Hujan Masih Mengintai Saat Angin Timur Menguat, BMKG Ingatkan Puncak Cuaca Peralihan Selama Sepekan

Author: Redaksi Android62

BMKG memperingatkan hujan belum akan benar-benar hilang meski sebagian wilayah Indonesia mulai bergerak menuju musim kemarau. Dalam beberapa hari ke depan, Monsun Australia diperkirakan semakin menguat dan membuat pola angin timuran makin dominan di banyak wilayah.

Aliran angin itu membawa massa udara yang relatif kering dari Benua Australia. Namun, kondisi atmosfer masih cukup aktif sehingga hujan tetap berpeluang turun dalam sepekan ke depan, terutama pada sore hingga malam hari.

Peralihan musim ini juga mulai terasa dari perubahan suhu harian yang lebih kontras. Pagi hingga siang bisa terasa lebih panas karena radiasi matahari lebih kuat, lalu awan hujan lebih mudah tumbuh ketika memasuki sore dan malam.

BMKG menjelaskan, masa transisi seperti ini kerap memunculkan hujan lokal yang tidak merata. Hujannya biasanya berlangsung singkat, tetapi intensitasnya dapat mencapai sedang hingga lebat dan disertai kilat serta angin kencang.

Pola hujan belum seragam

Masuknya Indonesia ke periode kemarau tidak otomatis membuat cuaca menjadi kering merata. Dinamika atmosfer yang masih aktif membuat hujan tetap berpotensi muncul di berbagai wilayah, meski karakter cuacanya berubah-ubah.

Salah satu pemicu utamanya adalah Madden-Julian Oscillation atau MJO yang saat ini berada pada fase 2 di wilayah Samudra Hindia. Fenomena ini diprediksi melintasi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Maluku, hingga Papua Barat.

Selain MJO, gelombang atmosfer juga ikut memperbesar peluang terbentuknya hujan. Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, hingga Nusa Tenggara Timur dan perairan di sekitarnya.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di Aceh, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua Barat Daya. Kombinasi dua gelombang ini membuat sejumlah wilayah, terutama Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi, berpotensi mengalami hujan yang lebih signifikan.

Sirkulasi regional ikut memperkuat awan

Pada skala yang lebih luas, BMKG juga memantau adanya sirkulasi siklonik di beberapa perairan. Pantauan itu meliputi Samudra Pasifik utara Maluku Utara, Selat Makassar, Samudra Hindia barat Aceh, dan barat Sumatra Barat.

Sirkulasi tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di banyak wilayah. Area itu mencakup Selat Malaka, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Laut Banda dan Sulawesi, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.

Kondisi ini membuat cuaca dalam beberapa hari ke depan cenderung berubah-ubah. BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap hujan lebat yang disertai kilat dan angin kencang pada sore hingga malam hari karena dapat mengganggu aktivitas harian.

Source: www.kompas.tv
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru