Realisasi investasi Jawa Tengah pada triwulan I tahun 2026 mencapai Rp23,02 triliun dengan serapan sekitar 92 ribu tenaga kerja. Angka itu memperkuat sinyal bahwa provinsi ini masih menjadi tujuan modal yang menarik di tengah tekanan fiskal dan geopolitik global.
Di Kota Semarang, sinyal tersebut terlihat lewat pembukaan 23 Semarang Shopping Center yang digabung dengan groundbreaking Hyatt Place Semarang. Dua proyek ini dibaca sebagai bukti bahwa kepercayaan investor terhadap Jawa Tengah tetap terjaga.
Dorongan dari iklim usaha yang kondusif
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa iklim investasi di Jawa Tengah masih kondusif. Ia menyebut kemudahan perizinan, keamanan wilayah yang terjaga, tenaga kerja berkualitas, serta keberadaan kawasan industri strategis sebagai faktor utama.
Kawasan industri itu tersebar di Semarang, Kendal, Batang, Demak, dan sejumlah daerah lain. Kombinasi tersebut membuat Jawa Tengah dinilai tetap aman dan menjanjikan bagi investasi baru.
Sepanjang tahun 2025, capaian investasi di provinsi ini juga menembus Rp110 triliun. Capaian itu menjadi landasan kuat bagi pemerintah daerah untuk terus mendorong masuknya proyek-proyek baru.
Kawasan Marina disiapkan jadi pusat aktivitas baru
23 Semarang Shopping Center hadir sebagai kolaborasi PARADISE INDONESIA dan BINUS. Kawasan ini tidak hanya diposisikan sebagai pusat belanja, tetapi juga sebagai destinasi terpadu yang memadukan ritel, kuliner, hiburan, dan ruang publik terbuka.
President Director & CEO PARADISE INDONESIA, Anthony P. Susilo, menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. BINUS menempatkan kolaborasi tersebut sebagai upaya menghadirkan kawasan yang punya nilai ekonomi sekaligus dampak sosial bagi kualitas hidup masyarakat.
Kehadiran pusat perbelanjaan itu diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Marina pun diperkirakan tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang mendorong mobilitas masyarakat dan memperkuat ekosistem bisnis Kota Semarang.
Ekonomi hijau menjadi pembeda utama
Salah satu ciri paling menonjol dari proyek ini adalah penggunaan energi terbarukan. 23 Semarang Shopping Center memakai panel surya berkapasitas hingga 1,86 MWp di atap dan kanopi.
Proyeksi produksinya mencapai lebih dari 2,6 juta kWh energi bersih pada tahun pertama operasional. Porsi energi bersih itu diperkirakan sekitar 23,5 persen dari total kebutuhan energi kawasan.
Desain kawasan juga memasukkan konsep urban garden dan ruang terbuka hijau. Langkah itu sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mendorong investasi berbasis energi terbarukan dan ekonomi hijau.
Luthfi bahkan menyebut adanya insentif pajak untuk investasi yang menggunakan energi terbarukan. Kebijakan tersebut diposisikan sebagai penopang agar pertumbuhan ekonomi tetap bergerak tanpa meninggalkan aspek keberlanjutan.
Ruang untuk UMKM lokal
Dari sisi ekonomi kerakyatan, kawasan ini memberi ruang besar bagi pelaku usaha lokal. Lebih dari 50 tenant UMKM dan merek lokal masuk ke dalam ekosistem pusat belanja tersebut.
Selain area usaha permanen, tersedia pula ruang bazar dan pameran untuk mempromosikan produk unggulan Jawa Tengah. Kehadiran ruang itu membuat 23 Semarang Shopping Center tidak hanya menjadi proyek properti, tetapi juga kanal promosi bagi pelaku usaha daerah.
Perpaduan lifestyle modern, dukungan terhadap UMKM, teknologi energi terbarukan, dan pengembangan kawasan terpadu membuat proyek ini diproyeksikan menjadi ikon urban baru. Semarang pun kian menegaskan posisinya sebagai kota investasi yang maju, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional.
