Aksi jual kembali mendominasi pasar keuangan Indonesia ketika rupiah sempat jatuh ke Rp18.110 per dolar AS dan IHSG dibuka merosot 3,23% ke level 5.413. Pergerakan serempak ini menunjukkan investor masih memilih berhati-hati meski otoritas moneter dan fiskal sudah memberi sinyal koordinasi yang lebih kuat.
Di pasar saham, tekanan tampak cukup dalam sejak awal perdagangan. Data RTI Business menunjukkan IHSG sempat bergerak di level tertinggi harian 5.490, lalu turun hingga menyentuh 5.370 saat aksi jual terus menekan.
Sebanyak 532 saham melemah, sementara hanya 53 saham yang menguat dan 114 saham tidak bergerak. Komposisi itu memperlihatkan sentimen negatif masih lebih dominan dibanding minat beli yang mampu menahan pelemahan indeks.
Di pasar valas, rupiah juga tidak lepas dari tekanan. Mata uang Garuda tercatat melemah 104 poin atau 0,58% dibanding penutupan sebelumnya, menandakan pelemahan belum mereda meski pemerintah dan Bank Indonesia sudah menegaskan komitmen menjaga stabilitas.
Posisi Rp18.110 per dolar AS menjadi titik yang cukup sensitif bagi pelaku pasar. Angka itu dibaca sebagai sinyal bahwa investor masih menunggu bukti nyata dari kebijakan yang dijanjikan, bukan sekadar pernyataan koordinasi.
Pasar menunggu hasil, bukan hanya sinyal
Keraguan pasar muncul karena fokus utama investor masih tertuju pada dampak langsung dari langkah yang diambil. Arus modal global yang sensitif terhadap arah suku bunga juga ikut memperberat tekanan, terutama ketika pelaku pasar menimbang apakah aset rupiah masih cukup menarik.
Perry Warjiyo sebelumnya menyebut ada dua langkah utama untuk memperkuat stabilitas. Langkah itu mencakup peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik agar investor asing kembali masuk ke saham, SBN, dan SRBI, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.
Ia juga menyoroti kenaikan suku bunga global yang telah mendorong arus modal keluar dari berbagai instrumen investasi di Indonesia. Karena itu, fiskal dan moneter dinilai perlu sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil agar aliran dana masuk kembali besar dan mendukung stabilitas rupiah.
Imbal hasil tinggi belum otomatis mengubah sentimen
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kebijakan baru itu lebih tepat dibaca sebagai upaya menahan pelemahan rupiah. Menurut dia, strategi tersebut belum otomatis menjamin penguatan yang berkelanjutan.
Josua mengatakan kenaikan imbal hasil aset rupiah memang dapat menarik dana asing kembali ke SBN dan SRBI. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Ia menjelaskan bahwa bila pemodal masih melihat risiko kebijakan domestik tinggi, imbal hasil yang lebih besar hanya akan dipandang sebagai kompensasi risiko. Dalam situasi seperti itu, kenaikan imbal hasil belum cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Pandangan tersebut menjelaskan mengapa koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter dan fiskal belum langsung mengubah arah perdagangan. Pasar tampaknya masih meminta kepastian yang lebih kuat sebelum kembali masuk agresif ke aset rupiah.
Likuiditas, disiplin, dan faktor penentu berikutnya
Selain soal imbal hasil, kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan juga ikut menjadi sorotan. Josua menilai tekanan terhadap rupiah sering membesar saat pelaku pasar berebut likuiditas dan perbankan menjadi lebih hati-hati dalam menyalurkan dana.
Likuiditas yang memadai dapat menjaga fungsi pasar uang, mendukung kredit, dan memperkuat operasi moneter BI. Tetapi kebijakan itu tetap harus seimbang, karena likuiditas yang terlalu ketat dapat menekan ekonomi riil, sedangkan likuiditas yang terlalu longgar saat rupiah melemah bisa mendorong permintaan valas.
Pada akhirnya, penguatan rupiah yang lebih tahan lama masih bergantung pada faktor yang lebih mendasar. Disiplin APBN, arah kebijakan ekonomi yang jelas, redanya tekanan global, harga minyak yang terkendali, cadangan devisa yang kuat, dan persepsi investor yang membaik tetap menjadi syarat penting agar pasar kembali percaya.
Source: www.suara.com






