Indonesia Dibawa Ke Venesia Lewat Hikayat Perahu, Tafsir Baru Syair Perahu Di Panggung Dunia

Author: Redaksi Android62

Kehadiran Hikayat Perahu di Biennale Teatro Venezia menempatkan Indonesia dalam percakapan teater internasional dengan cara yang berbeda. Karya ini tidak hanya membawa sastra Melayu klasik ke panggung dunia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana warisan lama bisa dibaca ulang untuk penonton masa kini.

Pertunjukan ini berangkat dari Syair Perahu karya Hamzah Fansuri dan diolah menjadi teater multidisipliner. Di atas panggung, musik, tari, visual, dan akting dipadukan agar teks abad ke-16 itu tampil dalam bentuk yang lebih segar tanpa kehilangan akar budayanya.

Di bawah arahan Sri Qadariatin, Hikayat Perahu disusun bukan sekadar untuk menghidupkan cerita lama. Tim kreatif memilih pendekatan yang menonjolkan nilai filosofis dari teks klasik tersebut agar tetap terasa relevan dalam konteks sekarang.

Penguatan visual juga menjadi bagian penting dari produksi ini. Melissa Sunjaya terlibat sebagai desainer visual, sehingga elemen panggung dapat menjembatani warisan tradisi dengan estetika kontemporer.

Sumber utama pertunjukan ini adalah Syair Perahu yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World pada 2025. Dari pengakuan itu, produksi ini bergerak sebagai upaya menjaga identitas asal sekaligus membuka ruang tafsir baru atas sastra Melayu klasik.

Bumi Purnati Indonesia turut melibatkan aktor dari Sumatera Barat dan pemusik Aceh dalam produksi tersebut. Keterlibatan lintas daerah ini dipakai untuk menelusuri kembali jejak kebudayaan Melayu sebagai salah satu akar besar Indonesia.

Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, menilai Indonesia memiliki kekhasan dalam seni tari, musik, teater, dan bela diri silat. Menurutnya, kekhasan itu layak diposisikan sebagai ekspresi budaya yang tidak mudah ditemukan dalam bentuk serupa di tempat lain.

Restu juga melihat kehadiran Hikayat Perahu sebagai penanda penting bagi posisi Indonesia di panggung teater global. Ia menilai kawasan Asia Tenggara masih belum banyak terisi dalam lanskap teater dunia, yang selama ini kerap didominasi budaya populer dari China, Jepang, dan Korea Selatan.

Dalam konteks itu, tema Alter-Native yang diusung festival tahun ini memberi ruang yang sesuai bagi karya seperti Hikayat Perahu. Indonesia hadir dengan karya yang berakar pada warisan lokal, tetapi disusun untuk menjangkau panggung internasional.

Restu mengaku terkejut saat pihak Biennale secara aktif mengundang Indonesia. Proses pengajuan proposal disebut berlangsung sangat cepat, bahkan hanya memiliki waktu 24 jam untuk menyiapkannya.

Dengan dasar Syair Perahu, pendekatan multidisipliner, dan keterlibatan unsur budaya dari berbagai daerah, Hikayat Perahu tampil sebagai pertemuan lintas tradisi dalam satu produksi. Di Venesia, karya ini membawa sastra Melayu klasik ke ruang baru tanpa melepaskan identitas yang melahirkannya.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru