Tekanan terhadap rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore, 4/5/2026, tidak datang dari satu pemicu tunggal. Mata uang itu melemah 0,16 persen ke Rp17.380 per US$, sekaligus menjadi yang terlemah di Asia pada sesi tersebut karena pasar semakin waspada terhadap tanda-tanda perlambatan ekonomi domestik.
Kekhawatiran itu menguat justru ketika data perdagangan masih menunjukkan surplus. Namun, surplus yang ada dinilai belum cukup menahan sentimen negatif yang datang dari sektor riil, terutama setelah industri manufaktur kembali masuk zona kontraksi.
Manufaktur kembali memberi sinyal melemah
Indeks Manufaktur PMI Indonesia versi S&P Global turun ke 49,1 pada April 2026. Posisi ini menandakan sektor industri kembali menyusut setelah sempat ekspansi pada Maret, sehingga pasar membaca ada pelemahan yang mulai terasa di aktivitas produksi.
Komponen output dalam indeks itu juga turun ke 46,2. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2025 dan menunjukkan tekanan yang semakin dalam pada produksi manufaktur di dalam negeri.
Pelemahan output mencerminkan turunnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun eksternal. Jika kondisi seperti ini bertahan, penyesuaian pada kapasitas produksi dan tenaga kerja dapat ikut terjadi.
Surplus dagang masih ada, tetapi menyusut
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik mencatat surplus neraca perdagangan April sebesar US$3,32 miliar. Meski masih positif, angka ini lebih kecil dibanding surplus bulan sebelumnya yang mencapai US$4,33 miliar.
Penyusutan surplus terutama dipicu defisit sektor migas sebesar US$1,89 miliar. Beban impor minyak mentah dan gas menjadi penekan utama yang membuat bantalan dari perdagangan tidak sekuat sebelumnya.
Dalam periode Januari hingga Maret 2026, neraca perdagangan barang masih mencatat surplus total US$5,55 miliar. Kinerja itu ditopang surplus komoditas non-migas sebesar US$10,63 miliar, tetapi defisit migas kumulatif mencapai US$5,08 miliar.
Pasar menunggu data pertumbuhan ekonomi
Pelaku pasar kini juga menyoroti rilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang dijadwalkan dipaparkan BPS pada Selasa, 5/5/2026. Konsensus pasar memperkirakan ekonomi masih tumbuh 5,3 persen, sehingga angka tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah sentimen berikutnya.
Perhatian terhadap data itu meningkat karena harga minyak mentah dunia masih tinggi. Kondisi eksternal ini menambah beban pada rupiah, terutama ketika pasar juga melihat tanda pelemahan pada sektor industri dalam negeri.
Dalam situasi seperti ini, surplus perdagangan yang masih bertahan belum dianggap cukup kuat untuk menutup risiko dari kontraksi manufaktur dan tekanan migas. Karena itu, rupiah menjadi lebih sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi lanjutan.
Sentimen pasar tetap hati-hati
Gabungan antara surplus yang menurun, defisit migas yang membesar, dan manufaktur yang kembali tertekan membuat pelaku pasar bergerak lebih berhati-hati. Rupiah akhirnya kehilangan tenaga ketika pasar menimbang seluruh sinyal tersebut secara bersamaan.
Selama tekanan pada migas dan manufaktur belum mereda, arah rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi sektor riil dan hasil pertumbuhan ekonomi yang segera diumumkan. Situasi itu menjaga kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan pelemahan lanjutan.
