Hutama Karya kembali mencatat pengakuan regional setelah masuk Fortune Southeast Asia 500 edisi 2026 dan menempati posisi ke-206. Capaian itu menegaskan daya tahan perusahaan di tengah persaingan ketat 109 perusahaan Indonesia yang masuk daftar 500 korporasi terbesar di Asia Tenggara.
Yang menonjol, Hutama Karya bukan hanya hadir di daftar tersebut, tetapi juga mempertahankan keikutsertaan selama tiga tahun berturut-turut sejak pemeringkatan itu pertama kali dirilis pada 2024. Di antara BUMN infrastruktur, perusahaan ini menjadi satu-satunya yang konsisten masuk daftar selama periode tersebut.
Kinerja laba dan aset menjadi penopang
Fortune Southeast Asia 500 tidak semata-mata mengukur pendapatan, melainkan juga menilai kekuatan perusahaan dari sisi lain. Dalam pemeringkatan itu, Hutama Karya justru tampil lebih baik pada metrik laba dan aset dibandingkan posisi berdasarkan pendapatan.
Perusahaan berada di peringkat ke-167 berdasarkan laba dan ke-114 berdasarkan total aset. Sementara itu, berdasarkan pendapatan, Hutama Karya menempati posisi ke-206, yang menunjukkan fondasi usaha tetap kuat meski kompetisi kawasan terus meningkat.
Pada tahun fiskal 2025, Hutama Karya membukukan pendapatan konsolidasi Rp 25,13 triliun atau setara US$1.527,3 juta. Laba bersihnya justru tumbuh 15,9 persen menjadi Rp 3,08 triliun atau US$200 juta, dengan total aset mencapai Rp 189,09 triliun atau US$11.343,6 juta.
Direktur Keuangan Hutama Karya, Eka Setya Adrianto, menilai capaian itu mencerminkan kualitas pertumbuhan yang tidak sekadar bertumpu pada skala usaha. Ia menyebut pertumbuhan laba ditopang disiplin pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan optimalisasi portofolio investasi.
Proyek strategis terus menguatkan posisi usaha
Di sisi operasional, posisi Hutama Karya ditopang oleh keterlibatan dalam sejumlah proyek strategis nasional. Jalan Tol Trans Sumatera atau JTTS kini telah membentang sekitar 1.042 kilometer dan masih terus diperluas untuk memperkuat konektivitas antardaerah.
Perusahaan juga terlibat dalam penyelesaian berbagai proyek penting di Ibu Kota Nusantara, bendungan, dan sistem penyediaan air minum. Selain itu, portofolio melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha, termasuk Jalan Trans Papua, ikut memperluas peran Hutama Karya dalam pembangunan konektivitas nasional.
Posisi di kawasan dan agenda transformasi nasional
Di tingkat nasional, Hutama Karya menempati peringkat ke-16 di antara seluruh BUMN dan peringkat ke-40 dari seluruh perusahaan Indonesia lintas industri. Hasil ini memperlihatkan bahwa perusahaan masih punya ruang saing yang kuat di tengah kompetisi bisnis yang semakin padat.
Forum eksklusif yang mengiringi penghargaan itu mempertemukan 40–50 CEO dan CXO perusahaan unggulan Indonesia, dengan penyelenggaraan oleh Fortune bersama Danantara Indonesia. Sertifikat penghargaan diserahkan oleh Asia CEO Fortune, Khoon Fong Ang, bersama Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief.
Dengan kepemilikan penuh oleh Pemerintah Republik Indonesia dan berada dalam ekosistem Danantara, Hutama Karya diposisikan untuk mendukung transformasi ekonomi nasional. Perusahaan juga disebut sejalan dengan visi sebagai Leading Sustainable Construction Enterprise and Infrastructure Developer dalam mendukung Asta Cita Pemerintah.
Eka Setya Adrianto menyebut konsistensi tiga tahun berturut-turut di Fortune Southeast Asia 500 sebagai bukti bahwa transformasi perusahaan bersifat struktural. Ia menegaskan komitmen untuk menjaga standar itu agar tetap memberi nilai berkelanjutan bagi negara melalui penguatan infrastruktur hijau, industrialisasi hilir, dan konektivitas ASEAN.
