan ini kerap mempengaruhi sentimen pasar setiap kali muncul ketegangan baru di Timur Tengah.
Kondisi itu membuat isu keamanan jalur pelayaran di Hormuz selalu masuk dalam pembicaraan tingkat tinggi. Ketika akses ke jalur ini terganggu, arus minyak dan gas dunia ikut terancam.
China berada dalam posisi paling rentan
China termasuk negara yang paling terdampak jika jalur tersebut tidak stabil. Data perusahaan analis maritim Kpler menunjukkan bahwa lebih dari separuh impor minyak mentah China yang dikirim lewat jalur laut berasal dari Timur Tengah dan mayoritas melewati Selat Hormuz.
Fakta itu menjelaskan mengapa Beijing punya kepentingan langsung atas stabilitas kawasan tersebut. Bila Hormuz terganggu, pasokan energi China dapat ikut terpukul dan ruang gerak perdagangan maritimnya menjadi lebih sempit.
Gedung Putih juga mengklaim Xi menunjukkan minat untuk membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat. Klaim ini dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan China pada jalur Hormuz, meski tidak disebutkan dalam pernyataan resmi Beijing.
Pembicaraan di Beijing ikut membahas isu yang lebih luas
Trump dan Xi bertemu di Aula Besar Rakyat, Beijing, dalam kunjungan kenegaraan Trump yang sempat tertunda. Lawatan itu disebut sebagai kunjungan pertama Presiden AS ke China dalam satu dekade terakhir dan disambut Xi dengan karpet merah serta seremoni kenegaraan.
Gedung Putih menyebut pertemuan berlangsung baik dan membuka peluang untuk memperkuat kerja sama ekonomi. Dalam penjelasannya, pemerintah AS mengatakan kedua pemimpin juga membahas cara memperkuat hubungan ekonomi di tengah ketegangan yang masih tersisa.
Pemerintah China tidak menyinggung kesepakatan soal Hormuz dalam pernyataan resminya. Kementerian Luar Negeri China hanya menyebut kedua kepala negara bertukar pandangan mengenai isu internasional dan regional utama, termasuk Timur Tengah, krisis Ukraina, dan Semenanjung Korea.
Bayang-bayang Taiwan tetap hadir
Selain energi dan ekonomi, isu Taiwan juga berada di latar pembicaraan kedua pemimpin. Gedung Putih tidak menyinggung persoalan itu secara terbuka dalam ringkasan pembicaraan, tetapi media pemerintah China sebelumnya melaporkan bahwa Xi memberi peringatan kepada Trump soal potensi konflik jika masalah Taiwan tidak ditangani dengan hati-hati.
Xi menegaskan bahwa masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS. Ia juga menyebut penanganan yang keliru dapat menyeret hubungan kedua negara ke situasi yang sangat berbahaya.
Dengan dorongan agar Hormuz tetap terbuka, pembahasan energi di pertemuan Trump dan Xi menunjukkan bahwa jalur itu masih menjadi simpul sensitif dalam diplomasi internasional. Bagi China, kelancaran Hormuz sangat menentukan pasokan energi, sementara bagi Amerika Serikat dan mitranya, keterbukaan jalur tersebut menjadi syarat penting bagi stabilitas perdagangan global.
