Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menunjukkan sikap keras terhadap tekanan yang datang dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam pernyataannya di markas besar Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran di Teheran, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dalam kondisi apa pun.
Pernyataan itu muncul saat ketegangan kawasan masih tinggi setelah serangan yang disebut menyasar fasilitas sipil di Iran. Pezeshkian menilai serangan ke sekolah dan pusat kesehatan sebagai tindakan yang melampaui batas kemanusiaan dan bertentangan dengan prinsip hukum humaniter internasional.
Kritik atas Serangan ke Fasilitas Sipil
Pezeshkian menyoroti bahwa serangan terhadap lokasi sipil tidak bisa dipandang sebagai bagian wajar dari operasi militer. Ia menekankan bahwa dunia tidak boleh diam ketika sekolah dan fasilitas kesehatan ikut menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
Dalam pandangan Teheran, tindakan semacam itu bukan hanya persoalan keamanan. Serangan tersebut juga diposisikan sebagai pelanggaran moral yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap batas-batas kemanusiaan dalam perang.
Pesan keras untuk Washington dan Tel Aviv
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menolak anggapan bahwa Iran dapat dipaksa tunduk melalui tekanan singkat. Ia menyebut tidak ada kekuatan yang mampu memaksa negaranya menyerah, sekaligus memberi sinyal bahwa pemerintah Iran tetap memilih perlawanan.
Sikap itu memperlihatkan garis tegas Teheran dalam menghadapi tekanan eksternal. Di sisi lain, pernyataan tersebut juga menjadi pesan politik kepada publik dalam negeri bahwa Iran tidak berada dalam posisi melunak.
Rangkaian ketegangan yang belum mereda
Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memang sudah lama diwarnai friksi. Perselisihan keduanya tidak hanya soal keamanan, tetapi juga mencakup program nuklir, pengaruh regional, dan stabilitas Timur Tengah.
Rangkaian peristiwa yang disebut memicu eskalasi terbaru dapat dilihat sebagai berikut:
- Gencatan senjata dua pekan diumumkan pada 8 April.
- Langkah itu menyusul perundingan damai Iran dan delegasi AS di Islamabad.
- Perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
- AS kemudian memberlakukan blokade di Selat Hormuz.
- Iran merespons dengan pernyataan keras dari Pezeshkian.
Urutan tersebut menunjukkan bahwa peluang dialog masih terbuka, tetapi hasilnya belum cukup untuk meredakan ketegangan secara nyata. Situasi pun tetap rapuh karena belum ada titik temu yang dapat diterima kedua pihak.
Selat Hormuz tetap jadi kartu strategis
Pezeshkian juga menanggapi blokade AS di Selat Hormuz dengan nada tenang. Ia menyebut langkah itu justru akan menjadi masalah bagi Washington, bukan bagi Iran.
Selat Hormuz adalah jalur penting bagi pengiriman minyak dunia. Karena itu, setiap ancaman atau pembatasan di kawasan tersebut langsung menarik perhatian pasar global dan memunculkan kekhawatiran terhadap kestabilan pasokan energi internasional.
Sorotan atas sikap diam negara lain
Selain menekan AS dan Israel, Pezeshkian juga mengkritik diamnya sebagian negara terhadap tindakan kedua pihak tersebut. Ia menilai pembiaran seperti itu dapat melemahkan hukum internasional dan memberi kesan bahwa pelanggaran bisa dilakukan tanpa konsekuensi.
Pernyataan itu memperkuat posisi Iran yang ingin tampil bukan hanya sebagai pihak yang bertahan, tetapi juga sebagai pihak yang menuntut pertanggungjawaban atas serangan terhadap warga sipil. Dalam kondisi seperti ini, Teheran tampak berupaya menjaga narasi bahwa tekanan militer maupun politik tidak akan mengubah sikapnya.
