Iran Klaim Selat Hormuz Dipegang Penuh, AS Dinilai Tak Akan Menang Jika Konflik Membesar

Author: Redaksi Android62

Mayor Jenderal Yadollah Javani melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dengan menyebut Washington akan tersungkur jika perang total benar-benar pecah dengan Iran. Ia menegaskan, keunggulan militer AS tidak otomatis menjamin hasil perang, bahkan bila seluruh kekuatan militernya dikerahkan.

Sikap itu sekaligus menunjukkan bahwa IRGC ingin memperlihatkan posisi Iran di tengah ketegangan yang masih memanas. Dalam pandangan Javani, ancaman terhadap Teheran tidak bisa dibaca hanya lewat besarnya persenjataan lawan.

Selat Hormuz jadi titik tekanan utama

Javani menyoroti Selat Hormuz sebagai kawasan paling strategis dalam konflik tersebut. Ia menyatakan jalur itu berada di bawah kendali Iran dan setiap kapal yang ingin melintas dengan aman harus mendapat izin dari angkatan bersenjata Iran.

Ia juga menegaskan bahwa kapal yang dianggap terkait dengan pihak musuh akan ditindak jika mencoba melewati jalur itu. Bagi Teheran, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan penting, melainkan juga alat tekanan dalam menghadapi lawan.

Target strategis AS dan Israel dibantah

Dalam pernyataannya, Javani menolak klaim bahwa AS dan Israel bisa meraih tujuan strategis melalui serangan terhadap Iran. Ia menyebut target yang pernah disampaikan Donald Trump tidak akan terwujud, termasuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan menggulingkan pemerintahan.

Ia juga menyebut sasaran lain yang dinilai tak bakal tercapai, seperti melemahkan kemampuan misil Iran, memecah belah negara, dan menguasai kawasan Asia Barat. Menurutnya, tantangan terbesar Trump justru membuka kembali Selat Hormuz.

Konflik, serangan balasan, dan jalur perundingan yang tersendat

Ketegangan AS-Iran dalam perkembangan ini disebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer Iran.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan 100 gelombang serangan selama 40 hari terhadap aset militer AS dan Israel. Serangan balasan tersebut disebut menimbulkan kerusakan signifikan dan memperdalam ketegangan yang sudah tinggi.

Gencatan senjata dua pekan kemudian tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Setelah itu, Iran dan pihak terkait sempat membuka jalan perundingan di Islamabad dengan membawa rencana 10 poin.

Usulan Iran mencakup penarikan pasukan AS dan pencabutan sanksi. Namun setelah 21 jam pembicaraan intens pada 11–12 April, delegasi Iran pulang ke Teheran tanpa kesepakatan.

Iran menyatakan masih ada ketidakpercayaan terhadap komitmen AS. Teheran juga menegaskan kelanjutan negosiasi bergantung pada pencabutan blokade laut oleh Washington yang dianggap melanggar kesepakatan.

Pernyataan Javani memperlihatkan bahwa tekanan militer dan diplomasi masih berjalan dalam satu arena yang sama. Selama perundingan belum menghasilkan terobosan dan ketegangan di laut belum mereda, hubungan AS dan Iran tetap berada di jalur yang sangat berisiko.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru