Iran Tegaskan Siap Hadapi Perang Atau Perundingan, Israel Kembali Bombardir Lebanon Selatan

Author: Redaksi Android62

Iran mengirim sinyal bahwa jalur keluar dari krisis dengan Amerika Serikat tidak akan mudah dipisahkan dari ancaman perang. Wakil menteri luar negeri Kazem Gharibabadi mengatakan di Tehran, sebagaimana disiarkan IRIB, bahwa Iran siap menghadapi dua kemungkinan itu demi kepentingan nasional dan keamanannya.

Pernyataan tersebut muncul saat tekanan regional masih membesar dan konflik di Lebanon terus memanas. Di sisi lain, Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon selatan, sehingga gencatan senjata yang masih berlaku secara formal terlihat semakin rapuh di lapangan.

Militer Israel menyebut pada Sabtu bahwa sekitar 70 struktur militer dan sekitar 50 situs infrastruktur Hezbollah di Lebanon selatan telah dihancurkan. Namun, serangkaian serangan juga dilaporkan oleh kantor berita negara Lebanon, yang menggambarkan operasi Israel di wilayah itu semakin rutin meski gencatan senjata 17 April dalam perang Israel-Hezbollah masih berjalan di atas kertas.

Kerusakan yang ditimbulkan serangan itu tidak berhenti pada sasaran militer. Sebuah badan amal Katolik mengecam tindakan yang disebut sebagai perusakan disengaja terhadap tempat ibadah setelah sebuah biara di Lebanon rusak akibat pasukan Israel.

Militer Israel mengakui bahwa sebuah bangunan keagamaan rusak oleh pasukan yang beroperasi di desa Yaroun. Pihak militer juga menyebut rumah-rumah di kompleks keagamaan ikut rusak saat operasi untuk menghancurkan infrastruktur teroris berlangsung.

L’Oeuvre d’Orient, badan amal Katolik Prancis, mengatakan pasukan Israel menghancurkan sebuah biara milik Suster-Suster Salvatorian. Kelompok religius itu merupakan ordo Katolik Yunani yang berafiliasi dengan badan amal tersebut.

Di tengah situasi itu, posisi Iran juga mendapat dukungan dari arah lain. China menolak mematuhi sanksi Amerika Serikat terhadap lima perusahaan yang ditarget karena membeli minyak Iran.

Kementerian perdagangan China menyatakan sanksi itu secara tidak layak membatasi atau melarang aktivitas bisnis normal perusahaan-perusahaan tersebut. Sikap Beijing menjadi penting karena China merupakan pembeli utama minyak Iran, sehingga penolakan itu menambah lapisan baru dalam pertarungan ekonomi dan diplomatik.

Ketegangan juga merembet ke Eropa dan NATO. Aliansi itu meminta penjelasan lebih lanjut dari Washington atas keputusan menarik 5.000 tentara dari Jerman, sementara seorang juru bicara NATO mengatakan permintaan informasi tersebut muncul ketika perang Iran memperdalam ketegangan lintas Atlantik.

Keputusan Amerika Serikat itu muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan Iran mempermalukan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam negosiasi. Pernyataan Merz memicu kemarahan Trump, lalu Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menilai penarikan 5.000 tentara Amerika dari Jerman sebenarnya sudah diperkirakan.

Pistorius juga menegaskan bahwa Eropa harus berbuat lebih banyak untuk menjamin keamanannya sendiri. Di saat yang sama, Trump kembali mengeraskan nada lewat komentarnya tentang operasi Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dalam rapat umum di Florida, Trump menggambarkan pasukan itu bertindak seperti bajak laut setelah menyinggung penyitaan sebuah kapal di tengah aksi saling balas berupa blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia mengatakan pasukan Amerika naik ke atas kapal dan mengambil alih kapal itu beserta kargo dan minyaknya.

Trump menyebut tindakan itu sebagai bisnis yang sangat menguntungkan dan menegaskan Amerika tidak sedang bermain-main. Rangkaian pernyataan dan tindakan dari berbagai pihak itu memperlihatkan bagaimana konflik Israel-Hezbollah, tekanan Iran-AS, serta reaksi negara-negara besar kini saling bertaut dalam satu pusaran yang makin sulit dipisahkan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru