Tradisi yang sudah berlangsung sejak final Piala Dunia 1982 kini berada di titik rawan. Jika Timnas Prancis gagal menembus partai puncak Piala Dunia 2026, rantai kehadiran wakil Inter Milan dan Bayern Munchen di final akan terputus setelah 44 tahun.
Situasi itu membuat laga semifinal Prancis melawan Spanyol menjadi sorotan utama. Prancis membawa Marcus Thuram dari Inter Milan serta Dayot Upamecano dan Michael Olise dari Bayern Munchen, sehingga hasil pertandingan mereka akan sangat menentukan nasib catatan unik tersebut.
Prancis memegang kunci paling besar
Di bagan semifinal, Prancis menjadi tim yang paling menentukan karena lawan mereka, Spanyol, tidak memiliki pemain dari Inter Milan maupun Bayern Munchen. Dengan kondisi itu, jika Les Bleus kalah, final sudah dipastikan tidak akan melibatkan wakil dari dua klub tersebut lewat jalur Prancis.
Menurut catatan bola.bisnis.com, skenario dari sisi lain bagan juga tidak kalah rumit. Inggris hanya memiliki Harry Kane dari Bayern Munchen saat menghadapi Argentina, sementara Argentina mengandalkan Lautaro Martínez dari Inter Milan.
Artinya, hasil semifinal bawah juga berpotensi menutup salah satu jalur tradisi itu. Jika final mempertemukan Spanyol dengan Inggris, tidak ada perwakilan Inter Milan, sedangkan jika Spanyol bertemu Argentina, Bayern Munchen tak kebagian wakil di partai puncak.
Jejak tradisi sejak 1982
Rantai ini bermula pada final Piala Dunia 1982 ketika Jerman Barat menghadapi Italia. Saat itu, Inter Milan diwakili Giuseppe Bergomi, Gabriele Oriali, dan Alessandro Altobelli dari kubu Italia, sedangkan Bayern Munchen punya Karl-Heinz Rummenigge, Paul Breitner, dan Wolfgang Dremmler di Timnas Jerman Barat.
Pola serupa berlanjut pada final 1986. Karl-Heinz Rummenigge kala itu sudah berseragam Inter Milan saat Jerman Barat bertemu Argentina, sementara Bayern Munchen diwakili Lothar Matthäus, Dieter Hoeness, dan Norbert Eder.
Tradisi tersebut terus hidup di banyak edisi berikutnya, termasuk final Piala Dunia 2022. Pada laga itu, Inter Milan diwakili Lautaro Martínez dari Argentina, sedangkan Bayern Munchen menyumbang Dayot Upamecano, Benjamin Pavard, dan Kingsley Coman yang semuanya tampil untuk Prancis.
| Tahun | Pemain Inter Milan | Pemain Bayern Munchen |
|---|---|---|
| 1982 | Giuseppe Bergomi, Gabriele Oriali, Alessandro Altobelli (Italia) | Karl-Heinz Rummenigge, Paul Breitner, Wolfgang Dremmler (Jerman Barat) |
| 1986 | Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat) | Lothar Matthäus, Dieter Hoeneß, Norbert Eder (Jerman Barat) |
| 1990 | Lothar Matthäus, Andreas Brehme, Jürgen Klinsmann (Jerman Barat) | Klaus Augenthaler, Jürgen Kohler, Stefan Reuter (Jerman Barat) |
| 1994 | Nicola Berti (Italia) | Jorginho (Brasil) |
| 1998 | Ronaldo (Brasil), Youri Djorkaeff (Prancis) | Bixente Lizarazu (Prancis) |
| 2002 | Ronaldo (Brasil) | Oliver Kahn, Thomas Linke, Jens Jeremies (Jerman) |
| 2006 | Marco Materazzi (Italia) | Willy Sagnol (Prancis) |
| 2010 | Wesley Sneijder (Belanda) | Arjen Robben, Mark van Bommel, Edson Braafheid (Belanda) |
| 2014 | Rodrigo Palacio (Argentina) | Manuel Neuer, Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger, Thomas Müller, Toni Kroos, Jérôme Boateng, Mario Götze (Jerman) |
| 2018 | Ivan Perišić, Marcelo Brozović (Kroasia) | Corentin Tolisso (Prancis) |
| 2022 | Lautaro Martínez (Argentina) | Dayot Upamecano, Benjamin Pavard, Kingsley Coman (Prancis) |
Daftar final yang menunjukkan pola panjang
Jika menilik rentang waktunya, pola itu bertahan lintas generasi dan lintas negara. Nama-nama yang muncul di final bukan hanya berasal dari Italia dan Jerman, tetapi juga Brasil, Prancis, Belanda, Argentina, dan Kroasia.
Keberadaan pemain dari Inter Milan dan Bayern Munchen di final Piala Dunia selama 44 tahun mencerminkan konsistensi dua klub besar Eropa itu dalam melahirkan atau menampung pemain kelas atas. Namun, edisi 2026 kini menempatkan Prancis sebagai penentu apakah tradisi itu tetap berlanjut atau berakhir di semifinal.
