Harga minyak langsung melonjak setelah Iran menutup Selat Hormuz pada akhir pekan, hanya sehari setelah jalur itu sempat dibuka kembali. Langkah tersebut diambil dengan alasan adanya blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, dan efeknya cepat terasa di pasar energi global.
Di saat yang sama, konflik di Timur Tengah juga terus memanas di darat dan laut. Israel, Lebanon, Iran, Suriah, serta Amerika Serikat saling melontarkan langkah militer dan diplomatik yang membuat gencatan senjata yang baru berjalan kembali terlihat sangat rapuh.
Risiko baru di Lebanon selatan
Di Lebanon selatan, sebagian warga yang sempat mengungsi mulai kembali ke rumah mereka. Namun, Israel meminta masyarakat tidak pulang ke puluhan desa karena menilai aktivitas Hezbollah di wilayah itu melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pekan lalu.
Situasi di lapangan tetap tegang karena sejumlah infrastruktur masih terdampak serangan. Militer Lebanon mengatakan telah membuka kembali jalan dan jembatan antara Nabatieh dan Khardali yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel di selatan.
Pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kemudian menambah kekhawatiran. Ia menegaskan pasukannya akan memakai “full force” di Lebanon jika tentaranya menghadapi ancaman dari Hezbollah, termasuk ketika gencatan senjata masih berlaku.
Ucapan itu menunjukkan jeda pertempuran belum benar-benar menurunkan risiko eskalasi. Warga sipil di area perbatasan tetap berada dalam posisi paling rentan saat ancaman balasan militer masih terus keluar dari kedua pihak.
Jalur diplomasi belum memberi hasil
Di tengah meningkatnya tekanan di lapangan, upaya perundingan juga belum memperlihatkan jalan keluar yang kuat. Iran dilaporkan tidak berencana menghadiri pembicaraan dengan Amerika Serikat, meski Presiden Donald Trump mengatakan telah mengirim negosiator ke Islamabad.
Media negara Iran menyebut tidak ada rencana untuk ikut putaran berikutnya dari dialog Iran-AS. Sikap itu membuat peluang meredanya konflik lewat jalur diplomasi masih terlihat lemah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menyebut percakapan itu “hangat dan konstruktif”. Ia juga mengatakan Pakistan siap menjadi mediator di tengah situasi yang belum menunjukkan arah penyelesaian yang jelas.
Ketegangan ikut bergeser ke laut
Selain di darat, ketegangan juga merembet ke jalur pelayaran strategis. Trump mengatakan kapal perusak USS Spruance menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran, Touska, lalu marinir AS memeriksa isi kapal tersebut.
Iran kemudian mengklaim telah meluncurkan drone ke arah kapal-kapal militer AS setelah salah satu kapal miliknya disita. Jika klaim itu benar, insiden ini memperlihatkan bahwa ketegangan dapat bergeser cepat ke medan laut yang sangat sensitif bagi keamanan kawasan.
Dampaknya langsung terasa di pasar yang sangat bergantung pada stabilitas jalur energi. Penutupan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian besar karena jalur tersebut merupakan salah satu titik paling penting bagi pergerakan energi global.
Suriah, Iran, dan tekanan yang makin melebar
Di Iran, otoritas kehakiman mengatakan telah mengeksekusi dua pria yang dinyatakan bersalah memiliki kaitan dengan badan intelijen Israel. Situs Mizan Online menyebut hukuman mati Mohammad Masoom-shahi dan Hamed Validi dilakukan pada dini hari.
Sementara itu, di Suriah, pasukan pemerintah mengklaim menggagalkan serangan lintas batas di provinsi selatan Quneitra oleh sel yang disebut terkait Hezbollah. Pemerintah Suriah menyebut rencana itu melibatkan peralatan peluncur roket yang disembunyikan di kendaraan sipil, sedangkan Hezbollah membantah tuduhan tersebut.
Masih dari Lebanon selatan, militer Israel juga menanggapi foto yang beredar di media sosial tentang seorang tentara di Lebanon selatan yang memukul patung Yesus Kristus. Tentara Israel mengatakan gambar itu autentik dan berasal dari salah satu pasukannya, lalu mengecam tindakannya sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai yang diharapkan dari personel militer.
Dampak politik dan ekonomi merambat lebih jauh
Gelombang ketegangan itu ikut memengaruhi sentimen di Eropa. Bursa saham Eropa dibuka melemah karena pelaku pasar merespons negatif kabar bahwa Tehran belum berencana hadir dalam pembicaraan damai.
Pada saat yang sama, perhatian dunia tetap tertuju pada jaminan keamanan jalur energi. Ancaman terhadap Selat Hormuz membuat faktor perdagangan minyak kembali menjadi titik paling sensitif dalam konflik yang belum mereda.
Prancis juga masuk dalam perkembangan terbaru setelah menyebut Presiden Emmanuel Macron akan bertemu Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam di Paris. Pertemuan itu berlangsung sehari setelah seorang penjaga perdamaian Prancis tewas di Lebanon, saat gencatan senjata 10 hari masih dipandang sangat rapuh.
Iran turut mengumumkan akan kembali membuka penerbangan internasional dari bandara Mashhad di timur laut negara itu pada Senin. Langkah ini memberi sinyal aktivitas normalisasi terbatas, tetapi belum cukup untuk meredakan rangkaian tekanan militer, diplomatik, dan ekonomi yang masih terus bergerak di berbagai titik kawasan.







