Iran Dibidik Jadi Pasar Baru, Trump Pasang Petani AS di Tengah Negosiasi Aset Beku

Author: Redaksi Android62

Rencana Donald Trump untuk mengarahkan sebagian aset Iran yang dibekukan ke pembelian produk pertanian Amerika memunculkan manuver dagang yang tidak biasa. Skema itu menempatkan gandum, kedelai, dan jagung sebagai komoditas utama yang ingin dijual Washington ke Teheran.

Di Gedung Putih, Trump menyebut Iran sedang menghadapi kesulitan pangan dan menegaskan dana yang dilepas akan dibelanjakan untuk produk pertanian Amerika Serikat. Ia menggambarkan langkah itu sebagai jalan untuk membuka pasar baru bagi petani AS sekaligus membantu Iran memenuhi kebutuhan makanannya.

Aset Iran Jadi Titik Tawar

Pemerintah AS tidak ingin dana Iran dibagikan tanpa arah. Washington mendorong agar uang itu dipakai untuk membeli makanan dan pasokan medis dari Amerika Serikat, bukan dikelola bebas tanpa pengaruh dari pihak AS.

Trump bahkan menyebut proses itu akan dimulai segera dan memiliki skala yang cukup besar. Dalam pernyataannya, ia mengatakan, “Kami akan menghadapi pasar baru, dan itu disebut negara Iran yang indah.”

Wakil Presiden AS JD Vance ikut memberi dukungan dengan nada serupa. Ia mengatakan dana itu akan membuat petani Amerika lebih kaya sekaligus memberi makan rakyat Iran.

Teheran Menolak Pembatasan

Namun, dari pihak Iran, sinyal yang muncul berbeda. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan aset yang dicairkan harus tetap berada di bawah kendali penuh Iran.

Baghaei mengatakan Iran bebas menggunakan dana tersebut untuk membeli barang apa pun yang dibutuhkan negara. Ia menambahkan bahwa jika Iran memilih produk pertanian, keputusan itu akan ditentukan oleh harga dan kualitas, bukan oleh syarat dari Washington.

Duta Besar Iran untuk Jenewa, Ali Bahreini, juga menolak pembatasan dari Amerika Serikat. Ia menegaskan Iran adalah satu-satunya pihak yang berhak menentukan penggunaan aset tersebut.

Petani AS dan Hitung-hitungan Politik Dalam Negeri

Sejumlah analis melihat gagasan ini bukan semata soal perdagangan, melainkan juga soal politik dalam negeri Trump. Mohammad Reza Farzanegan dari Philipps-Universitat Marburg menilai Trump ingin mendorong Iran membeli produk Amerika karena petani AS, terutama eksportir kedelai, terdampak perang dagang dengan China.

Farzanegan menilai skema seperti itu dapat dijual sebagai perdagangan kemanusiaan. Menurut dia, cara ini juga bisa memperkuat dukungan politik Trump di dalam negeri, khususnya dari kalangan petani.

Peneliti senior Peterson Institute, Cullen Hendrix, melihat ada keuntungan diplomatik bagi Washington. Dengan mekanisme itu, AS tidak terlihat menyerahkan dana langsung kepada Iran.

Perdagangan yang Masih Sempit

Meski pembicaraan diplomatik terus berjalan, hubungan ekonomi AS dan Iran tetap terbatas. Data Pemerintah AS menunjukkan total perdagangan barang dan jasa kedua negara mencapai US$ 838 juta pada 2024.

Dari jumlah itu, sekitar US$ 742 juta berasal dari sektor jasa. Hampir US$ 600 juta di antaranya merupakan aliran perdagangan dari AS ke Iran, sementara transaksi barang masih didominasi ekspor produk Amerika ke Iran.

Selama puluhan tahun, perdagangan bilateral ini lebih banyak berisi barang kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan perlengkapan medis. Karena itu, ide pembelian gandum, jagung, dan kedelai dari petani AS masih berada dalam koridor yang sensitif namun dinilai mungkin dilakukan.

Risiko Negosiasi dan Batas Peluang

Gary Hufbauer dari Peterson Institute for International Economics menilai rencana semacam ini akan melewati negosiasi yang panjang dan rumit. Ia mengingatkan bahwa banyak anggota Kongres AS masih menolak kesepakatan dengan Iran.

Hufbauer juga menilai perusahaan multinasional akan tetap berhati-hati karena risiko politik dan kredit masih tinggi. Dalam situasi seperti itu, pembelian produk pertanian AS oleh Iran bisa saja dipromosikan, tetapi pelaksanaannya belum tentu sederhana.

Para analis menilai ruang kerja sama ekonomi yang realistis tetap sempit. Komoditas yang paling mungkin diperdagangkan masih berada di sektor pangan, pertanian, obat-obatan, peralatan medis, produk kimia tertentu, dan layanan kesehatan.

Hendrix memperkirakan jika Iran benar-benar membeli dalam jumlah besar, komoditas utama kemungkinan tetap jagung dan kedelai. Farzanegan juga menyebut komoditas lain yang berpotensi diperdagangkan meliputi gandum, bungkil kedelai, beras, dan pakan ternak.

Di sisi lain, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan Iran perlu mengimpor sekitar 22 juta ton sereal pada tahun ini. Kebutuhan itu membuat isu pembelian produk pertanian AS tetap relevan dalam perundingan yang masih berjalan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru