Gerakan Perempuan Berdaya Berdampak Nyata menjadi titik penting yang menegaskan arah langkah Ima Yustianingsih setelah dikenal lewat dunia pageant. Lewat gerakan ini, perempuan asal Trenggalek itu menghubungkan pengalaman panggung dengan kerja sosial yang menyasar edukasi, motivasi, dan aksi nyata bagi perempuan muda.
Fokus utamanya tidak berhenti pada simbol kemenangan, melainkan pada upaya membentuk keberanian dan kemandirian di kalangan pelajar serta masyarakat luas. Ima melihat bahwa perempuan muda perlu ruang yang mendorong mereka berani tampil, belajar, dan berkembang tanpa kehilangan pijakan pada pendidikan.
Pendidikan sebagai dasar kepercayaan diri
Sebagai mahasiswi S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ima menempatkan pendidikan sebagai fondasi yang membentuk karakter. Baginya, pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga cara seseorang mengenali potensi diri dan menentukan peran di lingkungan sekitar.
Pandangan itu sejalan dengan cara ia membangun komunikasi di ruang digital. Akun Instagram @imayustia85 menjadi salah satu kanal yang digunakan untuk berbagi keseharian sekaligus menyampaikan pesan positif kepada generasi muda.
Dari panggung pageant ke ruang pengabdian
Jejak Ima di ajang pageant dimulai saat ia menyandang gelar Winner Putri Hijab Indonesia Jawa Timur 2025. Pencapaian tersebut kemudian membuka jalan baginya untuk masuk ke jajaran Top 25 Putri Hijabfluencer Indonesia.
Selain itu, Ima juga dipercaya sebagai Brand Ambassador Zaneva Hijab dan terpilih sebagai Mahasiswi Pilihan Rabbani 2025. Rangkaian prestasi itu menunjukkan bahwa kehadirannya tidak hanya bertumpu pada penampilan, tetapi juga pada nilai, komunikasi, dan konsistensi.
Bagi Ima, gelar yang diraih bukan tujuan akhir. Posisi itu justru menjadi amanah untuk membawa dampak yang lebih luas, terutama bagi perempuan muda yang masih mencari ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Program yang menyentuh sekolah dan komunitas
Dari dasar itu, gerakan yang ia usung diarahkan pada kegiatan yang lebih konkret. Salah satu program yang dijalankan adalah PHJT Goes to School, yaitu agenda turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberi penguatan karakter.
Dalam kegiatan tersebut, Ima juga menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum dan membangun citra diri. Dua hal itu dipandang sebagai bekal penting agar generasi muda lebih siap menghadapi tantangan di lingkungan sosial maupun pendidikan.
Gerakan ini juga tidak dibatasi pada penyampaian materi. Bakti sosial dan kolaborasi dengan berbagai komunitas menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat agar pesan yang dibawa tidak berhenti di ruang acara semata.
Personal branding dan keberanian perempuan muda
Ima menilai sosialisasi mengenai personal branding perlu dikenalkan sejak dini kepada perempuan muda. Pemahaman ini dinilai dapat membantu mereka lebih percaya diri, lebih siap memimpin, serta lebih mandiri secara mental maupun ekonomi.
Di titik ini, keberadaannya di ruang publik memiliki makna yang lebih besar dari sekadar membangun citra pribadi. Pengalaman di panggung kemudian dihubungkan dengan kebutuhan sosial yang nyata, terutama bagi kelompok muda yang tengah mencari arah tumbuh.
Media sosial turut menjadi alat penting untuk memperkuat pesan tersebut. Kehadiran di ruang digital membuat gagasan yang dibawa dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan tetap konsisten.
Tantangan yang masih membayangi
Di balik peluang yang terbuka, jalan yang ditempuh Ima tetap menghadapi hambatan. Stigma negatif masih muncul di sejumlah lapisan masyarakat, sementara sebagian perempuan muda belum memiliki rasa percaya diri yang cukup kuat.
Ia juga menyoroti keterbatasan akses edukasi di daerah sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Karena itu, keberlanjutan menjadi penting agar advokasi yang dibangun tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Dukungan dari orang tua, pemerintah daerah, dan rekan komunitas menjadi energi tambahan bagi langkahnya. Dengan dukungan tersebut, Ima berharap semakin banyak perempuan berani bermimpi, berani belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Source: timesindonesia.co.id