Penolakan Iran menjadi penghalang utama bagi setiap skema yang ingin memindahkan cadangan uranium yang diperkaya ke luar negeri. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan Teheran tidak akan menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada negara ketiga maupun pihak perantara.
Sikap itu langsung menutup ruang bagi gagasan penyimpanan cadangan nuklir di luar Iran, meski opsi tersebut sempat dipandang sebagai jalan tengah dalam diplomasi nuklir. Dalam pembahasan yang turut melibatkan cadangan uranium hingga tingkat pengayaan 60% ke China, Teheran tetap menjaga kendali penuh atas material nuklirnya.
Di sisi lain, Kazakhstan justru membuka pintu untuk memainkan peran sebagai lokasi penyimpanan. Negara itu menyatakan kesiapan menampung cadangan uranium yang diperkaya milik Iran apabila Washington dan Teheran mencapai kesepakatan mengenai program nuklir.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional atau IAEA, Rafael Grossi, menyebut Kazakhstan telah membuka kemungkinan tersebut. Menurut Financial Times, stok yang dimaksud berada pada tingkat pengayaan yang mendekati kebutuhan untuk pembuatan senjata nuklir.
Grossi menilai sikap terbuka Kazakhstan dapat menjadi salah satu jalan tengah dalam proses negosiasi. Penempatan cadangan uranium di luar Iran memang pernah dibicarakan sebagai cara teknis untuk membantu membangun kepercayaan di tengah ketegangan yang terus berlangsung.
Namun, skema itu tidak bisa berjalan sepihak. Setiap transfer atau penyimpanan cadangan uranium harus mendapat persetujuan semua pihak utama agar aman secara politik dan diplomatik.
Inilah yang membuat wacana tersebut masih rapuh. Kazakhstan sudah menyatakan kesediaan, IAEA melihat peluangnya, tetapi penolakan Iran tetap menjadi faktor penentu yang paling berat.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa sengketa nuklir Iran belum bergerak menuju penyelesaian yang dekat. Selama belum ada kesepakatan bersama, gagasan menyimpan uranium di negara ketiga akan tetap bergantung pada negosiasi yang sensitif dan mudah tersendat.
Situasi tersebut juga menegaskan pentingnya peran mediator dalam pembicaraan nuklir. Jalur diplomasi masih terbuka, tetapi setiap langkah baru akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh pihak-pihak terkait bersedia menerima kompromi.
Source: www.beritasatu.com






